Hidup di zaman modern ini,  umat muslim dan orang-orang yang mengaku beriman sering diragukan masalah harta dan cara mendapatkannya. Kekurangan masyarakat terhadap ilmu dan sikap sebagian mereka yang enggan untuk belajar tentangnya membuat semakin banyak dari mereka yang terjerumus ke dalam pelanggaran syariat.

Padahal, harta haram dan segala proses mendapatkannya yang keluar dari koridor-koridor syariat dapat memberikan dampak yang buruk. Dampak buruk itu tidak hanya ditujukan untuk pribadi dan individu bahkan hingga merugikan orang lain dan umat Islam pada umumnya.

Beberapa dampak harta haram yang kita dapatkan terhadap diri kita dan umat adalah sebagai berikut:

  1. Mendurhakai Allah, menghambat Ilmu dan pemahaman

Dalam Al-Quran, Allah dengan tegas berfirman terkait kewajiban mendapatkan harta dengan cara yang halal dan baik.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi, dan jangan lah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al-Baqarah: 168)

Dalam ayat di atas juga dijelaskan bahwa kita dilarang mengikuti langkah-langkah syaitan karena mereka adalah musuh-musuh orang beriman dan makhluk yang telah mendurhakai Allah.

Dampak dari memakan harta haram ternyata berimplikasi kepada hal-hal lainnya. Di antaranya adalah terhambatnya ilmu dan pemahaman kita terkait kebenaran dari Allah. Sebagaimana dikisahkan dari imam syafii saat melaporkan kesulitannya dalam menghafal.

Aku mengadu kepada guruku (Waqi’) tentang buruknya hafalanku

Ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiat

Ia menerangkan kepadaku dan berkata “ Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan menerangi pelaku maksiat”.

Harta haram membuat seseorang mendapatkan dosa dan menjadikannya bermaksiat kepada Allah. Maka hal itu bisa menjadi sebab sulitnya ilmu dan cahaya Allah masuk menerangi hidupnya. Mungkin akademik, karir dan pekerjaan kita lancar, namun ketenangan hidup, gaya hidup yang menyimpang dan prilaku yang selalu membawa kita kepada keburukan

  1. Berat melakukan amal shaleh

Secara khusus Allah juga memerintahkan kepada utusan-Nya untuk mencari harta dengan cara yang baik dan halal. Allah berfirman di dalam Al-Quran yang berbunyi:

“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mu’minun: 51)

Dalam ayat ini, secara khusus Allah meminta nabi dan rasul-Nya untuk memakan makanan yang halal dan baik. Setelah itu Allah memerintahkan mereka untuk mengerjakan amal shalih. Hal ini mengisyaratkan hubungan antara harta dan makanan yang baik terhadap pengerjaan amal shalih.

Orang-orang yang memakan makanan dari harta haram akan merasa berat dalam melakukan amal shalih jika mereka enggan untuk berubah dan bertaubat.

  1. Doa yang tidak kunjung dikabulkan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah kepada para Rasul :

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Wahai sekalian para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan (Q.S al-Mukminun:51)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian (Q.S Al Baqoroh:172).

Kemudian Nabi menceritakan keadaan seseorang yang melakukan safar panjang, rambutnya kusut, mukanya berdoa, menengadahkan tangan ke langit dan berkata: Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi asupan gizi dari yang haram, maka bagaimana bisa diterima doanya?!” (H.R Muslim)

  1. Menandakan kemunduran dan sebab datangnya kehinaan umat

Harta haram yang telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari akan berdampak sangat buruk bagi sebuah komunitas masyarakat bahkan umat islam sendiri. Rasulullah bersabda dalam hadis-nya:

“Bila kalian melakukan transaksi riba, tunduk dengan harta kekayaan, mengagungkan tanaman dan meninggalkan jihad, niscaya Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dijauhkan dari kalian hingga kalian kembali kepada syariat Allah (dalam seluruh aspek kehidupan kalian) (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani)

berdasarkan hadis di atas, sangatlah jelas bahwa praktik riba dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perolehan harta haram dapat membawa kehinaan dan kemunduran bagi umat islam. Hal tersebut dikarenakan perbuatan-perbuatan umat islam yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah. Sehingga hilangnya ketenangan dan cahaya pembimbing dari  Allah dalam kehidupan dan hadirnya berbagai bencana baik alam maupun moral dan sosial yang tidak terhindarkan.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Asy-syuura: 30)

Sumber:

Erwandi Tarmizi, Dr,  Harta Haram Muamalat Kontemporer, Berkat Mulia Insani, Bogor, Cetakan XII, 2016 

Foto : http://thayyiba.com

KOMENTAR