Hari ini, manusia hidup di tengah kondisi yang memaksa mereka menumpuk harta sebanyak-banyaknya untuk menjalani kehidupan dengan baik dan tenang. Sebagian besar manusia harus mengumpulkan harta yang tidak sedikit (menurut perspektif mereka) untuk bisa memberikan kepastian masa depan mereka dan keluarga. Karena cara berpikir yang demikian, banyak orang yang tidak memperdulikan lagi dari mana asal harta yang mereka dapatkan.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallambersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَام

“Akan datang suatu masa, orang-orang tidak perduli lagi dari mana harta mereka dihasilkan, apakah dari jalan yang halal atau jalan yang haram” (HR. Bukhari)

Hadis di atas menjelaskan kepada kita bahwasanya rasululllah telah menggambarkan sebuah zaman, di mana manusia sudah terjerumus pada sebuah kesesatan yang berkaitan dengan harta dan bagaimana cara mendapatkannya. Dalam buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, karya Dr. Erwandi Tarmizi, MA, dijelaskan setidaknya ada dua golongan manusia yang termasuk dalam pembahasan hadis di atas.

Pertama. Mereka yang sama sekali tidak memperdulikan kaidah-kaidah yang dianjurkan oleh syari’at dalam mendapatkan harta. Kelompok ini adalah orang-orang yang dalam kehidupannya sudah bisa dikatakan masuk ke dalam golongan orang-orang yang menyembah harta sebagai Tuhannya. Golongan ini harus kembali memeriksa akidah mereka terhadap Islam.

Rasulullah telah memberikan peringatan yang keras kepada golongan ini. Beliau bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ؛ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ

“Celakalah wahai budak (hamba) dirham. Celakalah wahai budak (hamba) dinar. Celakalah wahai budak (hamba) khomishoh (pakaian)” (HR. Bukhari)

Orang-orang yang menjadikan harta sebagai tautan hati mereka sebagaimana mereka menautkan hati mereka kepada Allah, bahkan lebih, adalah orang-orang yang tidak percaya bahwa Allah lah yang memberikan mereka rezeki. Mereka beranggapan sebagaimana Qorun yang diabadikan dalam surat Al-Qashash: 78.

“Sesungguhnya aku hanya diberikan harta itu, karena ilmu yang ada padaku”

Padahal Allah dengan tegas menyampaikan bahwa Dia-lah yang memberikan rezeki kepada setiap makhluk yang Ia ciptakan. Allah mengaskan juga di dalam surat Al-Ankabut: 17  bahwasanya siapapun yang  menyembah selain Allah, maka ia tidak akan bisa mendatangkan rezeki baginya sedikitpun.

Kedua. Mereka yang termasuk ke dalam golongan yang kedua, adalah mereka yang memiliki kepekaan hati terhadap iman. Namun, mereka semenjak hidup dan matang secara akal tidak pernah menyempatkan diri untuk belajar terkait muamalat mendapatkan harta. Sehingga, disebabkan oleh kelalaian dan kebodohan yang  mereka pelihara itu mereka terjerumus ke dalam pelanggaran syari’at-syari’at Allah. Ali bin Abi Thalib menegaskan dalam Tanbih Al-Ghafilin, hal. 364 yang berbunyi:

“Barang siapa yang melakukan perniagaan sebelum mempelajari fikih (muamalat) dia akan terjerumus ke dalam riba dan terus terjerumus”

Oleh karenanya, sebagai orang yang memiliki keimanan kepada Allah beserta apa-apa yang diturunkan oleh-Nya sudah sepantasnya kita mulai belajar untuk mengetahui asal harta kita. Sehingga, kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang dengan sengaja melanggar perintah Allah. Terlebih lagi kita yang saat ini hidup di zaman yang penuh dengan praktik riba, gharar dan kedzaliman.

Sumber:

www.rumaysho.com

www.almanhaj.or.id

Erwandi Tarmizi, Dr,  Harta Haram Muamalat Kontemporer, Berkat Mulia Insani, Bogor, cetakan XII, 2016 

KOMENTAR