Pertanyaan:

Bolehkah kita mengerjakan shalat tahajjud setelah shalat tarawih?

Jawab:

 

Segala puji bagi Allah Y dan semoga shalawat beriring salam senantiasa tersampaikan kepada Rasulillah r, keluarga beliau, para sahabat, dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan benar. Wa ba’du:

Pertama:

Sepengetahuan kami –wallaahu a’lam– tiada perbedaan pada shalat tarawih, tahajjud, dan witir. Karena semuanya adalah bagian shalat malam. Jadi ini adalah banyak nama yang dipergunakan untuk satu shalat. Yaitu shalat malam atau qiyamullail.

Sementara shalat malam, sebanyak apa pun pelaksanaannya ia tetap witir atau ganjil. Baik itu tarawih, witir, atau tahajjud. Adapun pembedaan yang ada di antara kaum awam bahwa tahajjud dan tarawih merupakan sesuatu yang berbeda maka ini kurang tepat.

Pada bulan Ramadhan, shalat qiyamullail disebut tarawih, karena kaum Salaf biasa beristirahat pada setiap dua rakaat atau empat rakaat. Karena mereka mengerjakannya dengan bacaan yang panjang dan lama.

Dalil bahwa semua shalat malam baik tarawih atau tahajjud adalah witir (ganjil) adalah Hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَام: صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Dari Ibnu Umar p bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah r tentang shalat malam. Beliau menjawab: “Shalat malam adalah dua rakaat, dua rakaat. Jika seseorang dari kalian khawatir datangnya subuh hendaknya mengerjakan shalat satu rakaat untuk mengganjilkan bilangan shalat yang sudah dikerjakannya.” (Sahih Al-Bukhari, no. 990)

Ini menunjukkan bahwa shalat malam dilakukan dengan dua rakaat salam dan dua rakaat salam. Juga tanpa batasan jumlah. Kemudian harus diakhiri dengan bilangan ganjil, untuk mengganjilkan bilangan rakaat shalat malam yang sudah dikerjakan.

Syaikh Shalih Al-Munajjid berkata:

“صَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ هِيَ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ، وَلَيْسَتَا صَلاَتَيْنِ مُخْتَلِفَتَيْنِ كَمَا يَظُنُّهُ كَثِيْرٌ مِنَ الْعَوَامِّ، وَإِنَّمَا سُمِّيَ قِيَامَ اللَّيْلِ فِيْ رَمَضَانَ بِصَلَاةِ التَّرَاوِيْحِ لِأَنَّ السَّلَفَ رَحِمُهُمُ اللَّهُ كَانُوْا إِذَا صَلَّوْهَا اِسْتَرَاحُوْا بَعْدَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعٍ مِنْ اِجْتِهَادِهِمْ فِيْ تَطْوِيْلِ صَلاَةِ قِيَامِ اللَّيْلِ”

Shalat tarawih termasuk qiyamullail. Keduanya bukan dua shalat yang berbeda sebagaimana diyakini kebanyakan awam kaum muslimin. Qiyamullail pada bulan Ramadhan disebut dengan tarawih, karena Salaf (pendahulu) umat ini ketika mengerjakan qiyamullail mereka beristirahat pada setiap dua atau empat rakaat. Hal itu karena kesungguhan mereka dalam memperpanjang shalat qiyamullail.” (Mauqi’ Al-Islam: Su’al wa jawab, 5/2206, no. 2730)

Kedua:

            Seseorang boleh mengerjakan shalat malam dua rakaat, dua rakaat meski sudah shalat tarawih dan witir bersama imam. Karena perintah untuk mengakhirkan shalat witir adalah mustahab dan bukan wajib.

Memang yang dianjurkan, hendaknya shalat terakhir yang dikerjakan seorang Muslim pada waktu malam adalah shalat witir. Berdasarkan sabda Nabi r:

اِجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا رواه البخاري: 953 ومسلم: 751

“Jadikan akhir shalat kalian pada waktu malam adalah witir (ganjil).” (HR. Al-Bukhari, no. 953 dan Muslim, no. 751)

Tapi bukan berarti seseorang kemudian dilarang shalat lagi ketika terbangun pada akhir malam. Karena ada riwayat dari Aisyah i bahwa Nabi r pernah mengerjakan shalat dua rakaat dengan duduk setelah mengerjakan shalat witir. (Sahih Muslim, no. 738)

An-Nawawi 5 memberikan komentar atas Hadis ini:

“اَلصَّوَابُ أَنَّ هَاتَيْنِ الرَّكْعَتَيْنِ فَعَلَهُمَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الْوِتْرِ جَالِسًا لِبَيَانِ جَوَازِ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْوِتْرِ وَبَيَانِ جَوَازِ النَّفْلِ جَالِسًا”

“Yang benar, sesungguhnya dua rakaat ini dikerjakan Nabi r setelah witir sambil duduk. Untuk menjelaskan bahwa shalat yang dilakukan setelah witir adalah boleh. Juga menjelaskan bahwa kita boleh duduk dalam shalat nafilah.” (Syarah sahih Muslim, 6/21)

Jika kita ingin mengerjakan shalat tahajud pada waktu malam, kita boleh shalat witir dengan berjamaah. Kemudian kita mengerjakan shalat berapa rakaat pun yang kita kehendaki pada akhir malam. Tapi harus dua rakaat, dua rakaat, dan tidak perlu mengulang shalat witir.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz 5 ditanya: Jika saya mengerjakan witir pada permulaan malam, kemudian saya bangun pada akhir malam, bagaimana saya harus shalat?

Beliau menjawab: Jika anda sudah mengerjakan shalat witir pada permulaan malam, kemudian Allah I memudahkan anda bangun pada akhir malam maka shalatlah sesuai keinginan anda dengan bilangan genap. Yakni dua rakaat, dua rakaat, tanpa mengerjakan witir. Berdasarkan sabda Nabi r:

لاَ وِتْرَانِ فِيْ لَيْلَةٍ رواه الترمذي: 1272

“Tidak ada dua witir dalam satu malam.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1272)

Juga berdasarkan Hadis riwayat Aisyah i bahwa Nabi r mengerjakan shalat dua rakaat setelah witir dengan duduk. (Fatawa Islamiyah, 1/339)

Wallahu a’lam.

KOMENTAR