Wafi Marzuqi Ammar, Ph.D

Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Mahad Umar bin Al-Khattab SBY

Saudara… banyak di antara kita berharap menjadi orang kaya. Sebagian besar kita, matanya menjadi hijau ketika melihat orang berpenampilan parlente, menaiki mobil Pajero, dan mempunyai rumah gedung yang banyak.

Semua orang mengharap hidupnya sukses di dunia, dan makna sukses itu ketika dirinya menjadi orang kaya raya, yang memiliki segalanya. Yang bebas memenuhi setiap apa yang diinginkannya.

Saudaraku… jangan pengen menjadi kaya. Kecuali kekayaanmu hendak engkau jadikan seperti kekayaan Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakr, Utsman bin Affan, atau Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu anhum. Mereka adalah orang-orang kaya yang menjadikan hartanya untuk kepentingan Islam. Dan kalau Anda membaca buku-buku Siirah, sesungguhnya harta mereka tidak pernah tekumpul sampai nishab.

Saya di sini, tidak hendak melarang Anda menjadi kaya. Bukan. Mohon jangan salah paham. Malah saya sangat senang jika semua kaum muslimin, adalah orang-orang kaya. Tapi yang saya maksudkan di sini, janganlah Anda konsumtif dengan harta yang Anda miliki. Itu harta Allah sebenarnya yang dititipkan pada Anda, dan bukan milik Anda. Makanya jangan dinikmati sendiri. Berbagilah. Jadikan ia sebagai kelangsungan dakwah Islam.

Apa gunanya harta banyak, kalau hanya dikonsumsi sendiri. Ini tidak jauh seperti yang dilakukan Fir’aun, Qarun, dan Namrudz.Serta orang-orang dzalim lainnya.

Seorang muslim harus kaya. Agar bisa menyekolahkan anak-anak yatim dan anak-anak miskin yang terlantar. Agar bisa mengkader dan mempersiapkan dai-dai serta para ulama’ yang mengembalikan kaum muslimin kepada ajaran agama yang murni seperti dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Seorang muslim harus kaya. Agar dengan hartanya bisa menyelamatkan akidah orang-orang lemah iman yang mudah dimasukkan Kristen atau aliran sesat, sebab minimnya ekonomi yang dia miliki.

Seorang muslim harus kaya. Agar dengan hartanya bisa menyelamatkan akidah orang-orang yang tertimpa musibah, seperti Tsunami dan lainnya, yang banyak dimanfaatkan orang-orang kafir untuk memurtadkan mereka.

Akhil karim! Jadikan harta Anda seperti harta Khadijah. Yang dihabiskan untuk kelangsungan dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Jadikan harta Anda seperti harta Abu Bakr, ketika memiliki uang 6000 dirham, dia bawa semuanya untuk kepentingan hijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menuju kota Madinah.

Jadikan harta Anda seperti milik Utsman bin Affan. Ketika kaum muslimin kesulitan tidak mendapatkan bekal untuk perang Tabuk melawan orang-orang Romawi, maka dia datang dengan menginfakkan seluruh hartanya. Hingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan:

((مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ اليَوْمِ))

“Tiada memberi madharat kepada Utsman, apa pun yang dilakukannya setelah hari ini.”Beliau mengatakannya dua kali. (HR. At-Tirmidzi, no. 3701, dia mengatakan: Ini Hadis hasan)

Tapi jika selain itu, sekiranya harta hanya dikonsumsi sendiri, dinikmati sendiri, hanya digunakan untuk memenuhi kesenangan nafsu yang mubah, apalagi digunakan untuk haram dan dosa, maka na’udzu billaah sebaiknya seseorang jangan menjadi orang kaya.Mengapa demikian?

Pertama: Karena kebanyakan orang kaya menyombongkan diri melalui hartanya. Padahal harta itu titipan Allah padanya.Allah berfirman tentang Abu Jahal, yang sangat sombong dan melampaui batas karena melihat dirinya serba kecukupan.

(كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى ﴿٦﴾ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى (٧

“Ketahuilah!Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.Karena melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaqa: 6-7)

Bahayanya, orang sombong tidak bisa masuk Surga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

((لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ))

“Tidak masuk Surga, siapa pun yang dalam kalbunya terdapat sifat sombong sebesar ukuran dzarrah (biji sawi).” (Sahih Muslim, no. 275)

Kedua: Orang kaya, seandainya menjadi penghuni Surga, maka masuk Surga pada gelombang-gelombang terakhir. Demikian itu karena hartanya yang banyak, yang tidak diinfakkan di jalan Allah, hanya menjadi hisab yang panjang atasnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

((يَدْخُلُ الْفُقَرَاءُ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِخَمْسِمِائَةِ عَامٍ نِصْفِ يَوْمٍ))

“Orang-orang miskin akan masuk Surga sebelum orang-orang kaya dengan lima ratus tahun.Yakni setengah hari.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2353 dia berkata: Ini adalah Hadis hasan sahih)

Ketiga: Sering berkumpul dengan orang-orang kaya dan biasa hidup mewah, mendorong kita susah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah ta’ala. Karena yang kita lihat, hanyalah orang-orang yang bergelimang harta dan serba nyaman hidupnya. Sementara Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengajari kita agar qana’ah dengan sabdanya:

(انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ (رواه الترمذي.

