By: Wafi Marzuqi Ammar, Ph. D

Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata:

أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ، فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَ عَنْهَا فَقَالُوا: إِنَّهَا مَاتَتْ. قَالَ: ((أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِيْ)). قَالَ: فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا، فَقَالَ: ((دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهاَ)). فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا

Sesungguhnya seorang wanita hitam biasa menyapu masjid. Kemudian Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dia. Beliau pun bertanya tentangnya. Para sahabat menjawab: “Dia telah meninggal dunia.” Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahu saya.”  Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Seakan mereka meremehkan keberadaannya.” Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tunjukkan padaku di mana kuburannya.” Para sahabat menunjukkannya dan Nabi pun shalat atasnya. (HR. Al-Bukhari, no. 460 dan Muslim, no. 2259)

Hadis ini memiliki banyak pelajaran. Di antara pelajarannya yang paling menonjol: Hendaknya seorang mukmin selalu memuliakan orang lain. Siapa pun orangnya. Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam  adalah manusia paling mulia. Sementara wanita ini, ia hanya seorang hamba miskin yang tidak mulia pekerjaannya di antara manusia. Karena itu orang-orang menganggap, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu dikabari tentang berita kematiannya. Karena ia bukan orang terkenal, dan bukan siapa-siapa. Maka Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  marah dan mengatakan: “Mengapa kalian tidak memberitahu saya tentang kematiannya.”

            Seorang hamba, ketika semakin dekat kepada Allah niscaya akan memuliakan orang lain. Siapa pun orangnya. Sebaliknya, jika hamba jauh dari Allah ia menjadi egois. Menganggap dirinya lebih mulia dan lebih tinggi dari orang lain. Menganggap semua orang pelayan baginya. Menganggap semua orang hina, hanya dia yang mulia dan terhormat. Tidak bisa membaur bersama banyak orang. Bisanya hanya sendiri. Ini orang yang egois.

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam  manusia yang paling dekat kepada Allah ta’ala. Karena kedekatannya itu beliau memuliakan semua orang. Perhatikan kondisi wanita hitam ini. Orang-orang tidak begitu memerhatikan keberadaannya. Karena ia manusia biasa, tidak mempunyai keistimewaan di antara manusia. Baik dengan ilmu atau hartanya. Hingga orang-orang menganggap tidak perlu menggangu Nabi r dengan berita kematiannya. Toh ia hanya orang biasa. Paling Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  juga tidak memedulikannya. Tapi kenyataannya, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  menanyakannya setelah beberapa hari tidak melihatnya.

Lihatlah sifat luhur Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam. Hendaknya setiap sifat ini terdapat pada seorang mukmin. Beliau senantiasa memeriksa para sahabat. Setiap orang ada dalam pikiran beliau. Setiap orang hidup bersama beliau. Apakah itu problematikanya, pekerjaannya, kehadiran, bahkan kealpaannya. Hingga beliau menanyakan: “Di mana si fulanah?”

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

((فَسَأَلَ عَنْهَا بَعْدَ أَيَّامٍ. فَقِيْلَ لَهُ إِنَّهَا مَاتَتْ. قَالَ: ((فَهَلَّا آذَنْتُمُوْنِيْ))، فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا

Setelah beberapa hari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  bertanya tentangnya. Dijawab: “Ia telah meninggal dunia.” Beliau berkata: “Mengapa kalian tidak memberitahu saya?!” Maka beliau mendatangi kuburannya dan menyalatinya. (HR. Ibnu Majah, no. 1527 dan disahihkan Al-Albani)

Riwayat lainnya, dari Abu Said radhiallahu ‘anhu dia berkata:

كَانَتْ سَوْدَاءُ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَتُوُفِّيَتْ لَيْلاً فَلَمَّا أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِمَوْتِهَا فَقَالَ: أَلَا آذَنْتُمُونِي بِهَا فَخَرَجَ بِأَصْحَابِهِ فَوَقَفَ عَلَى قَبْرِهَا فَكَبَّرَ عَلَيْهَا وَالنَّاسُ خَلْفَهُ وَدَعَا لَهَا ثُمَّ انْصَرَفَ

