Namanya Lili, wanita kelahiran Malang 1995. Dari kecil dia selalu memiliki prestasi yang membanggakan keluarga. Mendapat beasiswa keringanan sekolah dari SMP hingga SMA. Sopan kepada yang lebih tua, berbahasa yang baik, jua sholat dan mengaji. Dia pun kerap mengkaji kitab-kitab pesantren bersama teman-teman sekampung.

Sayangnya, walau demikian, tetap saja hidayah dan ilmu tak pernah merasuk dalam dirinya.

Bagi Lili, gaya hidup (pakaian) harus setara dengan kemajuan zaman. Harus terlihat bagus di mata yang melihat. Harus mengikuti mode yang sedang menjadi trendsetter. Jadi, memakai celana jeans di atas lutut, memakai rok mini, tak berhijab, menjadi style seorang Lili.

Tidak hanya itu, rasanya belumlah cukup dikatakan ikut trend jika seorang perempuan masih belum memiliki pasangan, bagi Lili itu sebuah keharusan. Tak tanggung-tanggung pula, dia pun bergaul dengan pemabuk, penjudi, hingga pemakai narkoba.

Sepuluh tahun, yah sepuluh tahun gadis ini hidup dalam kemaksiatan. Hura-hura, menghabiskan waktu sia-sia. Bergelimang dosa.

Karena keterbatasan ekonomi, Lili memutuskan untuk berangkat ke luar negeri menjadi TKW. Di negara asing ini, pertaubatan seorang Lili belum dimulai. Tetap saja, dia menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Seakan itu adalah sebuah kebutuhan yang harus selalu terpenuhi. Ternyata, laki-laki itu tidak cukup membuat Lili bahagia, dia mencari yang lain lagi, maka bertemulah dengan seorang chef asal Maroko.

Dari lelaki ini, sejumput kebahagiaan dia dapati. Cinta Lili benar-benar bersemi, bahkan chif itu berjanji mengajak untuk hidup bersama.

Sayangnya, jodoh bukan manusia yang menentukan, melainkan Dia. Chif itu meninggalkan Lili. Memilih seseorang yang lebih baik darinya.

Tak ayal lagi, perasaan Lili, hancur sehancurnya. Harapan itu musnah berkeping-keping. Patah hati. Pupus sudah semua impiannya.

Pada fase ini, sampailah dia pada titik nadir terendah. Terjatuh dan benar-benar terpuruk. Meja-meja pesta menjadi tempat pelampiasan, berkumpul dengan orang-orang yang menyukai sesama jenis, merokok, bahkan meneguk alkohol.

Namun Allah masih menginginkan kebaikan padanya. Bertemulah Lili dengan seorang perempuan melalui jejaring facebook. Perempuan yang menggenggam erat dan berpegang teguh pada agamanya. Inilah awal titik balik Lili, meninggalkan kehidupan kelam.

Hijab bukan pilihan, tapi kewajiban, pesan sosok itu pada Lili. Secercah harapan muncul. Dia pun mulai berhijab.

Sejak kehadiran sang perempuan, Lili bertemu dengan orang-orang baik dalam kehidupannya. Fase hijrah dimulai. Dan perjuangan sebagai seorang muslimah jua dimulai.

Otomatis, kehidupan Lili berubah drastis. Dari dipersulitnya untuk ikut pengajian oleh majikan hingga kehilangan teman-teman dekatnya. Bahkan, dia juga harus berjuang dengan hijab saat musim panas yang bisa mencapai 40 derajat celsius.

Sekarang sudah setahun lebih berlalu, Lili hidup di negara asing dengan hijabnya. Semoga dia tetap istiqomah dan mendapat ridho-Nya.

Baca jugaHidayah Bukan Warisan

KOMENTAR