Oleh: Wafi Marzuqi Ammar, Lc., MA., Ph.D

Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

 

Banyak sekali di antara kita, mengeluhkan sikap anak-anaknya. Sulit diaturlah. Sangat nakal-lah. Tidak bisa diajari dan lain sebagainya. Bahkan sebagian kita mengatakan: “Mendidik anak seperti sebuah siksaan.”

Tapi yang perlu kami bisikkan pada telinga Anda, sesungguhnya kekurangan itu ada pada kita. Bukan pada anak-anak kita. Masalahnya kita tidak pernah istiqamah bersama Allah, sehingga segala sesuatu menjadi problem.

Ketika Allah memanggil kita, kita tidak langsung mendatangi panggilanNya. Padahal untuk kerja saja kita takutnya setengah mati pada alat yang bernama check clock. Kita sanggup duduk berjam-jam untuk mendengar musik, nyanyian, atau sekedar membaca WA dan status teman-teman di facebook. Tapi untuk membaca firman Allah yang disuratkan untuk kita, kita malasnya setengah mati.

Ingatlah saudara! Kemudahan mendidik anak dan kesukesan mereka, tidak akan datang kecuali dari Allah ta’ala. Allah berfirman:

(فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتاً حَسَناً(٣٧

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik.” (QS. Ali Imran: 37)

Yang langsung mendidik Maryam adalah Allah. Demikian itu karena sang ibu menadzarkan sang putri buat Rabbnya. Padahal tiada seorang ayah yang mendidiknya. Tapi Allah mempersiapkan Nabi Zakariya yang kemudian mengurusnya.

Setelah itu Maryam melahirkan anak yang bernama Isa alaihissalam. Isa juga tidak memiliki ayah yang mendidiknya. Meski demikian, Nabi Isa menjadi orang yang sangat sempurna akhlaq serta agamanya.

Sama halnya dengan Nabi Yusuf alaihissalam. Beliau tumbuh hingga dewasa dalam istana Al-Aziz. Padahal istana penuh dengan kekejian dan hal-hal kotor. Hingga istri Al-Aziz sendiri berani berkata –sekiranya Yusuf tidak mau berzina dengannya-:

وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُوناً مِّنَ الصَّاغِرِينَ

“Sesungguhnya jika dia (Yusuf) tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia termasuk golongan orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)

Ingatlah saudara! Saat itu tidak ada seorang pun yang menggenggam tangan Nabi Yusuf. Dan tiada seorang pun yang membimbingnya. Tapi dari lingkungan rusak seperti ini, Nabi Yusuf keluar menjadi seseorang yang sangat shalih dan jujur.

Perhatikan juga saudara, kisah Nabi Musa alaihissalam. Beliau tumbuh dewasa dalam istana Fir’aun. Padahal istana Fir’aun merupakan lingkungan paling buruk untuk tempat tumbuh kembangnya seorang anak. Meski demikian Nabi Musa muncul menjadi seorang kaliimullah. Hal itu tidak lain kecuali karena Allah-lah yang langsung mendidiknya. Dia berfirman:

(وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي (٣٩

“Dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS. Taha: 39)

Saudara… Nabi Muhammad r juga demikian. Beliau terlahir dalam kondisi yatim. Kemudian ibunya meninggal ketika beliau berumur enam tahun. Setelah itu beliau berpindah dalam pengawasan kakeknya. Kemudian sang kakek meninggal dan beliau menjadi yatim kembali. Setelah itu beliau berpindah dalam perawatan pamannya “Abu Thalib”.

Intinya Nabi Muhammad r tidak tumbuh dalam perawatan seorang ayah yang fokus memberi perhatian kepada beliau dalam satu rumah. Tapi beliau berpindah dari satu rumah menuju rumah yang lain. Meski demikian, beliau tumbuh dewasa dalam kesempurnaan yang sudah kita ketahui bersama.

Ini semua terjadi karena Allah semata yang langsung mengawasi, mendidik, dan mengajari mereka. Kita sebagai orang tua tentu tidak bisa berbuat apa-apa untuk kebaikan anak-anak kita. Karena itu mari kita pasrahkan semua anak kita kepada Allah ta’ala.

Imam Malik rahimahullah berkata:

“إِنَّمَا اْلأَدَبُ أَدَبُ اللهِ”

“Sesungguhnya adab adalah adab yang diajarkan oleh Allah ta’ala.”

Dari sini kita tahu wahai saudara…  bahwa mendidik anak bukan sekedar upaya dan kerja keras yang bisa dipastikan hasilnya. Ingatlah! Anak kita ini, mulai pertama kali lahir hingga akhir hayatnya, ibarat tanaman yang tumbuh. Hanya Allah semata yang mampu menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik. Dia berfirman:

(أَفَرَأَيْتُم مَّا تَحْرُثُونَ ﴿٦٣﴾ أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ (٦٤

“Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 63-64)

Mari kita lihat pula, kisah yang terdapat dalam surat Al-Kahfi. Bagaimana Allah menjaga harta simpanan milik dua anak yatim. Kok bisa terjaga hingga tidak diambil orang. Dan ketika dindingnya mau roboh, malah Allah mengirim Nabi Musa dan Nabi Khidhir untuk memperbaiki dinding yang hendak roboh itu.

