Ini bermula saat masih kecil, ketika itu saya belum tahu apa-apa, mengenal aliran ini pun dari bapak saya.

Entah kapan pertama kali, saya diajak ke tempat ibadah mereka, sanggar namanya. Diadakan seminggu sekali, acara rutin. Juga ada ibadah harian yang tidak ditentukan waktunya, tapi seringkali malam hari. Semasa kecil saya sering mengikuti, walau lebih sering ketiduran

Sebenarnya saya pun tidak begitu mendalami aliran ini, hanya ikut saja. Ketika beranjak SD saya ingin ikut mengaji di TPQ seperti anak-anak lain, tapi tidak mendapat izin dari bapak, alasannya karena takut mengganggu prestasi akademik di sekolah.

Saya pun bukan seorang penganut yang taat, bahkan ketika SMP saya sudah jarang melakukan ritual ibadahnya.

Allah selalu punya cara untuk menunjukkan kepada seoarang hamba, mana jalan yang benar. Kelas tiga SMP, ibu saya sakit parah, tentu saja saya bingung harus seperti apa, bahkan cara berdoa pun tak tahu. Sakit itu, mengantarkan ibu saya untuk kembali pada-Nya.

Satu hari sebelum masuk SMA, usai ibu meninggal, saya dinasehati tante untuk sholat. Akhirnya saya mendirikan sholat sebisa saya. Berbekal dengan ilmu agama yang saya dapat dari sekolah. Meski dulunya saya benci pelajaran agama Islam, pelajaran yang bagai momok menakutkan bagi saya. Tidak bisa mengaji membuat saya selalu merasa cemas saat pelajaran. Saya mulai merutinkan sholat, mendoakan ibu saya.

Respon bapak pun biasa aja, walau pada kenyataannya dia masih berharap saya mengikuti jejaknya.

Babak baru dalam hidup saya dimulai ketika menginjak SMA. Saya mulai diajak teman ikut ke kajian remaja di masjid dekat rumah. Hingga sedikit demi sedikit saya mulai memahami Islam walaupun tak terlalu.

Seiring waktu, saya pun kuliah. Sebenarnya saya ingin memutuskan untuk berjilbab ketika menjadi seorang mahasiswi. Tapi karena ini dan itu (alasan klasik orang yang belum mau berjilbab), akhirnya belum mantap.

Satu semester berlalu. Saya ikut kajian pekanan di kampus (wajib), dari sanalah hati mulai tergerak lagi untu berjilbab. Di semester 2 saya pun merealisasikan hal itu, mulai memakai jilbab ke kampus dengan modal 2 atau 3 jilbab saja. Awalnya tak terasa nyaman karena belum pandai memakainya dengan rapi dan belum terbiasa.

Tentu saja pada masa awal saya menghijab diri, ada banyak rintangan yang membentang dan menghadang, bahkan itu datang dari pihak keluarga sendiri. Tatapan sinis, dan dianggap aneh sudah menjadi hal biasa. Hingga ada yang bilang "Yang penting hatinya dulu, sholatnya diperbaiki, dan lain-lain, baru berjilbab."

Itu semua menjadikan saya untuk lebih semangat lagi memperbaiki diri. Untuk lebih dalam lagi mengkaji Islam. Saya berharap agar selalu istiqomah dalam menutup aurat juga mengamalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Alhamdulillah kakak saya sudah sholat, tinggal bapak saja. Mohon doanya.

Penutur: Sarah (bukan nama asli)

KOMENTAR