“Ada seorang wanita hitam biasa membersihkan masjid. Kemudian meninggal dunia pada waktu malam. Keesokan harinya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam  mendengar berita kematiannya. Beliau pun bersabda: ‘Mengapa kalian tidak memberitahu saya?!’ Beliau pun keluar bersama para sahabat untuk berdiri di atas kuburannya. Beliau bertakbir dan para sahabat mengikuti di belakang. Selesai mendoakannya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  pun pergi.” (HR. Ibnu Majah, no. 1533 dan disahihkan Al-Albani)

Riwayat yang lain dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu dia berkata:

أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَلْقِطُ الْقَذَى مِنَ الْمَسْجِدِ، فَتُوُفِّيَتْ فَلَمْ يُؤْذَنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِدَفْنِها، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَاتَ فِيكُمْ مَيِّتٌ فآذِنُونِي وَصَلَّى عَلَيْهَا، وَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُهَا فِي الْجَنَّةِ لِمَا كَانَتْ تَلْقِطُ الْقَذَى مِنَ الْمَسْجِدِ

Ada seorang wanita biasa membersihkan kotoran di masjid. Kemudian meninggal dunia tapi Nabi r tidak diberitahu tentang penguburannya. Maka Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Jika seseorang dari kalian meninggal maka beritahu saya.” Kemudian beliau mengerjakan shalat atasnya dan berkata: “Saya melihatnya berada di dalam Surga karena kotoran yang dia bersihkan dari masjid.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 11442 dengan sanad hasan)

Kita jangan pernah meremehkan pekerjaan seseorang. Terkadang seseorang bekerja membersihkan masjid. Meski berupa petugas kebersihan, tapi amal shalih tidak dinilai dari ukurannya. Terkadang seseorang mempunyai pekerjaan yang tinggi tapi tujuannya agar terpandang di hadapan manusia, agar dihormati, dan lain sebagainya. Meski seseorang hanya mempersembahkan suatu yang kecil bagi masjid tapi dengan penuh keikhlasan, jauh dimuliakan dan dihargai Allah daripada sebelumnya. Karena yang penting bukanlah ukuran suatu pekerjaan dan tingginya jabatan.

Yang penting adalah niat di dalam hati, yaitu keikhlasan. Meski seseorang hanya membersihkan masjid, tapi dia mengerjakannya ikhlas untuk meraih wajah Allah ta’ala, bukan untuk mendapat sanjungan dan pujian manusia, maka amalnya menjadi tinggi dan sangat bernilai di sisi Allah ta’ala. Lihatlah wanita tersebut, karena keikhlasannya dalam membersihkan masjid, dia pun masuk Surga. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

((إِنِّي رَأَيْتُهَا فِي الْجَنَّةِ لِمَا كَانَتْ تَلْقِطُ الْقَذَى مِنَ الْمَسْجِدِ))

“Saya melihatnya berada dalam Surga karena kotoran yang dia bersihkan dari masjid.”

Masjid adalah rumah Allah. Dan membersihkan masjid merupakan tugas yang sangat mulia di sisi-Nya. Meski manusia menganggapnya sebagai pekerjaan tidak terhormat. Selama semua orang yang shalat menjadi nyaman karena kebersihan masjid, toiletnya tidak bau, tidak ada kotoran, dan sangat bersih, kemudian bisa khusyu’ maka tukang kebersihan ini, selama ikhlas mengerjakannya, akan mendapat pahala semua orang yang khusyu’ dalam shalatnya tanpa pengurangan sedikit pun.

Ketahuilah! Pekerjaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah membersihkan masjid. Allah berfirman kepada beliau dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud’.” (QS. Al-Baqarah: 125)

Jadi membersihkan masjid adalah pekerjaan sangat mulia. Dan apa pun yang berhubungan dengan masjid maka itu pekerjaan mulia. Meski itu mengambil tissu, membersihkan sajadah, mengelap kaca masjid, memperbaiki kran, atau membersihkan toilet dan kamar mandi. Ini pekerjaan agung yang mulia. Karena itu Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  mencari-cari di manakah wanita yang biasa membersihkan masjid itu.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  berdiri di atas kuburan wanita itu. Kemudian beliau bertanya:

