Sebut saja namanya, Nai. Wanita non-Muslim yang telah Allah izinkan untuk mengecap manisnya hidayah. Dia telah Allah perkenankan untuk merasakan indahnya Islam.

Berawal dari rasa tertarik melihat teman satu kelas di kampus yang mengenakan hijab, Nai merasa ingin mencoba hal itu. Menurut penilaiannya, mereka terlihat anggun dan cantik. Dengan penghasilan yang tak seberapa sebagai seorang penyiar radio, Nai mulai menabung.

Perlahan, satu demi satu, dia bisa membeli hijab yang diinginkan. Mulailah, pakaiannya menutup aurat. Walau pada kenyataannya, pakaian itu jauh dari kata syari; bawahan celana jeans ketat dan hijab yang terawang tak menutup dada. Karena tujuan awal berhijab memang bukan untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang Muslimah, ataupun untuk mengenal Islam lebih jauh, melainkan hanya mengikuti fashion dan trend belaka.

Bahkan, sebuah alasan yang Nai buat-buat adalah, untuk melindungi rambutnya dari bau rokok, karena seringkali naik angkot dalam perjalanan ke kampus bertemu penumpang yang merokok.

Berkelebat pertanyaan di benak Nai, bagaimana tanggapan orang-orang terhadap wanita non-Muslim yang mengenakan hijab? Bagaimana tanggapan tetangga dan teman-temannya? Tapi Nai tak hirau akan hal ini, dia pikir mereka akan senang meliatnya sama seperti meraka. Justru yang dia khawatirkan dari pihak keluarga, terutama ibu. Alasan apa yang akan dia katakan terhadap ibunya mengenai perihal ini. Dari sinilah titik awal perjuangan dimulai.

Hari pertama mengenakan hijab memang butuh penyesuaian. Kepala Nai terasa berat, seakan ada sesuatu yang mengganjal. Ke mana-mana harus membawa cermin, takut kusutlah, takut miringlah, dan seabrek perasaan yang tak jelas.

Seperti dugaannya, teman-teman Nai nampak senang dengan penampilannya. Bahkan beberapa ada yang memuji. Pujian itu semakin membuat Nai bersemangat untuk terus-menerus mengenakan hijab.

Waktu pun terus berlalu. Hati Nai semakin tercerahkan ketika sang ibu mengenalkannya pada seorang lelaki Muslim. Nai benar-benar tidak mengerti bagaimana pemikiran ibunya akan hal itu. Sungguh tidak mengerti. Bukankah ibunya ingin dia menikah dengan lelaki yang seagama dengannya? Ibu Nai hanya beralasan, bahwa pria itu baik, bijaksana, pekerja keras, dan beratanggung jawab. Hal itulah yang membuat ibu Nai suka.

Nai bingung dengan semuanya. Marah, kesal, juga lelah. Tapi ibunya seakan tak peduli, ibunya semakin gencar membuat Nai berusaha dekat dengan lelaki itu. Hingga Nai berinisiati untuk meminta saran dari seorang sahabat, lalu sahabatnya menasehati untuk menuruti kemauan sang ibu, membuka hati.

Yah, awalnya memang tak mudah bagi Nai, tapi bukan berarti tak bisa. Kian lama, tumbuhlah perasaan kagum terhadap lelaki itu ketika semakin mengenalnya. Namun disaat rasa cinta hadir sedikit demi sedikit, sikap ibunya berubah 180 derajat, Nai harus menjauh dari sang lelaki.

Nai benar-benar tak habis pikir dengan kemauan ibunya. Ketika dia telah membuka hati dan benar-benar ingin mengenal Islam lebih jauh melalui lelaki itu, ibunya seakan mencegah. Hal ini membuat Nai semakin penasaran dan ingin mencari tahu.

Hingga akhirnya, Nai memutuskan untuk mempelajari Islam secara diam-diam melalui orang terdekatnya, juga melalu internet. Sayangnya, sepandai-pandainya dia menyembunyikan, ibunya pun tahu. Tak dinyana, sang ibu marah.

Puncak amarahnya saat dia tahu, bahwa Nai telah megucapkan dua kalimat syahadat. Sejak saat itu, ujian pun datang bertubi-tubi pada Nai.

Nai terasing di rumah sendiri. Tak ada yang peduli, bahkan walau hanya sekadar bertanya kabar. Satu tahun berlalu, dia hidup dalam kesunyian, sang ibu bahkan tak mau menegurnya, apalagi bercanda tawa, sedangkan lelaki itu, entah ke mana.

Karena merasa tak kuat lagi dengan perlakuan keluarga, Nai akhirya mengambil keputusan. Setelah menulis sebuah surat, mengatakan dirinya akan baik-baik saja, Nai angkat kaki dari rumah, menuju sebuah pondok pesantren.

Di sanalah Nai ditempa, hidup dalam keterbatasan, menutup diri. Hingga hari-hari terus berlalu. Dia lahir dengan sebagai sosok Nai yang baru. Nai, dengan hijab lebar yang menjulur hingga ke dada. Nai tanpa celana jeans ketat.

Nai akhirnya benar-benar tahu, bagaimana hijab syari yang sesungguhnya. (pdl)

Baca jugaDari Aliran Kepercayaan Hingga Berhijab

KOMENTAR