Kekinian, rasa simpati hanya berbentuk like sosial media, 2017, abad ke-20. Era modernisasi, rasa empati hanya sekadar tombol like. Lisan mengucap prihatin, namun hanya sebuah wacana kata tanpa realita, menjaga citra diri.

Ruh-ruh yang kering akan rasa penderitaan dan sikap peduli, mengedepankan sikap acuh tak acuh, berdiplomasi dengan kalimat “Aku pun dalam kekurangan.”

Itsar telah lama terpangkas dari jiwa-jiwa yang mati, hati membatu. Terjebak dalam prioritas egoisme atas diri yang terbuai nafsu. Menunggu emas keluar dari saku, seperti itu pemikiran orang-orang yang enggan membagi hartanya, takut miskin.

Semakin tamak dengan gemerlap fana, hubbud dunya.Hidup dalam lingkaran hedonisme. Kata “pailit” menguliti mereka hidup-hidup. Padahal, rezeki sudah tertulis di lauhulmahfudz, takkan pernah jatuh ke tangan orag lain, hanya perlu menjemputnya, mengapa risau?

Akal yang mengkalkulasikan 10-1 = 9, tidak akan pernah paham dengan matematika Tuhan, Allah rabbul izzati. Orang-orang yang percaya dengan-Nya tidak memakai perhitungan manusia, 10-1= 19, bahkan bisa lebih, itu termaktub dalam firman-Nya di Surah Al-baqoroh: 261.

 

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم

“Perumpaman orang-orang yang menafkahkan hartanya  mereka di jalan Allah adalah serupa dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji. Allah (terus-menerus) melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karuniaNya) Lagi Maha Mengetahui.” ( Al-Baqarah 261).

 

Sungguh ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman. Bagi orang-orang yang tidak mengedepankan akal dan rasio terhadap perhitungan dunia. Seyogyanya, seorang Muslim meyakini bahwa balasan Allah akan berlipat-lipat dan jauh lebih baik. Tak ada keraguan walau sebiji dzarroh. Tak merasa kehilangan atas apa yang diberi, karena dia tahu, itu untuk dirinya sendiri.

KOMENTAR