أَيُّ الْعَمَلِ وَجَدْتِ أَفْضَلُ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَتَسْمَعُكَ؟ قَالَ:مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ مِنْهَا، فَذَكَرَ أَنَّهَا أَجَابَتْهُ: قُمُّ الْمَسْجِدِ

“Amal apakah yang engkau dapati paling utama?” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah wanita itu mendengar anda?” Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: “Kalian tidak lebih mendengar darinya.” Kemudian Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa wanita itu menjawab: “Membersihkan masjid.” (At-Targhib wa At-Tarhib, no. 427)

Hadis ini mursal sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 2/529. Menurut kami hadis ini bisa naik ke tingkatan hasan. Karena banyak hadis lain yang semakna dengannnya, apalagi dhaifnya tidak parah. Sementara kaidah para ulama’ hadis, jika ada hadis dhaif tidak parah yang memiliki banyak jalur periwayatan maka satu sama lain saling menguatkan sehingga naik ke tingkatan hasan lighairih. Wallaahu a’lam.

Dalam riwayat lain, dari Abu Qirshafah radhiallahu ‘anhu sesungguhnya dia mendengar Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ابْنُوا الْمَسَاجِدَ وَأَخْرِجُوا الْقُمَامَةَ مِنْهَا، فَمَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهَذِهِ الْمَسَاجِدُ الَّتِي تُبْنَى فِي الطَّرِيقِ؟ قَالَ: نَعَمْ ، وَإِخْرَاجُ الْقُمَامَةِ مِنْهَا مُهُورُ حُورِ الْعِينِ

“Bangunlah masjid dan keluarkan sampah daripadanya. Barangsiapa membangun masjid bagi Allah, niscaya Allah membangun untuknya satu rumah di Surga.” Kemudian seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah termasuk masjid-masjid yang dibangun di pinggir jalan?” Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab: “Benar. Dan mengeluarkan sampah darinya adalah mahar bagi para bidadari.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 2521)

            Hadis ini disahihkan Dhiya’ Al-Maqdisi dalam “Al-Mukhtaarah” sebagaimana disebutkan Ibnu Arraaq dalam “Tanziih Asy-Syarii’ah Al-Marfuu’ah”, 2/383, no. 21. Di sisi lain, Hadis ini dikuatkan oleh hadis Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam As-Sunan di bawah ini.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

((عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِيْ حَتَّى الْقَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ))

“Diperlihatkan atasku pahala-pahala umatku. Hingga kotoran yang dikeluarkan seseorang dari Masjid.” (Sunan Abi Dawud, no. 461)

Hadis ini disahihkan Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya, no. 1297, dan Ibnu Hajar berkata: Hadis ini dhaif tapi mempunyai banyak syawahid. Lihat: At-Tanwir syarah Jami’ Ash-Shaghir, 7/230, no. 5404. Jadi hadis ini menjadi hasan lighairih insya Allah.

Intinya, seseorang yang membangun masjid maka menjadi sadaqah jariyah atasnya. Meski sudah lama meninggal dunia tapi pahala terus mengalir padanya hingga Hari Kiamat. Sebaliknya orang yang membangun tempat pelacuran, diskotik, atau tempat maksiat lainnya maka ini menjadi dosa jariyah yang terus mengalir padanya meski puluhan bahkan ribuan tahun sudah meninggal dunia.

Pada hadis ini Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam  juga menjelaskan bahwa membersihkan masjid adalah mahar bagi para bidadari. Meski itu hanya menghilangkan sampah dan kotoran kecil dari masjid.

Pembaca yang dimuliakan Allah! riwayat hadis ini beragam. Ada riwayat yang sahih dan hasan. Semuanya menegaskan bahwa kita harus memuliakan setiap orang siapa pun orangnya dan apa pun kedudukannya.

Yang kedua, jangan pernah meremehkan pekerjaan yang berkaitan dengan masjid. Meski sebagai seorang tukang bersih sampah masjid, sesungguhnya itu pekerjaan yang mendatangkan pahala tinggi, di sisi lain itu adalah pekerjaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam. Wallaaahu a’lam.

KOMENTAR