Sekarang ini mungkin kita sudah cukup familiar dengan kata walimah. Jika dibahasakan secara Indonesia kita biasa menyebutnya resepsi. Hal ini pun tidak luput dari bahasan di kalangan ahli ilmu.

Para ulama berpendapat, bahwa walimah diadakan setelah malam pertama atau setelah berhubungan badan. Pendapat mereka diambil dari dalil-dalil berikut ini;

Pertama, hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan,

بَنَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِامْرَأَةٍ فَأَرْسَلَنِى فَدَعَوْتُ رِجَالاً إِلَى الطَّعَامِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kumpul dengan istri barunya, lalu beliau menyuruhkan untuk mengundang para sahabat untuk makan. (HR. Bukhari 5170)

Masih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَعَلَيْهِ رَدْعُ زَعْفَرَانٍ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَهْيَمْ ». فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً. قَالَ « مَا أَصْدَقْتَهَا . قَالَ وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ: أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Abdurrahman bin Auf sementara ada bekas za’faran di bajunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang terjadi dengan kamu?”

“Ya Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita,” jawab Abdurrahman.

“Berapa maharnya?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Setengah dinar,” jawab Abdurrahman.

Kemudian beliau bersabda, “Adakan walimah, meskipun dengan seekor kambing.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Beberapa perkataan ulama syafiiyah yang dinukil oleh As-Shan’ani,

Al-Mawardi menegaskan bahwa walimah dilakukan setelah hubungan badan. Berkata As-Subki menurut riwayat dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya walimah dilaksanakan setelah hubungan badan. Seperti yang dikatakan Anas bin Malik, ‘Di pagi hari, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab, lalu beliau undang para sahabat.’ (Subulus Salam, 1/154).

Adapun dari kalangan Malikiyah, bahwasanya walimah diadakan sebelum hubungan badan, setelah mempelai dipertemukan. Sebagaimana yang terdapat dalam fathul bari,

Sebagian Malikiyah menganjurkan agar walimah diadakan setelah pertemuan pengantin, dan hubungan badan dilakukan setelah walimah. Dan itu yang dilakukan masyarakat saat ini. (Fathul Bari, 9/231).

Sedangkan Ibnu Thulun berpendapat bahwa walimah dikeblaikan sesuai dengan adat atau tradisi masyarakat setempat. (Fashul Khawatim fima Qila fil Walaim, hlm. 44).

Namun hal yang perlu digarisbawahi adalah pelaksanaan walimah harus setelah aqad nikah. Ada pun waktu pelaksanaannya hanya perkara afdholiyahsaja. Wallahu musta’an.

KOMENTAR