Itu tidak lain karena bapak dua anak yatim ini dahulu adalah orang yang shalih. Karena itu Allah menjaga anaknya, juga menjaga harta simpanan yang dia simpan untuk kedua anaknya yang yatim.

Said bin Al-Musayyib rahimahullah berkata kepada putranya:

لَأَزِيدَنَّ فِي صَلَاتِي مِنْ أَجْلِكَ، رَجَاءَ أَنْ أُحْفَظَ فِيكَ

“Sungguh saya akan memperbanyak shalat untukmu. Dengan harapan saya dijaga Allah untukmu.” (Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, hlm. 467)

Sedangkan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوتُ إِلَّا حَفِظَهُ اللَّهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

“Tiada seorang mukmin yang meninggal, kecuali Allah pasti menjaganya pada keturunannya, dan anak-anak dari keturunannya.” (Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, hlm. 467)

Saudara… maksud dari semua dalil di atas, sesungguhnya menjadi shalih atau tidaknya sang buah hati, adalah kembali kepada keshalihan kita bersama Allah. Jika hubungan kita dengan Allah sudah baik, niscaya Allah memudahkan segala sesuatunya. Dia berfirman:

    وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

 

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Ketahuilah saudara… sekiranya kita mengerahkan separuh tenaga kita, yaitu tenaga yang kita gunakan untuk mendidik anak, kita gunakan dalam ketaatan kepada Allah, niscaya Allah memudahkan bagi kita urusan pendidikan mereka, dan niscaya Allah menjadikan mereka semua anak-anak yang shalih.

Mulai sekarang, mari kita perbanyak mengerjakan ketaatan dan jangan terbatas mengerjakan ibadah-ibadah fardhu saja. Mari kita perbanyak pula shalat dan puasa nafilah. Mari kita belajar membaca Al-Quran dengan baik. Mari kita belajar memakai hijab yang syar’i. Mari kita hadiri majelis-majelis ilmu. Dan mari kita perbanyak kawan-kawan shalih yang ikhlas serta senantiasa menasihati kita.

Akhil kariim … Maukah kami beritahukan kepada Anda sebab terbesar kebahagiaan anak-anak Anda?!

Berbaktilah kepada kedua orang tua Anda. Perbanyaklah silaturrahim baik dari pihak Anda maupun istri. Sungguh! Pengaruh silaturrahim sangat mencengangkan terhadap keshalihan anak-anak Anda. Nabi r bersabda:

((مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ))

“Barangsiapa senang dilapangkan rizqinya atau dipanjangkan umurnya, hendaknya menyambung rahimnya.” (Sahih Al-Bukhari, no. 2067)

Juga perbanyaklah doa hidayah untuk mereka, dengan mengucapkan:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء

“Wahai Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِين

 

“Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku. Tunjukilah aku supaya dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Saudaraku… Mendidik anak tidak harus fokus senantiasa mendampingi mereka. Atau mengorbankan segala kesibukan untuk mereka. Tapi yang perlu kita lakukan dalam mendidik anak adalah di samping mendidik mereka, kita juga melakukan ketaatan kepada Allah sang Maha pencipta, sebanyak-banyaknya.

Sekali-kali jangan meninggalkan ketaatan kepada Allah karena alasan mendidik anak. Karena hal itu sangat berbahaya untuk pendidikan mereka.

Pemandangan yang menyedihkan, ketika seorang ibu terlihat duduk menanti selama satu atau dua jam di depan panitia ujian, hanya menunggui anaknya yang lagi mengerjakan soal ujian hingga selesai.

Apakah ibu tersebut tidak mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan?! Apakah dia menganggur, hingga harus duduk selama itu menunggui anaknya?!

Sebagian mereka ngerumpi dengan sesamanya. Sebagian lain, lagi sibuk buka-buka androidnya. Sebagian mereka lagi berkaca, dan lain sebagainya.

Demi Allah, kalau sang ibu menggunakan waktunya untuk membaca Al-Quran, beristighfar, melakukan silaturrahim, berbakti kepada bapak ibunya, membantu orang yang membutuhkan, atau menjenguk orang sakit, pasti faidahnya jauh lebih besar daripada sekedar duduk menunggu.

Wahai para ibu yang saya hormati…

Pertama: Perbaikilah hubungan Anda dengan Allah Y, niscaya Allah memperbaiki kondisi Anda dan anak-anak Anda.

Kedua: Jangan lupa selalu memohon pertolongan kepada Allah untuk kebaikan anak-anak Anda.

Dan ketiga: Perbanyaklah doa agar Allah memberi hidayah baik untuk Anda maupun anak-anak Anda. Bisa jadi suatu ketika doa Anda mendapati pintu langit yang terbuka, maka doa untuk kalian berdua pun dikabulkan Allah ta’ala.

Semoga Allah memberkati Anda dan anak-anak Anda. Ingatlah! Sekedar pendidikan yang tanpa diiringi doa, sangat tidak cukup untuk keshalihan anak-anak Anda.

Semoga Allah memudahkan kami dan Anda sekalian untuk melakukan apa pun yang dicintai dan diridhaiNya. Wallaahu a’lam.

KOMENTAR