Pertanyaan: Bolehkah mengambil keuntungan sebesar-besarnya dalam dagang. Ataukah ada batasan tertentu untuk  mengambil keuntungan?

 

Jawab:

Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat beriring salam senantiasa tersampaikan kepada Rasulillah r, para sahabat dan siapa pun yang mengikuti mereka hingga Hari kiamat. Amma ba’du:

Sebetulnya pertanyaan senada, sudah pernah disampaikan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Jawaban dari beliau sebagai berikut:

Syariat Islam tidak memberikan batasan tertentu untuk mengambil keuntungan dalam perdagangan. Namun seorang mukmin sangat diperintahkan bermurah hati kepada saudaranya, di samping ridha dengan keuntungan yang tidak banyak sebagai rahmat dan belas kasih kepada saudaranya, juga sebagai bentuk taawun alal birri wat taqwa.

Seorang muslim saudara bagi muslim yang lain. Dan siapa pun senantiasa memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah memenuhi segala keperluannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:  

((وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ))

“Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang kesulitan, niscaya Allah memberi kemudahan kepadanya di dunia dan Akhirat.” (Sahih Muslim, no. 7028)

Beliau juga bersabda:

((يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا))

“Berikan kemudahan dan jangan mempersulit.” (Sahih Al-Bukhari, no. 6125)

Jika seorang muslim banyak memberi kemudahan kepada saudaranya, juga ridha mendapat keuntungan yang tidak banyak maka jauh lebih baik.

Tapi tidak ada batasan tertentu dalam mengambil keuntungan. Apakah sepertiga, seperempat, atau pun setengahnya. Jika seseorang membeli barang dengan harga 40 ribu, kemudian kondisi pasar berubah, dia boleh menjualnya 100 ribu. Karena tidak ada batasan terhadap perubahan harga di pasar.

Tapi jika seseorang menipu manusia, misalnya harga di pasar adalah 40 ribu, kemudian menjualnya 50 ribu atau 60 ribu, tanpa memberitahu mereka harga yang ada di pasar maka ini tidak boleh. Karena merupakan perbuatan dzalim.

Jika harga suatu barang di pasar adalah 40 ribu maka penjual harus memberitahu pembeli dengan menjelaskan: “Barang ini di pasaran harganya 40 ribu. Tapi saya tidak menjualnya 40 ribu. Jika anda mau membeli dengan harga 50 ribu kepada saya maka silahkan. Jika tidak, anda bisa mencarinya di toko lain.”

Demikian halnya jika harga suatu makanan per kilonya di pasaran adalah 10 ribu. Anda jangan menjualnya lebih dari 10 ribu hingga memberitahu pembeli bahwa di pasaran dijual 10 ribu tapi anda menjualnya 12 ribu. Jika pembeli tidak mau maka persilakan  dia mencarinya di toko lain.

Kesimpulannya: Seorang muslim tidak boleh  menipu saudaranya dalam harga barang. Tapi memberitahukan kepada mereka harga sebenarnya. Ini jika harga suatu barang di pasar diketahui dengan jelas.

Adapun jika harganya tidak jelas, selalu berubah, bisa bertambah atau berkurang maka seseorang boleh menjualnya dengan mengambil keuntungan berapa pun selama jangan mendzalimi saudaranya.

Wallahu a’lam.

 

Sumber:

http://www.binbaz.org.sa/noor/4040

KOMENTAR