Kita sebagai orang Islam tentu percaya bahwa kehidupan dunia ini tidaklah abadi. Kita percaya bahwa akan ada penghujung dunia. Kiamat pasti akan tiba. Akan tiba suatu masa, manusia digiring di padang mahsyar, lalu matahari berada di atas kepala. Maka pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah. Naungan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang istimewa, bagi orang-orang yang layak dan mulia. Siapakah mereka?

Mereka ada tujuh golongan. Lalu apakah kita termasuk ke dalamnya?

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله ، إمام عادل وشاب نشأ في عبادة الله ، ورجل قلبه معلق بالمساجد ، ورجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال فقال إني أخاف الله . ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله خالياً ففاضت عيناه ” متفق عليه

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, seorang yang hatinya senantiasa tertaut kepada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita lalu dia berkata, “aku takut kepada Allah”, seorang yang bersedakah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya, seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu menetes air matanya. (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

 

  • Pemimpin yang adil

Yang pertama mendapat naungan dari Allah adalah pemimpin yang adil. Pemimpin yang amanah dalam mengemban jabatannya. Adil kepada rakyatnya. Tidak hanya pandai menuntut hak tapi juga melaksanakan kewajiban. Tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang dititipkan Allah padanya. Dia mengerti bahwa jabatan yang diduduki hanyalah titipan dari Rabbnya yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.

Sayangnya, sekarang begitu sulit kita temui pemimpin yang benar-benar adil. Bahkan betapa banyak tersaji di depan mata kita, pemimpin-pemimpin yang tidak melaksanakan amanahnya dengan benar. Yang mencoreng nama keadilan. Tidak amanah, tidak bisa dipercaya, bermoral buruk hingga melakukan korupsi, mengambil hak rakyatnya sendiri.

Maka pemimpin seperti ini, tentu saja keluar dati golongan yang mendapat naungan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  • Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh

Ini merupakan salah satu keistimewaan bagi seorang pemuda yang hidup dalam ketaatan. Dekat dengan tuhannya, cinta pada agamanya, berakhlak baik pada orang tua, adik, kakak, kerabat dekat, tentangga, juga lingkungan  sekitarnya.

Pemuda-pemuda yang seperti ini pantas mendapat naungan dari Allah langsung, karena kebanyakan para pemuda menghabiskan waktu dalam kelalaian, memuaskan syahwat, minim pemahaman agama, bergelimang dosa dan kemaksiatan.

 

  • Seorang yang hatinya selalu tertaut ke masjid

Ini juga golongan yang sangat sedikit kita temui pada masa kini. Sungguh kita menyaksikan masjid-masjid dibangun dengan  megah nan indah tapi sepi jama’ah. Menara tinggi menjulang, tapi ketika adzan dikumandangkan hanya segelintir orang yang datang.

Mungkinkah kita termasuk orang yang memiliki hati selalu terpaut di masjid. Rindu dengan suasana masjid yang ramai. Senantiasa ingin berada di rumah Allah. Bermunajat dan berzdikir pada-Nya dalam suasana yang khusyuk. Bersegera ketika mendengar panggilan-Nya.

 

  • Dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya

Dua orang yang saling terikat karena Allah, dua orang yang saling berteman karena Allah. Karena keshalihan, karena ketaatan, karena akhlak yang mulia, bukan karena ingin mendapatkan harta, tahta, atau segala pernak-pernik dunia lainnya. Persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan dengan niat yang ikhlas dan murni karena Allah ta’ala layak mendapat naungan-Nya.

 

  • Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allâh.’

Tentu kita ingat dengan cerita Yusuf dan Zulaikha. Seorang Yusuf yang mampu menundukkan hawa nafsunya atas godaan wanita yang cantik jelita.

Akankah keimanan kita setebal keimanan Yusuf. Akannkah kita mampu mencontoh Yusuf? Yang pada saat itu jelas-jelas memiliki kesempatan untuk melakukan zina.

Jika mampu melakukan seeperti apa yang dilakukan Yusuf, maka kita termasuk orang yang akan mendapat keistimewaan pada hari kiamat nanti.

 

  • Seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya

Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang gemar melakukan sedekah secara sembunyi-sembunyi. Mereka diam-diam menginvestasikan harta mereka untuk hari akhirat. Meerka benar-benar sadar bahwa harta yang telah mereka infaqkan lah yang benar-benar menjadi harta mereka. Hingga saking gemarnya mereka bersedekah tangan kiri tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.

Namun bukan berarti hadits ini menunjukan larangan untuk bersedekah secara terang-terangan. Tentu saja itu tak dilarang. Aka tetapi sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama.

 

  • Seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya

Dzikir di sini bukan sekadar melakukan dzikir biasa, melainkan berdzikir dengan penuh penghayatan saat dalam kesendirian. Merenung, mentadaburi apa yang dilafalkan dan siucapkan hingga meneteskan air mata. Mengingat Allah dalam keadaan sepi memang layak mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah.

Seperti saat sepertiga malam, di saat semua orang terlelap dalam tidur mereka. Lalu kita bangun untuk melakukan shalat malam, bermunajat dan berdzikir pada-Nya, mengakui kelemahan kita sebagai makhluk, berdialog dengan-Nya, membicarakan keluh-kesah kita pada-Nya. Dan sungguh sangat sedikit orang yang mau melakukan ini. Kebanyakan, lebih memilih terpekur dalam hangatnya selimut tanpa peduli keutamaan dan kemuliaan saat melakukannya.

 

Semoga kita termasuk salah satu dari ke tujuh golongan ini. Aamiin.

KOMENTAR