Oleh: Wafi Marzuqi Ammar, Lc., M.Pd.I., MA., Ph.D

 

“يَا ابْنَةَ الْاَكْرَمِيْنِ ..هَلْ لَكِ فِيْ خَيْرٍ سَاقَهُ اللَّهُ لَكِ؟

“Wahai putri orang-orang mulia. Adakah engkau mau menyambut kebaikan yang didatangkan Allah buat kita?”

 

Bismillaaah… wash Shalaatu was salaamu ‘ala Rasuulillaah.. wa ba’du:

Akhil Karim…

Seorang mukmin tidak pernah menunggu waktu, kapan harus mengerjakan amal shalih.

Seorang mukmin tidak pernah bertanya kepada dirinya: “Kapan saya bisa beribadah dan meraup pahala?”

Seorang mukmin tidak pernah kehabisan akal untuk melakukan amalan yang bisa mendapatkan pahala berlipat di Akhirat.

Mengapa demikian?!!

Karena orang mukmin, menjadikan setiap momen, waktu, kondisi, perisitwa, dan apa pun yang dilaluinya sebagai ajang untuk mendapatkan pahala dari Allah subhaanahu wa ta’ala.

Semua detik dan menit dari kehidupannya diniatkan untuk ibadah kepada Allah. karena itu jangan heran jika makan, minum, tidur, bahkan berhubungan suami istrinya, bernilai pahala yang melimpah di sisi Allah, jika dibarengi dengan niat yang benar.

Ini semua yang membedakan adalah niat. Karena itu mari kita niatkan segala apa yang kita kerjakan untuk Allah, meski itu hal-hal mubah, insya Allah semuanya menjadi bernilai pahala di sisiNya.

Pada suatu malam, Umar bin Al-Khattab berjalan di sekitar kota Madinah untuk memeriksa keadaan rakyat sebagaimana kebiasaannya tiap malam. Tiba-tiba ia melihat tenda di luar kota Madinah yang sebelumnya tidak pernah dia lihat. Umar mendekat ke tenda dan mendengar rintihan seorang wanita.

Umar memanggil. Maka keluar seorang lelaki. Umar bertanya kepadanya. Rupanya dia salah seorang Arab pedalaman yang datang dari luar kota Madinah. Ia sengaja datang ke Madinah untuk mendapat bantuan dari Umar yang terkenal sangat mudah membantu siapa pun. Umar bertanya: “Ini rintihan siapa?”

Dia menjawab: “Rintihan istri saya yang sebentar lagi melahirkan.” Umar bertanya: “Apakah di dalam ada seseorang yang membantu proses persalinannya?” “Tidak!” Jawab si A’raabi.

“Apakah engkau mempunyai makanan untuk dimakannya?” Tanya Umar lagi. “Tidak.”Jawab si A’rabi.

“Kalau begitu, tunggu di sini. Saya akan mengambil makanan dan seseorang untuk mengurus persalinannya.” Kata Umar.

Umar pun pergi ke rumahnya di tengah malam untuk menemui istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib.

Ketika sampai rumah, Umar memanggil Istrinya:

“يَا ابْنَةَ الْاَكْرَمِيْنِ ..هَلْ لَكِ فِيْ خَيْرٍ سَاقَهُ اللَّهُ لَكِ؟

“Wahai putri orang-orang mulia. Adakah engkau mau menyambut kebaikan yang didatangkan Allah buat kita?”

“Kebaikan apa itu?” Tanya istrinya.

“Ada orang miskin yang kesakitan hendak melahirkan di pinggiran kota Madinah.” Jawab Umar. “Apakah engkau ingin saya mengurusnya?” Tanya istrinya.

“Tentu wahai istriku, putri orang-orang mulia. Siapkan segala peralatan yang engkau butuhkan.” Kata Umar.

