Apakah engkau tahu bagaimana kabar umat Islam dengan kitabnya?

Datanglah kerumah-rumah mereka, engkau akan melihat Al-Qur’an terpajang rapi di dalam lemari-lemari, tidak pernah berpindah dari tempatnya. Al Qur’an hanya sebagai hiasan dalam etalase kaca, lalu jika engkau sentuh, engkau akan mendapati debu di atas sampulnya.

Di zaman modern ini, tak banyak engkau temui orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang baik dan benar, yang mengerti hukum-hukum bacaannya, yang memperhatikan makhroj huruf, serta panjang dan pendeknya. Akan jarang pula engkau temui orang yang mau mentadabburi ayat-ayatnya, lalu mengaplikasikannnya dalam kehidupan sehari hari. Dan lebih sulit lagi engkau temui orang yang paham tentang ilmu Al-Qur’an; menguasai tafsir, kaidah nahwu-shorof, ilmu qiro’at, serta asbabun nuzul ayat demi ayat.

Jika dulu selepas shalat maghrib akan engkau dengar suara anak-anak mengaji di surau-surau, di musholla-musholla, di masjid-masjid, bahkan di bilik-bilik rumah mereka, sebagai bentuk perhatian orang tua dalam mengajari anaknya ilmu agama. Namun sekarang, yang engkau dengar hanya kicauan-kicauan televisi. Jika dulu selepas shalat maghrib engkau melihat anak-anak membawa Al Qur’an dalam dekapan mereka, sekarang itu menjadi pemandangan yang teramat langk. Dalam genggaman mereka bukan lagi Al Qur’an, tetapi gadget android yang harganya mencapai jutaan. Al Qur’an sebagai penunjuk jalan untuk menggapai surga-Nya, semakin ditinggalkan bahkan dilupakan. Bagaikan buku tua lusuh yang diletakkan di sudut gudang.

Lihatlah pemuda pemuda Islam hari ini, berapa banyak dari mereka yang antusias menghafal Al Qur’an? Yang antusias menjadi penjaga kitab-Nya? Yang antusias untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya? Tidak akan engkau temukan kecuali sedikit. Al Qur’an telah luput dari penglihatan mereka, musik-musik jahiliyah telah mengalihkan dunia mereka.

Lebih suka hura-hura, lebih menyenangi seruling-seruling syaithan, dari pada kalam-kalam indah Rabb-nya, lebih banyak menghabiskan waktu menghafalkan lagu-lagu yang tidak mendatangkan manfaat untuk diri mereka, daripada Al Qur’an yang jelas memberi ganjaran bagi siapa yang membacanya. Yang keluar dari lisan-lisan mereka bukan lagi lantunan ayat suci, melainkan lagu-lagu cengeng yang hanya menambah penyakit di dalam hati. Padahal Nabi shallallahu alaihis salam telah memberikan kabar gembira bagi siapa yang pandai membaca Al Qur’an:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَان.

(صحيح مسلم1/549)

“Orang yang mahir membaca Al Qur’an bersama malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan berat atasnya maka baginya dua pahala.” (Shohih Muslim: 1/549).

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَأَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ.

(سنن الترمذي: 5/175)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan. Aku (Nabi Muhammad) tidaklah mengatakan AlifLaamMiim adalah satu huruf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (Sunan Tirmidzi: 5/175)

Suatu ketika saya bersama teman-teman organisasi membuat sebuah program, yang kami beri nama BBAQ (Bina Baca AL Qur’an). Dengan menargetkan ana-anak SMA sebagai binaa. Singkat cerita kami pilihlah salah satu sekolah sebagai tahap percobaan atas pelaksanaan program tersebut.

Saat hari pertama perkenalan, kami melakukan tes baca kepada setiap anak untuk mengetahui kemahiran mereka membaca Al-Qur’an. Saat itu pula saya merasa miris dan trenyuh atas keadaan mereka, hampir semua anak tidak bisa membaca Al-Qur’an. Bahkan sebagian dari mereka lupa huruf-huruf hijayah, hanya ada beberapa yang bisa membaca Al-Qur’an itu pun dengan tajwid dan makhroj yang amburadul, dan selebihnya hanya bisa membaca iqro alakadarnya.

Melihat keadaan demikian membuat saya mengerti, seperti apa perhatian para pemuda terhadap Al-Qur’an di zaman ini, bagaimana kedekatan dan kepedulian mereka terhadapnya, “menyedihkan” yah begitulah ungkapan yang keluar dari bibir saya, melihat fenomena yang terjadi.

Al-Qur’an sebagai pedoman yang mengatur sendi-sendi kehidupan, penunjuk jalan bagi orang orang beriman, padanya tidak ada keraguan, memberikan solusi dari setiap permasalahan, dia berbicara tentang sains, dia mengabarkan tentang dahsyatnya hari perhitungan, di dalamnya terdapat nilai-nilai estetika dari Sang Pencipta alam semesta. Membacanya menyejukkan dan mampu menyembuhkan penyakit-penyakit hati serta memperoleh ganjaran yang tiada tara. Menghafalkannya meninggikan derajat juga memperoleh syafaat pada hari kiamat kelak. Yang mengamalkannya akan memperoleh kedudukan yang mulia , lalu kenapa kita masih mengabaikannya? Apa kita lupa dengan sabdanya?

عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، قال : قال رسول الله : يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرْآنِ اِقْرَأ وَاَرَقُّ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا ، فَإِنْ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرَ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا.

(سنن أبي داود: 2/73)

Dari Abdullah bin ‘Amru bin Ash RA. berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dikatakan kepada orang yang hafal Al Qur’an, bacalah Al Qur’an! Lembutkanlah! Dan bacalah dengan tartil, sebagaimana kamu melakukannya ketika di dunia, karena kedudukanmu (di akhirat) di akhir ayat yang kamu baca”. (Sunan Abi Dawud: 2/73)

اِقْرَأُوْا القُرْآَنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ شّفِيْعاً لِأَصْحَابِهِ.

(صحيح مسلم: 1 / 553)

“Bacalah Al Qur’an karena dia akan menjadi syafat (penolong) di hari kiamat bagi orang yang membacanya”. (Shohih Muslim: 1/553)

 

Maka sepatutnya diri kita menjadi orang-orang yang antusias terhadap Al-Qur’an, bukan malah meninggalkannya atau bahkan melupakannya. Apakah kita tidak ingin menjadi orang yang di sabdakan oleh nabi,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ

“Perumpamaan seorang Muslim yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah Utrujah, baunya enak dan rasanya juga enak. Adapun perumpamaan seorang Muslim yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti buah Kurma, tidak ada baunya dan rasa manis”.

Semoga kita menjadi lebih perhatian terhadap Al-Qur’an, tidak menjadikan sebagai hiasan semata di dalam rumah, tetapi kita membacanya, menghafalkannya, mengamalkannya, lalu mengajarkannya.

خيركم من تعلم القرآن وعلمه.

(صحيح البخاري: 6/192)

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an lalu mengajarkannya. (Shohihul Bukhori: 6/192)

اللهم اجعلنا من أهل القرآن…..

KOMENTAR