“Lihatlah kepada orang-orang yang di bawah kalian. Jangan melihat kepada orang-orang yang di atas kalian, karena hal itu menjadikan kalian tidak menghina nikmat Allah yang diberikanNya kepada kalian.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2513, dia berkata: Ini Hadis sahih)

Keempat: Islam sangat mencela orang-orang yang biasa hidup mewah. Dan tidaklah menolak dakwah para Nabi alaihimussalam kecuali orang-orang kaya yang biasa hidup mewah.  Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُم بِهِ كَافِرُونَ

“Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (QS. Saba’: 34)

Pada suatu ketika Jabir bin Abdillah membawa daging dan berjumpa Umar di jalan. Umar bertanya: “Apa yang engkau bawa wahai Jabir?” Jabir menjawab: “Daging. Sudah lama saya ingin memakan daging maka hari ini saya membelinya.” Umar berkata: “Wahai Jabir! Apakah setiap yang engkau inginkan harus dituruti?!Tidak takutkah engkau dengan ayat ini?!”

Ayat yang dimaksud adalah firman Allah dalam surat Al-Ahqaf ayat 20 berikut:

أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُم بِهَا

“Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (QS. Al-Ahqaf: 20)

Ayat ini menjelaskan tentang kondisi orang-orang yang masuk Neraka.Mereka sekarang masuk Neraka, karena dahulu menghabiskan segala kenikmatannya dalam kehidupan dunia.Sehingga tidak tersisa bagi mereka, sedikit pun kenikmatan di Akhirat.

Di sisi lain, kondisi seseorang yang menuruti semua nafsunya, adalah kondisi umum orang-orang kafir. Tentunya orang Islam berbeda jauh dengan orang kafir. Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.Sementara Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)

Kelima: Saudara… ketahuilah, orang kaya itu pada hakikatnya adalah miskin.  Semua harta yang ada pada kita hanyalah titipan. Jadi kita semua ini  miskin tidak ada yang kaya. Satu-satunya yang Maha kaya hanya Allah ta’ala. Dia berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Justru dunia dengan berbagai kemewahannya, sangat tidak bernilai di sisi Allah.Karena itu Dia mengizinkan orang kafir mengambil dunia sebanyak-banyaknya. Jika seorang muslim berniat meraup sebanyak mungkin kenikmatan dunia, berarti tiada perbedaan antara dia dengan orang kafir.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda: “Sekiranya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum orang kafir meski seteguk air.”(Sunan At-Tirmidzi, no. 2320 dia berkata: Ini adalah Hadis sahih)

Keenam: Islam mencela siapa pun yang menghendaki dunia dan mengharap kenikmatan yang dimiliki orang-orang kaya. Allah ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ، وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ

ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

القصص: 79، 80

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar’.” (QS. Al-Qashash: 79-80)

Juga berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ

النساء: 32

“Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 32)

Ketujuh: Kita hanya diperintahkan iri, kalau dikalahkan orang lain dalam urusan ibadah. Jika kita dikalahkan orang dalam hal shalat berjamaah, dalam puasa Senin Kamis, dalam membaca Al-Quran, dan lain sebagainya, inilah yang kita harus iri terhadap mereka.Adapun pada kenikmatan dunia, kita tidak perlu mengharap memiliki seperti yang mereka miliki.Tapi kalahkan mereka dalam ibadah kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

((لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ))

“Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: Seseorang yang diberi Allah Al-Quran, kemudian dia membacaya sepanjang malam dan sepanjang siang. Juga seseorang yang diberi Allah harta, kemudian dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (Sahih Al-Bukhari, no. 7529)

Hanya saja yang dimaksud dengan hasad di sini adalah hasad positif yang biasa disebut “Ghibthah“, bukan hasad negatif.

Hasad positif, yaitu jika seseorang mengharap mendapat nikmat seperti yang diberikan Allah kepada saudaranya, tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut darinya.Adapun hasad yang negative, jika seseorang mengharap hilangnya nikmat dari seseorang meski bagaimana pun caranya.Inilah yang dilarang dan sangat berbahaya.

Wallaahu a’lam.

KOMENTAR