Wafi Marzuqi Ammar, Ph.D

 

Saudara, di antara bagian rukun iman adalah beriman kepada takdir, yang baik dan buruk. Sementara seorang mukmin, urusannya selalu baik. Jika ditimpa kesenangan, dia bersyukur maka lebih baik baginya. Sedangkan jika ditimpa keburukan maka bersabar dan itu lebih baik baginya.

Rasulullah r bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Segala urusannya adalah baik. Dan itu hanya bagi seorang mukmin. Jika tertimpa kesenangan, dia bersyukur maka lebih baik baginya. Dan jika tertimpa keburukan dia bersabar maka juga lebih baik baginya.” (HR. Muslim, no. 7692)

Di antara aqidah ahlussunnah wal jamaah, apa pun yang terjadi di muka bumi ini, kebaikan atau keburukan, semuanya adalah perbuatan Allah. Dan untuk memahami takdir, anda harus mengimani empat hal. Yaitu: Meyakini bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini, tidak akan terjadi, kecuali itu berdasar (1) Ilmu Allah
(2) Kehendak Allah (3) Penciptaan Allah. Dan (4) Tulisan Allah di kitab induk “Lauh Mahfudz”.

Karena sangat mustahil bagi Allah, jika ada suatu peristiwa yang terjadi di bumi kemudian Allah tidak mengetahuinya, tidak menghendakinya, tidak menciptakannya, dan tidak mencatatnya. Jadi, apa pun yang terjadi di muka bumi, semuanya berjalan sesuai dengan empat perkara di atas.

Mungkin anda bertanya: Bagaimana Allah memperbuat keburukan dan menghendakinya? Apakah Allah menghendaki orang untuk bunuh diri misalnya? Apakah Allah menghendaki seseorang berbuat zina? Apakah Allah menghendaki makhlukNya bermaksiat dan menciptakan maksiat itu?! Maka saya katakan: Jika Allah menghendaki demikian, apa salahnya?

Saudara, ketahuilah! Kehendak atau iraadah Allah ada dua macam. Iraadah kauniyahdan Iraadah syar’iyyah. Iraadah kauniyyah adalah perkara yang pasti terjadi meski Allah tidak menyukainya. Sementara iraadah syar’iyyah adalah perkara yang Allah mencintainya tapi belum tentu terjadi.

Untuk yang pertama seperti perbuatan merusak di muka bumi sebanyak dua kali yang dilakukan bani Israil. Hal ini disebutkan Allah dalam firmanNya berikut:

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوّاً كَبِيراً

“Kami telah tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar’.” (QS. Al-Israa’: 4)

Allah tentu tidak menyukai kerusakan, tapi itu pasti terjadi. Anda jangan mengatakan bahwa Allah tidak menghendakinya. Jika Allah tidak menghendaki, sementara bani Israil menghendaki dan tetap membuat kerusakan, berarti Allah kalah dari bani Israil. Dan itu sungguh perkara yang lucu.

Mana mungkin Allah sang pencipta alam semesta, tidak menghendaki kemudian bani Israil yang hanya para hamba hina, menang atas Allah dengan menghendakinya.

Amru bin Haitsam berkata: Kami menaiki kapal, bersama kami ada seorang qadari (berpemahaman qadariyah) dan majusi. Sang Qadari berkata kepada si majusi: “Masuk Islamlah.” Sang majusi menjawab: “Saya masuk Islam kalau Allah menghendaki.” Sang Qadari berkata: “Allah menghendaki kamu masuk Islam tapi Setan tidak  menghendakinya.” Sang majusi menjawab: “Allah berkehendak, Setan juga berkehendak. Tapi kenyataannya saya mengikuti kehendak Setan. Karena Setan lebih kuat.”

Dalam riwayat lain disebutkan, sang majusi menjawab: “Saya bersama dengan yang paling kuat dari keduanya.” (Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 249)

Saudara, jika kita katakan bahwa Allah tidak menghendaki terjadinya keburukan, tapi keburukan tetap terjadi. Berarti Allah lemah dan Setan yang lebih kuat. Sebab keburukan itu diperbuat oleh Setan. Tentu ini pernyataan yang sangat buruk. Karena menganggap Allah yang Maha agung kalah oleh Setan.

Karena itu yang dinyatakan Ahlussunnah wal Jamaah, sesungguhnya setiap peristiwa, baik atau buruk, semuanya adalah terjadi berdasar ilmu Allah, kehendak, ciptaan, dan tulisanNya di lauh mahfudz.

