By: Wafi Marzuqi Ammar, Lc., M.Pd.I., MA., Ph.D

 

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَطُوفُ الرَّجُلُ فِيهِ بِالصَّدَقَةِ مِنَ الذَّهَبِ، ثُمَّ لَا يَجِدُ أَحَدًا يَأْخُذُهَا مِنْهُ، وَيُرَى الرَّجُلُ الْوَاحِدُ يَتْبَعُهُ أَرْبَعُونَ امْرَأَةً يَلُذْنَ بِهِ، مِنْ قِلَّةِ الرِّجَالِ وَكَثْرَةِ النِّسَاءِ

Dari Abu Musa radhiallahu anhu dari Nabi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Pasti akan datang pada manusia suatu zaman, seorang lelaki berkeliling dengan membawa sadaqah emas, tapi tidak ada seorang pun yang menerimanya. Dan seorang lelaki diikuti 40 orang wanita, semuanya mengikuti dan minta perlindungan padanya. Karena sedikitnya lelaki dan banyaknya kaum wanita.” (Sahih Al-Bukhari, no. 1414)

 

Penjelasan Hadis:

 

Pertama: Hadis ini sahih, karena diriwayatkan imam Al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, para ulama’ sepakat bahwa tiada kitab yang paling suci setelah Al-Qur’an selain Sahih Al-Bukhari.

Kedua: Hadis ini menjadi salah satu indikasi akhir zaman, karena peristiwa yang disebutkan dalam Hadis, belum pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau mengatakan: “Akan datang pada manusia suatu zaman.” Ini menunjukkan kondisi itu adalah hari-hari terakhir dari dunia ini.

Ketiga: Hadis ini menekankan kepada kita untuk segera bersadaqah. Kalau tidak sedekah sekarang, dikhawatirkan datang suatu hari di mana seseorang berkeliling untuk mencari orang yang mau menerima sadaqah emasnya. Bayangkan yang dibawanya adalah emas, bukan pakaian bekas, makanan, atau apapun lainnya. Tapi emas, harta paling mahal yang ada. Jika emas saja tidak diterima padahal pelaku sudah berkeliling, tentu selainnya lebih tidak diterima lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَصَدَّقُوا فَإِنَّهُ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يَمْشِي الرَّجُلُ بِصَدَقَتِهِ فَلَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا يَقُولُ الرَّجُلُ لَوْ جِئْتَ بِهَا بِالْأَمْسِ لَقَبِلْتُهَا فَأَمَّا الْيَوْمَ فَلَا حَاجَةَ لِي بِهَا

“Bersadaqahlah karena akan datang atas kalian suatu masa, dimana seseorang berjalan membawa sadaqahnya tapi tiada menemukan seorang pun yang menerimanya. Seseorang berkata: ‘Jika engkau datang kemarin pasti saya terima. Tapi hari ini saya sudah tidak membutuhkannya’.” (Sahih Al-Bukhari, no. 1411)

Keempat: Keadaan orang yang tidak mendapati penerima sadaqah mempunyai dua kemungkinan. Pertama: Bisa terjadi pada zaman Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Karena pada zamannya tiada orang yang mau menerima sadaqah. Ini sudah berlalu dan menjadi tanda kiamat shughra (kecil). Kedua: Mendekati Kiamat yaitu pada zaman keluarnya imam Mahdi dan zaman Nabi Isa alahissalamturun ke muka bumi. Yaitu setelah binasanya Ya’juj dan Ma’juj, pada zaman itu harta sangat melimpah karena orang-orang sudah tahu akan dekatnya Kiamat.

Kelima: Banyaknya kaum wanita pada akhir zaman. Sampai satu orang lelaki diikuti oleh 40 wanita. Semuanya meminta perlindungan kepadanya karena banyaknya jumlah wanita dan sedikitnya kaum lelaki. Demikian itu karena banyaknya fitnah dan pembunuhan.

Hadis ini sekaligus isyarat kepada kaum lelaki untuk menikah lebih dari satu istri. Sebagaimana firmanNya:

فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ

“Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An-Nisa’: 3)

Karena jika setiap lelaki hanya menikahi satu orang wanita, sementara jumlah wanita sangat banyak, dan masing-masing perlu memenuhi kebutuhan biologisnya, otomatis yang terjadi adalah perzinahan. Inilah fakta yang terjadi hari ini hingga Hari Kiamat. Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَفْشُوَ الزِّنَا))

“Sesungguhnya di antara tanda Kiamat:  Hilangnya ilmu (agama), banyaknya kebodohan, dan merebaknya perzinahan.” (Sahih Muslim, no. 6957)

Ini juga mengindikasikan bahwa semakin dekat dengan Hari Kiamat maka semakin banyak keburukan dan fitnah. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari fitnah dan segala keburukan. Wallaahu a’lam bishshawab.

KOMENTAR