Pertama:

Takmir Masjid haruslah bangga menjadi pengurus masjid. Dan siapa pun yang bekerja untuk masjid, hendaknya berbangga. Karena menjadi pengurus masjid adalah tugas paling mulia, yaitu tugas yang diembankan Allah kepada kedua Nabi-Nya. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam. Allah ta’ala berfirman:

(وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (١٢٥

“Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud’.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Kedua:

Takmir Masjid itu hendaknya senantiasa berada di masjid minimal setiap shalat lima waktu. Jangan sampai menjadi pengurus masjid orang yang jarang kelihatan di masjid apalagi tidak pernah kelihatan di masjid. Allah berfirman:

(إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ (١٨

“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat.” (QS. At-Taubah: 18)

Ketiga:

Takmir masjid bukanlah orang yang pelit, tapi orang yang senantiasa menginfakkan hartanya untuk kepentingan kaum Muslimin terutama masjid. Karena Allah ta’ala berfirman:

(إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ( ١٨

“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.” (QS. At-Taubah: 18)

Keempat:

Takmir atau pengurus masjid itu hendaknya hanya takut kepada Allah ta’ala bukan kepada lain-Nya. Jangan sampai ia tidak berani amar ma’ruf dan nahi munkar di lingkungan masjid dan sekitarnya karena takut kepada makhluk. Sebab Allah befirman:

(إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ (١٨

“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 18)

Kelima:

Takmir atau pengurus masjid adalah orang yang paling layak berbangga dan paling patut mendapat Surga Allah ta’ala. Karena Allah menjelaskan bahwa orang-orang memakmurkan masjid-lah yang mendapat petunjuk. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Keenam:

Takmir atau pengurus masjid itu tidak boleh sok mulia hingga tidak mau melakukan bersih-bersih masjid. Padahal ada seorang wanita hitam masuk Surga gara-gara biasa membersihkan masjid. Gara-gara mengambil kotoran dan sampah-sampah yang ada di dalam masjid. Dalam Hadis, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma dia berkata:

أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَلْقِطُ الْقَذَى مِنَ الْمَسْجِدِ، فَتُوُفِّيَتْ فَلَمْ يُؤْذَنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِدَفْنِها، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((إِذَا مَاتَ فِيكُمْ مَيِّتٌ فآذِنُونِي وَصَلَّى عَلَيْهَا))، وَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُهَا فِي الْجَنَّةِ لِمَا كَانَتْ تَلْقِطُ الْقَذَى مِنَ الْمَسْجِدِ

Ada seorang wanita biasa membersihkan kotoran di masjid. Kemudian meninggal dunia tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak diberitahu tentang penguburannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang dari kalian meninggal maka beritahu saya.” Kemudian beliau mengerjakan shalat atasnya dan berkata: “Saya melihatnya berada di dalam Surga karena kotoran yang dia bersihkan dari masjid.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 11442 dengan sanad hasan)

Ketujuh:

Takmir dan pengurus masjid itu harus ikhlas bekerja untuk Allah. Menjadikan urusan masjid sebagai perkara pertama sebelum yang lain. Niscaya Allah akan memenuhi segala kebutuhannya. Jangan datang ke masjid ketika hanya ada kepentingan. Kalau seperti ini maka hanya mencari hidup di dalam masjid. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai cita-cita tertingginya niscaya Allah menjadikan kekayaan dalam kalbunya. Allah memudahkan segala urusannya yang susah. Dan dunia datang kepadanya dalam kondisi hina. Sementara siapa pun yang menjadikan dunia sebagai cita-cita tertingginya, niscaya Allah menjadikan kemiskinannya berada di antara kedua matanya. Allah mempersulit segala urusannya. Dan dunia tidak datang kepadanya kecuali sekadar yang dijatahkan padanya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2465 dan disahihkan Al-Albani)

Kedelapan:

Menjadi takmir masjid itu harusnya lillaahi ta’ala. Mengurus masjid merupakan ibadah yang paling luhur kepada Allah. Jangan sampai ibadah yang semestinya diperuntukkan hanya bagi Allah tapi seseorang memperuntukkan bagi selain-Nya. Maka hukumnya sama seperti orang yang belajar ilmu syar’i tapi tujuannya untuk menyaingi para ulama’, membodohi orang-orang yang tidak mengerti, dan agar dipandang serta dihormati orang karena ilmunya. Nabi shallallahu alaihi wasallambersabda:

((مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ فِي النَّارِ))

“Barangsiapa mencari ilmu dengan tujuan mendebat (mengalahkan) orang-orang bodoh, menandingi para ulama’, atau agar wajah manusia berpaling kepadanya maka dia berada dalam Neraka.” (Sunan Ibnu Majah, no. 253 dengan sanad hasan)

Kesembilan:

Menjadi takmir atau pengurus masjid itu hendaknya menjadi panutan bagi kaum muslimin lainnya. Jangan sampai menjadi pengurus masjid tapi kelakuannya tidak benar. Akhlaqnya rendah. Dan lain sebagainya. Karena doa orang-orang beriman adalah:

(رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً (٧٤

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Kesepuluh:

Menjadi takmir atau pengurus masjid hendaknya menyatukan, mencerahkan, mengayomi, mudah memaafkan, dan tidak mudah gegeran hanya karena masalah sepele apalagi masalah uang. Kalau tidak bisa mempraktekkan hal ini maka hindari menjadi pengurus masjid. Karena Allah ta’ala memerintahkan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Furqan: 199)

KOMENTAR