Silakan anda melihat diri anda. Terkadang anda menelan pil sangat pahit dan bau padahal anda tidak menyukainya. Terkadang seseorang memilih untuk diamputasi tangan atau kakinya, padahal dia tidak menginginkannya.

Bukankah dalam hal ini, seseorang tidak menyukai minum pil dan tidak menyukai dipotong organ tubuhnya, tapi mengapa tetap melakukan yang demikian?

Jawabannya: Karena kita mengharapkan maslahat lain di balik itu yang jauh lebih besar. Yaitu anda menginginkan kesembuhan, atau berharap jangan sampai penyakit menjalar pada organ tubuh yang lain, sehingga mau tidak mau harus diamputasi.

Sama seperti itu kehendak Allah. Allah tidak suka menimpakan musibah kepada hambaNya. Tapi tetap Dia timpakan, karena menghendaki kemaslahatan bagi hamba tersebut. Mungkin untuk mengampuni dosanya. Meninggikan derajatnya. Atau karena hendak menjadikannya bertaubat, agar dia tidak terus-menerus mengerjakan dosa dan segera sadar, sehingga meninggal dalam kondisi husnul Khatimah.

Dalam Hadis Qudsi, Allah berfirman:

((وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ، تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ))

“Saya tidak pernah merasa bimbang untuk mengerjakan sesuatu, seperti kebimbangan Saya terhadap jiwa seorang mukmin. Dia tidak menyukai kematian dan saya tidak suka menyakitinya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502)

Pada Hadis qudsi ini, Allah menyatakan tidak ingin mematikan hamba mukminNya. Karena kematian sangat sakit rasanya, sangat pedih dirasa, dan sangat sulit dijalani. Tapi apa harus dikata, jika seseorang tidak bisa masuk Surga dan mendapat kenikmatan lebih besar kecuali dengan jalur kematian. Karena itu Allah tetap melaksanakan kematian tersebut.

Saudara, silakan anda renungkan… jika Yahudi Israil tidak berbuat sewenang-wenang kepada saudara-saudara kita di Palestina, tentu tidak ada yang namanya mati syahid di antara kaum muslimin Palestina. Tidak ada yang namanya donasi dari kaum muslimin dunia untuk mereka. Juga tidak akan terlihat jelas, mana di antara pemimpin kaum muslimin itu yang tulus membela Islam, dan mana yang munafik dengan menjadi antek-antek Yahudi.

Ingatlah, Allah adalah Al-Hakiim, yakni yang Maha bijaksana. Jadi segala perbuatanNya berjalan atas dasar hikmah dan kebijaksanaan. Jika seseorang tertimpa musibah maka kondisi paling buruknya adalah kematian. Sementara kematian adalah kesudahan setiap orang. Cepat atau lambat setiap orang pasti meninggal. Tapi tentu berbeda, antara yang meninggal dalam kondisi terampuni, dengan yang meninggal dalam kondisi dimurkai penciptanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

((مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ))

“Musibah apa pun yang menimpa seorang muslim, apakah itu kelelahan, kesulitan, kesedihan, kecemasan, gangguan, dan problem, bahkan duri yang menancap pada dirinya, kecuali Allah menghapuskan kesalahannya dengan hal-hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari, no. 5642)

Karena itu sebagian ulama’ berkata: “Musibah yang mendekatkan anda kepada Allah, jauh lebih baik daripada kenikmatan yang menjadikan anda lalai kepadaNya.”

Sementara untuk iraadah syar’iyah, contohnya jelas sekali. Allah menyukai jika semua hamba bertauhid kepadaNya dan hanya beribadah kepadaNya semata. Tapi apakah hal ini terjadi?! Tentu tidak. Banyak sekali hamba Allah yang memilih beragama Yahudi, Nashrani, atau Atheis. Dan banyak pula dari kalangan kaum muslimin yang berbuat syirik. Dalam hal ini Allah berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kalian kafir maka sesungguhnya Allah tidak butuh kepada kalian dan tidak meridhai kekufuran atas hamba-hambaNya. Dan jika kalian bersyukur, sungguh Dia meridhai hal itu untuk kalian.” (QS. Az-Zumar: 7)

Maka, jangan pernah mengatakan bahwa Allah tidak menghendaki suatu perkara, kemudian perkara itu tetap terjadi. Inilah makna mendalam dari salah satu aqidah Ahlussunnah wal jamaah, yang mungkin anda agak sulit memahami. Tapi saya sarankan baca sekali atau dua kali lagi, kemudian renungkan. Insya Allah ini sangat bermanfaat bagi anda. Wallaahu a’lam.

KOMENTAR