Mungkin kita pernah mendengar orang Islam murtad karena sekardus mie? Mungkin kita pernah mendengar orang Islam murtad demi segepok uang? Demi harta benda? Demi urusan perut?

Ketika saya jadi santri pada tahun 2011, jumlah umat islam masih 92% kala itu. Namun, kemarin ketika mengikuti seminar internasional kolaborasi antara kampus saya dengan USIM dari Malaysia, salah satu pembicara mengatakan jumlah umat Islam merosot menjadi 84%, sungguh kabar yang tak enak didengar. Apakah kita kurang berdakwah?

Bahkan para dai bertebaran ke seantero negeri. Coba tengok di masjid-masjid, masyaa Allah, pengajian tiada habis-habisnya, talim, liqo tiada henti-hentinya. Semarak Islam membahana. Nyalakan saja televisi setelah shalat Shubuh, tinggal pilih ceramah siapa yang ingin didengar, tapi mengapa masih terjadi fenomena penggadaian aqidah?

Yah, masalah itu ada pada diri kita sendiri. Ada pada tubuh umat Islam. Coba kita bandingkan jumlah dai yang berada di kota dengan dai yang ada di pedalaman? Yang ada di tempat metropolitan dengan yang di pelosok? Aaah, saya malu menyebutkannya.

Berapa banyak dai yang benar-benar mau mengabdi untuk dakwah? Yang rela meninggalkan fasilitas kemewahan, lalu merintis kehidupan sederhana di desa terpencil? Jumlah mereka sedikit, minim dana, minim perbekalan. Itu salah satu faktor yang menyebabkan maraknya permutadan.

Lalu adalagi hal lain yang perlu kita luruskan bersama. Beberapa dari dai kita ketika berdakwah ke pedalaman melakukan sesuatu yang kurang tepat. Para dai itu marah kepada penduduk kampung yang menukar aqidah mereka dengan seonggok makanan. Marah karena mudahnya melepas Islam dengan iming-iming ini itu, tapi mereka datang tanpa membawa apa-apa, tanpa memberi sekardus mie, tanpa memberi kebutuhan hidup. Dakwah bukan melunakkan hati, tapi malah membuat semakin menjauh.

Di tengah fenomena demikian adalagi hal yang sangat menyakitkan umat Islam sekarang ini. Bagaimana tidak? Betapa sakitnya hati melihat remaja-remaja tengah mengalami dekadensi aqidah. Ketika iffah dan izzah tercerabut dari sanubari maka di manakah letak kehormatan sebagai seorang Muslim?

Bagaimana mungkin kita tunduk tehadap orang non muslim? Sesungguhnya kita umat yang mulia. Jangankan tunduk, memilih pemimpin dari orang non muslim saja adalah sebuah larangan,QS. Ali 'Imraan: 28:

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).

Maka, ini menjadi PR kita bersama untuk membetengi aqidah umat. Menjadi kewajiban kita bersama untuk menyelamatkan generasi-generasi penerus ulama.

Jika kita harus menerabas hutan rimba demi saudara-saudara kita yang membutuhkan terangnya cahaya Islam, itu tak apa. Meski bebatuan harus kita pecahkan untuk membuat jalan demi seikat aqidah, tak mengapa. Sungguh, yang telah kita lakukan belum ada seujung kuku dibanding ulama-ulama terdahulu.

Semoga kita tetap istiqomah di atas din ini. Menebar risalah dakwah hingga ke tempat-tempat yang belum pernah terjamah para dai. Aaamiin.

KOMENTAR