Alangkah baiknnya jika apa yang kita lakukan selalu sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih dalam bulan yang penih berkah ini. Tentu saja Nabi telah mencontohkan bagaimana tatacara berbuka puasa yang benar.

 

  1. Hendaklah seseorang itu menyegerakan berbuka

Sebagaimana yang Nabi sabdakan,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

Dan dalam riwayat lain juga beliau bersabda,

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih).
Menyegerakan berbuka dalam artian ketika waktu berbuka sudah sampai, atau sudah berkumandangnya adzan maghrib. Bukan menyegerakan dalam makna bersegera tapi belum masuk waktu berbuka.

 

  1. Berbuka dengan kurma basah jika tersedia, atau kurma biasa

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih).

Beginilah yang seharusnya dilakukan oleh 0rang-orang yang berbuka puasa, bukan malah menyantap kue, atau aneka penganan lainnya. Melainkan berbuka terlebih dahulu dengan kurma, dan jika tak ada, maka seteguk air lebih dianjurkan.

 

  1. Mengucap bismillah

Aisyah meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)
Banyak orang yang menganggap ini hal sepele, hingga kadang melalaikannnya, padahal ini merupakan salah satu adab makan yang tak bileh ditinggalkan.

 

  1. Membaca doa

Banyak di antara kita yang tidak mengetahui doa ini, padahal ini merupakan bagian dari sunnah Nabi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan).

Begitulah berbuka ala Nabi shallahu alaihi wa sallam. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya. Wallahu musta’an.

 

KOMENTAR