Sejak kecil aku ingin sekali masuk pesantren agar bisa belajar agama. Keluargaku bukan keluarga yang agamis, tapi masih menjalankan sholat dan puasa. Hanya saja untuk menjadi Muslim yang taat pada semua hukum syar'i tentu harus lebih banyak lagi mempelajari ilmu keislaman lainnya.

Sejak aku SMA sekitar tahun 90-an, hijab (jilbab) belum sepopuler sekarang. Dulu hanya orang alim saja yang pakai hijab. Itu pun kadang masih belum sempurna.

Ada sebuah panggilan hati. Sejak kecil sangat ingin seperti para Nabi dan Rasul menjalankan perintah Allah, mendakwahkan Islam hingga dunia bisa sesuai hukum Sang Pencipta. Dan Allah memberi kesempatan itu saat SMA.

Teringat ketika SMP ingin ikut pesantren kilat. Susah payah meyakinkan orangtua untuk memberi izin. Orangtua sering khawatir jika ikut kegiatan luar. Mereka selalu memantau pergaulanku.

Awalnya aku merasa terkekang dengan pola seperti itu. Di kemudian hari aku bersyukur, orangtuaku menjaga anak-anaknya dengan sangat baik. Bebas dari pergaulan yg buruk, tidak boleh pacaran, dan harus bersikap sopan serta beradab.

Kembali ke SMA.

Suatu hari ada beberapa teman bisik-bisik. Aku mendengar mereka diam-diam ikut pengajian istri guru fisika di sekolah kami. Aku pun ingin turut serta. Berharap bisa mengkaji Islam lebih dalam, tapi peringkatku tidak tiga besar. Sedih, begitulah yang kurasakan. Asa Allah memberi pertolongan.

Akhirnya kesempatan itu ada, entah mengapa aku bisa ikut. Persyaratan boleh ikut pengajian jika masuk 10 besar. Hatiku gembira.

Cita-cita hidupku untuk mendalami Islam tidak pernah pupus. Aku tidak pernah bercita-cita menjadi dokter atau insinyur tapi ingin mengubah dunia dengan Islam.

Kami berjumlah tiga orang sebagai anggota baru yang bergabung dengan anggota sebelumnya (juara satu,dua, dan tiga). Sejak saat itu kami rutin ikut membaca Al-Quran, membaca terjemahan lalu mempelajari maknanya. Itu hal yang sangat menyenangkan bagiku.

Tahun 99 belum ada google atau HP maupun hijaber. Penampilan guruku membuatku heran; baju gamis besar, kadang pakai rok besar, baju lebar dan kerudung besar. Itu sesuatu yang langka dan aneh pada masa itu.

Lalu seiriring berjalannya waktu, sesuatu yang langka dan aneh itu akhirnya aku kenakan. Allah, menitipkan hidayah-Nya padaku.

Sayangnya, beberapa bulan kemudian aku tidak bisa ikut liqo lagi, karena rumah yang ditempati tidak muat. Tentu saja aku sedih dan kecewa. Saat itu aku bertekad, nanti ketika kuliah aku harus bisa ikut liqo. Sesulit apa pun rintangannya, aku akan tetap mengkaji Islam.

Tahun-tahun pun berlalu, dan akhirnya aku lulus. Perjuanganku belum berhenti sampai di sini. Babak baru dimulai ketika aku menjadi seorang mahasiswi.

Dulunya, aku ingin kuliah jurusan kimia di salah satu kampus negeri, tapi aku gagal dalam ujian. Lalu beralih ke farmasi. Baru satu hari kuliah, orangtua meminta agar aku menjadi seorang guru. Terpaksa, aku banting setir, masuk ke universitas swasta atas usul dari paman sepupu dari pihak ibu. Walau pada kenyataannya aku enggan. Kampus itu terlalu biasa menurutku.

Allah selalu punya cara untuk mempertemukan hamba-hambanya yang beriman. Bertemulah aku dengan beberapa orang yang cukup baik pemahaman Islamnya. Kemudaian aku dikenalkan pada seorang musyrifah sebagai pembimbing. Sejak saat itu, pemahamanku tentang Islam semakin bertambah. Aku semakin mengerti bagaimana seharusnya wanita menutup aurat, serta pakaian apa yang memenuhi syarat syari untuk dikenakan seorang wanita.

Untuk pertama kalinya, di kampus itu ada orang yang memakai gamis dan kerudung lebar, aku dan temanku lah orangnya. Tentu saja ini menimbulkan reaksi, orang-orang heran melihat penampilan kami. Memakai baju seperti karung ditambah kaos kaki, itu sungguh tidak lumrah pada zamanku.

Temanku, di jurusan biologi, aman-mana saja dengan hijabnya, sedangkan aku yang ada di jurusan matematika, harus menelan pil pahit demi masih terjaganya auratku. Semua diawali dengan embusan fitnah dari salah seorang mahasiswa karena group maulidannya tak diminati, mereka kalah saing.

Aku dipanggil seorang dosen?dosen ini sering jadi juri MTQ dan pandai bahasa Arab, aku dites bahasa Arab, tentu saja aku tak bisa apa-apa. Dia mengancamku, jika masih mengenakan gamis dan kerudung lebar, maka akan dikeluarkan dari kampus. Pilihan yang sangat sulit bagiku. Aku menangis, bingung harus bagaimana. Sungguh, ini ujian yang berat.

Seorang dosen agama memanggilku. Beliau juga pembimbing organisasi keagamaan di jurusan matematika. Seakan tahu masalah yang tengah mendera, beliau pun memeberiku nasehat, Jangan takut dengan manusia. Siapa yang menolong agama Allah maka pasti Allah yang menjadi pelindungnya. Aku merasa termotivasi dan percaya diri. Walau kusadari tantangan dakwah semakin bertambah, dari hasutan, fitnah sesat, disebut fundamentalis, di sebut hamil dan lainnya.

Satu persatu ujian berganti. Semakin tinggi pemahaman agama maka semakin tinggi ujian yang menerpa. Kian hari dakwah kian berkembang. Dari dua orang yang berhijab menjadi tiga. Menjadi lima, hingga sekarang ada banyak hijaber di kampusku. Salah seorang dosen IAIN pernah berkunjung ke kampusku, beliau berkata, Kampus ini lebih terasa Islam dari pada di IAIN.

Dulu tidak seperti sekarang, orang-orang yang konsisten berhijab (pakai gamis dan kerudung lebar) itu sudah bisa dipastikan keimanannya. Beda dengan sekarang yang dianggap sekadar tren. Dulu hitam dan putih jelas, tapi sekarang banyak orang yang sekadar melekatkan pakaiannya saja. Perilakunya masih liar dengan lelaki, suka selfi memperlihatkan sesuatu yang seharusnya tidak muncul dipublik, hijab berkibar tapi banyak memotivasi lelaki untuk melecehkan para akhwat yang benar-benar menjaga auratnya.

Sungguh, memakai jilbab seharusnya dibarengi dengan pemahaman Islam yang benar.

Perbaikan diri berawal dari menutup aurat yang bermakna menutup pintu-pintu maksiat lainnya. Mensucikan niat ketika berhijrah dan tidak lagi berperilaku jahiliah. Banyak yang berhijab tapi pergi ke konser, berpacaran, bercanda dengan lelaki non mahram, semua itu tidak totalitas dalam berhijrah.

Semoga kita tetap istiqomah dalam kebaikan, menjaga niat, bersabar dan konsisten, juga memiliki mental yang kuat untuk mengajak orang dalam melakukan kebaikan.

Penutur; Almira Althaf

KOMENTAR