Berapa banyak orang yang merintis jalan dakwah, lalu tersingkir?

Berapa banyak yang menapaki, lalu hilang?

Berapa banyak yang meniti, lalu raib entah ke mana?

Ada yang berhati-hati menyusurinya, ada pula yang serampangan. Ada yang bertahan di atasnya, ada pula yang jatuh, tehempas, lalu terabaikan. Ada yang menjadikannya obsesi, berazam kuat, dakwah adalah prioritas hidupnya. Namun, ada pula yang meletakkannya di sudut agenda, dakwah kalau ada waktu, begitu pikirnya.

Dalam dakwah ada kata, “lelah.” Yah, itu sebuah kewajaran. Kadang dia hinggap di sela-sela waktu ketika manyampaikan amanah agama ini. Tapi bila rasa itu dituruti, maka dakwah akan stagnan dan berujung pada kevakuman.

Bayangkan jika dulu para sahabat lelah berdakwah? Apa mungkin Islam bisa sampai ke Andalusia―walaupun kini hanya tersisa sejarahnya? Bayangkan jika dulu para tabi’in lelah berdakwah? Bayangkan jika para da’i atau para muballig lelah berdakwah? Apa mungkin Islam bisa sampai ke negara kita? Apa mungkin Islam tetap eksis hingga sekarang ini? Bayangkan jika para ulama lelah berdakwah, apa mungkin kita mengenal orang-orang salaf?

Saudaraku, jangan hanya karena lelah engkau lari dari medan dakwah. Jangan hanya karena lelah engkau menyudahi tapak-tapakmu di laga dakwah. Jangan hanya karena lelah engkau menarik mundur langkahmu di belantara dakwah.

Lelahmu untuk Dia. Engkau pasti akan mendapatkan ganjaran yang berlipat-lipat atas kelelahanmu, lelahmu lillah.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri). (QS. Fussilat: 33).

            Lihatlah, betapa Allah menyanjung orang-orang yang menyeru ke jalan-Nya. Allah jua pasti akan meneguhkan kedudukan orang yang menolong agama-Nya. Semoga kita tetap istiqomah dengan risalah dakwah ini. Aamiin.

KOMENTAR