Umar dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang tegas dan takut kepada dosa. Dikenal para sejarah Islam sebagai sosok yang sangat alim, adil dan bijaksana di dalam menjalankan pemerintahannya. Termasuk sikap Umar dalam menanggulangi pratik riba di dalam masyarakat saat itu, khususnya di wilayah yang penduduknya baru memeluk dan belajar Islam.

Umar sangat menyadari bahaya riba dalam kehidupan sehari-hari. Karena dia mengetahui akibat harta haram kepada komunitas masyarakat muslim beserta hukum-hukumnya. Sehingga Umar selama masa kekhalifahannya menyediakan kebijakan preventif dalam menanggulangi permasalahan riba dan sejenisnya. Selain terus memberikan pemahaman tentang riba dan menyuburkan kajian-kajian keilmuan, Umar memiliki kebijakan tersendiri yang seharusnya bisa kita usahakan di zaman ini.

Kebijakan preventif itu adalah dengan cara menyediakan petugas-petugas khusus yang diutus ke pasar-pasar untuk melakukan sertifikasi kepada para pedagang di pasar. Sertifikasi ini berupa ujian terhadap kepahaman pedagang terkait masalah muamalah maaliyah  yang meliputi hukum-hukum dalam perdagangan, riba, gharar dan lain sebagainya.

At Tirmidzi meriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu mengeluarkan perintah:

“Jangan berjualan di pasar ini para pedagang yang tidak mengerti dien (halal-haram dalam jual beli)”

dalam kitab yang lain Umar bin khattab mengatakan hal yang sejalan dengan kalimat di atas:

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا .

Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.

Imam Malik juga meriwayatkan bahwa beliau memerintahkan para penguasa untuk mengumpulkan seluruh pedagang dan orang-orang pasar, lalu beliau menguji mereka satu persatu. Saat beliau mendapati mereka tidak paham terkait halal-haram dalam jual beli, maka ia melarang mereka masuk ke pasar. setelah itu beliau menyuruh mereka mempelajari fiqih muamalah dan diperbolehkan masuk ketika sudah dapat memahaminya.

Beliau berkata,

“Seorang laki-laki tidak halal melakukan akad jual beli selagi dia belum memahami bab fiqih jual-beli”

Juga diriwayatkan dari Muhammad bin Hasan, ia berkata:

“Setiap pemegang usaha yang kuat memegang agama wajib ia meminta didampingi oleh ahli fiqih muamalat yang takwa agar si pedagang dapat bermusyawarah dengan ahli fiqih tersebut tentang transaksi yang ia lakukan”.

Tradisi ini masih berjalan hingga abad ke-8 hijriyah di wilayah-wilayah Islam, seperti dikisahkan oleh ibnu Al Hajj (Ulama Madzhab Maliki, Wafat th. 737),

Aku mendengar guruku Abu Muhammad -rahimahullah- berkata: bahwa dia masih menemukan di maroko petugas negara yang melakukan pemeriksaan di pasar. Ia menguji para pedagang dan pemilik toko tentang hukum-hukum jual beli barang yang ia dagangkan dan bagaimana riba bisa terjadi dalam transaksi dagangnya serta bagaimana cara menghindari riba. Jika pedagang dapat menjawab maka akan dibiarkan dan jika tidak bisa menjawab maka petugas menyuruhnya meninggalkan pasar seraya berkata, ” kami tidak membiarkan engkau berjualan di pasar karena engkau akan memberikan umat Islam riba dan harta haram”.

Berdasarkan penjelasan di atas, sebetulnya jika Umat Islam memahami pentingnya kepahaman tentang harta haram dalam perdagangan mereka, maka tentu mereka akan mempelajarinya. Atau dengan cara mencari konsultan dalam permasalahan halal-haram dalam perdagangan sebagaimana mereka menyewa jasa konsultan terkait strategi marketingbrandingdan sebagainya.

Disamping itu sertifikasi-sertifikasi dari pemerintah maupun badan lainnya dapat disediakan sebagaimana yang dicontohkan Umar bin Khattab. Sehingga umat muslim bisa dengan tenang mendapatkan harta dan penghidupan mereka. Hal ini sangatlah mungkin dilakukan mengingat di zaman sekarang sertifikasi lazim dilakukan untuk melakukan standarisasi dan kebutuhan lainnya. lantas mengapa untuk masalah halal-haram ini tidak bisa?

Baca juga artikel tentang riba:

Akibat Harta Haram untuk Kita dan Umat

Harta Haram di Masyarakat Modern

Takut Dosa Riba, Jabatan Kepala Cabang Bank Mandiri Pun Dilepas

Sumber :

www.hidayatullah.com

https://rumaysho.com/824-berilmu-sebelum-berdagang.html

Erwandi Tarmizi, Dr,  Harta Haram Muamalat Kontemporer, Berkat Mulia Insani, Bogor, Cetakan XII, 2016 

KOMENTAR