Tepat di tahun 2005, saya akhirnya memutuskan untuk berhijab, walau pada saat itu, apa yang saya kenakan masih jauh dari kata syari.

Berawal dari melihat seorang akhwat yang mengenakan hijabwalau bukan hijab geddetapi benar-benar terlihat nyaman dan adem. Dari sanalah awal mula setitik hidayah itu datang. Lalu saya mengajak beberapa teman yang satu pemikiran. Hasilnya, positif, kami sepakat untuk memakai hijab.

Saat itu saya berada di sekolah negeri (SMPN), hijab masih menjadi sesuatu yang langka. Saya masih belum istiqomah menutup aurat, memakainya ketika di rumah saja.

Hari pertama memakai hijab saya tak berani keluar rumah, karena tak sanggup mendengar omongan tetangga. Tidak hanya itu, hari-hari berikutnya, cercaan dan hinaan begitu akrab di telinga. Dibilang fanatik lah, sok alim lah, bahkan cibiran-cibiran yang membuat hati panas, tapi saya tak patah arang, itu lebih baik daripada harus kembali ke masa-masa jahiliah. Saya yakin dengan pertolongan-Nya, karena hidayah tidak diwariskan.

Perjuangan saya terus berlanjut.

Awal tahun 2008 saya masuk SMA di Solo. Saya berazam untuk istiqomah berhijab--tidak buka-tutup lagi. Di sekolah itu, pelajaran agama lebih banyak dari sekolah negeri.

Saya mulai ikut ROHIS. Tahun 2009 saya lebih aktif lagi dengan ROHIS di luar sekolah, bahkan hingga ke tingkat kabupaten. Saya pun turut bergabung ke seminar-seminar yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa PTN Solo.

Orang tua merasa khawatir, karena saat itu sedang marak-maraknya isu teroris dan pencucian otak. Kegelisahan mereka semakin menjadi, karena saya memakai hijab lebar.

Lain lagi tantangan di sekolah, karena saat itu belum banyak yang berhijab lebar dan panjang, saya seakan terasing.

Setelah lulus, tentu yang menjadi kekhawatiran keluarga besar adalah susahnya mendapatkan pekerjaan. Saya masih ingat, ketika pengambilan foto untuk ijazah ada larangan mengenakan hijab. Alhamdulillah, saya masih bisa mempertahankannya.

Saya yang akan bertanggung jawab sendiri, ucap saya, ketika wali kelas mengatakan bahwa dia tidak bertanggung jawab apabila ijazah saya bermasalah. Memang tidak mudah melangkah menuju kebaikan.

Suatu hari ketika pulang kampung, saat itu saya sudah merantau beberapa tahun di kota Depok. Salah seorang tetangga berkata di tempat pengilingan padi, "Nduk nggak papa? Pakaianmu itu lo, mbok ojo gombrong-gombrong, kalau pake hijab mbok biasa saja nggak usah panjang-panjang, kayak bojone teroris." Saya hanya mengelus dada, sambil beristighfar.

Kalau saya terus mendengarkan orang lain, lalu kapan saya mendengarkan kata hati saya untuk berhijab? Komentar manusia tentu tidak akan ada habisnya.

Sampai detik ini saya masih belajar. Belajar untuk memantaskan diri. Belajar tentang hakikat apa itu sebenarnya berhijab syar'i. Mencoba mengerti orang yang tak sepaham. Sungguh memutuskan istiqomah itu perlu dukungan yang kuat.

Banyak pandangan aneh ketika hijab panjang ini menjulur, namun semoga saya selalu istiqomah dengan hijab sampai akhir hayat. Senantiasa menjaga dan tak pernah menanggalkannya. Dan semoga bisa mengajak orang-orang yang ada di sekeliling saya.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat hijrah ini.

Penutur: Ega Adita

Baca jugaIstiqomah Hijrah

KOMENTAR