Ibu saya adalah seorang perempuan yang sangat Islami. Beliau hidup di pesantren dan senantiasa menghafal Al-Quran di kamarnya. Sedangkan saya kebalikan dari ibu; jarang salat, tidak betah di pesantren, dan menjadi orang satu-satunya di kelas yang tidak mengenakan jilbab.

Bapak sampai berulang kali meminta doa pada kiyai agar saya bisa berubah, teman-teman saya pun menyemangati dengan cara meledek, "Ja, nggak punya kerudung, yah? Nanti kami bawakan kerudung partai, yah?" Semua ini terjadi saat saya duduk di kelas IX.

Hingga pada suatu masa, Allah membukakan pintu hati saya. Entah mungkin doa orangtua yang mujarab, atau doa dari sang kiyai. Muncullah kesadaran diri ingin seperti ibu. Walau pada mulanya, yang saya kenakan adalah jilbab langsung, itu pun hanya di sekolah dan saat mengaji. Kalau di luar sekolah saya masih pakai celana pendek, baju pendek, masih main bola, sepedaan, dan bergaul dengan laki-laki.

Sosok ibu adalah sosok yang penyabar, beliau menasehati saya agar memakai celana dan baju panjang, meski kerudung masih buka tutup. Walau yang kukenakan masih jauh dari kata syari; rok dan baju ketat. Kala itu saya seringkali diganggu laki-laki, ada yang memegang betis, punggung, dan menggoda tidak jelas.

Ketika masuk SMA ibu menyarankan untuk mengenakan rok dan baju longgar, alhamdulillah, pelan-pelan saya bisa menuruti saran ibu. Saat itu saya sudah pakai jilbab kalau ke luar kampung, tapi di kampung masih suka dibuka.

Sampai fase saya mulai bisa membedakan mana tatapan jahil ataupun sejenisnya, saya pun merasa risih. Hingga memasuki masa kuliah, sedikit demi sedikit saya belajar untuk berpakaian Islami; kerudung agak panjang, baju longgar, rok, dan sesekali gamis, juga memakai manset dan kaos kaki.

Saya juga tak mau lagi bersalaman dengan laki-laki non mahram atau duduk berdekatan. Saya menjadi risih mengobrol dengan kaum adam. Sunnah-sunnah mulai rajin saya amalkan; salat Dhuha, puasa, juga ikut program ODOJ (One Day One Juz).

Perlahan terus menata diri; belajar untuk menjauhi pacaran, istiqomah untuk tak bersentuhan atau berkhalawat, mengenakan kaos kaki ketika ke luar rumah, tapi jika dipersentasikan dalam bentuk angka, saya masih berada di angka 4 hijrah kalau itu hitungan skor 1-10.

Selain ibu yang senantiasa mengingatkan saya, juga ada bapak. Walaupun beliau tak memiliki pemahaman agama yang begitu dalam, tapi selalu menasehati bahwa senakal apa pun laki-laki pasti dia mencari istri yang sholehah. Seperti bapak yang pernah dekat dengan banyak perempuan lalu menikahi perempuan yang bahkan baru sekali berpapasan.

Setelah berjilbab karakter saya berubah total dan teman-teman yang dulu dekat pelan-pelan menjauh. Tak jarang pula saya dikatai; pakai mukena lah, seperti emak-emak lah, atau kadang disebut Mamah Dedeh, saat mengenakan kerudung besar. Bahkan dari pihak keluarga awalnya tak terlalu setuju dengan kerudung besar saya, tapi perlahan mereka pun bisa menerima.

Semoga saya bisa istiqomah dan konsisten menutup aurat juga kepada para akhwat lainnya. Semoga Allah memudahkan perkara orang yang menjaga hijabnya, juga memberi hidayah bagi wanita-wanita yang masih merasa tak berdosa mengumbar lekuk tubuhnya.

Penutur: Siti Bagja Muawwanah

KOMENTAR