Sementara Umar, ia mengambil makanan dan keperluan dapur. Dia bawa di atas kepalanya, tepung dan lain-lainnya. Lalu keduanya beranjak pergi ke pinggiran kota Madinah di tengah gelapnya malam yang sangat larut.

Keduanya sampai di lokasi tenda. Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib langsung masuk ke dalam tenda untuk memulai proses persalinan. Sementara Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab, duduk bersama suaminya di luar tenda untuk menyiapkan makanan.

Tidak lama kemudian, Ummu Kultsum keluar dari tenda sambil berteriak: “Wahai Amirul Mukminin! Beritahukan kepada lelaki, itu bayi lelakinya telah lahir dan istrinya dalam kondisi sehat.”

Ketika orang A’rabi mendengar panggilan “Amirul Mukminin” dari istri Umar, ia langsung melihat ke belakang sambil terkejut. Ia tidak pernah mengira bahwa lelaki yang bersamanya adalah Umar bin Al-Khattab, Khalifah kaum muslimin saat itu.

Umar hanya tertawa lepas. Ia berkata: “Kemari dan mendekatlah! Benar. Saya adalah Umar dan yang di dalam adalah istri saya, Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib.”

Laki-laki A’rabi langsung menangis terharu sambil berkata: “Subhaanallah… ahlul bait (keluarga Nabi) telah mengurus persalinan istriku?! Dan Amirul Mukminin memasak makanan untuk saya dan istri saya?!”

Umar berkata: “Silakan makan! Insya Allah kami akan memberikan nafkah lainnya yang ada bersama kami.”

Akhil kariim…

Silakan anda perhatikan. Tidaklah Umar memiliki kedudukan tinggi dalam Islam dengan sekedar banyak shalat, puasa, atau qiyamullail. Juga bukan dengan banyaknya negeri yang ditaklukkannya. Tapi selain itu, dia memiliki kalbu yang sangat rendah hati, khusyu’, dan sangat takut kepada Allah.

Di sisi lain, Umar sangat ringan tangan dan sangat mudah mengulurkan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkan pertolongan.

Akhil karim…

Barangkali anda sedang tidur. Tapi rupanya pintu langit terbuka untuk anda karena puluhan doa yang dipanjatkan setiap orang miskin yang anda bantu dengan sedikit pertolongan. Orang yang diliputi kesedihan tapi kemudian anda bahagiakan. Atau seorang pejalan kaki dan siapa pun dari kaum muslimin yang anda tersenyum bahagia kepadanya.

Akhil Kariim…

Inti daripada kisah ini, adalah menjadikan setiap waktu yang kita hadapi sebagai ajang untuk meraih pahala dari Allah. Bukannya ketika kita mendapati suatu perkara yang merepotkan kemudian kita menggerutu. Tidak!! Tapi kita menjadikannya sebagai kebaikan dan pahala yang didatangkan untuk kita.

Demikian pula setiap musibah yang menimpa kita. Apakah dicuekin teman di jalan. Terciprati air hujan karena mobil atau motor yang berkendara dengan cepat. Atau musibah apa pun lainnya. Jangan dianggap sebagai malapetaka. Tapi itu semua adalah ladang pahala bagi kita, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Marilah kita semua berperilaku seperti Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab. Marilah kita semua bersikap seperti Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib. Bukannya di tengah malam merasa kerepotan ketika ada orang yang hendak melahirkan. Tapi malah menganggap hal itu sebagai kebaikan dan pahala yang didatangkan Allah untuk mereka. Wallahu a’lam bish shawab.

Maraji’:

  1. Muhibbuddin Ath-Thabari, Ar-Riyadh An-Nadhirah fi Manaqib Al-Asyarah, 2/390
  2. Ibnu Al-Mubarrid Al-Hanbali, Mahdh Ash-Shawab fi Fadhail Amir Al-Mukminin Umar bin Al-Khattab, 1/391
  3. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, pada kejadian tahun 23 hijriyah, 10/186

KOMENTAR