Jika kita bertanya kepada seluruh manusia di muka bumi ini, apakah mereka percaya terhadap kematian? Tentu saja mereka akan mengangguk atau menjawab “iya, kami percaya.”

Sayangnya, kepercayaan itu tak dibarengi dengan persiapan. Berapa banyak kematian yang sudah kita saksikan. Berapa banyak nyawa yang sudah luput di depan mata kita. Berapa banyak nafas yang sudat terenggut tapi kita tak acuh saja. Padahal, kita sadar dan benar-benar sadar, bahwa kita pun akan mengalami hal demikian.

Mengapa kita lupa terhadap sang pemutus nikmat, sebagaimana yang dikatakan oleh nabi,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah  mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan. (HR. At-Tirmidzi)

Sudah berapa kali kita mendengar hadis ini. Kita dengar di khutbah-khutbah Jum’at, pengajian-pengajian, liqo-liqo, hingga  majelis-majelis ta’lim. Anehnya, perkara besar macam ini kita anggap angin lalu saja.

Kita sibuk dengan anak, istri, keluarga; sibuk dengan pekerjaan; menumpuk-numpuk materi, mengejar harta, tenggelam dalam lena dunia.

Kita terkungkung dengan hedonisme, hubbud dunya wa krohiyatul maut; cinta pada dunia dan takut akan kematian.

Mengapa kita tidak menjadi orang cerdas, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi,

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

kita ingat terhadap kematian dan bersiap-siap menyambutnya. Begitulah seyogyanya seorang mu’min. Menyediakan bekal sebanyak-banyaknya, mempersiapakan diri sebaik-baiknya, itulah yang dinamakan cerdas.

Kemayian itu mutlak adanya dan mutlak datangnya. Tidak ada satu makhluk pun; tumbuhan, hewan, bahkan bakteri yang hanya mampu dilihat dengan mikroskop; pasti akan mendapati kematian. Apa lagi manusia.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali-Imran: 185).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kamu akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Lalu apa yang menunda kita untuk mempersipakan diri? Apa yang menunda kita untuk beramal? Apa yang menunda kita untuk menecbar kebaikan?

Tidak ada seorang pun yang mampu selamat dati kematian. Tidak ada seorang pun yang bisa mencegah kematian. Kendati dia berda di dalam benteng yang kokoh, istana yang besar, atau dalam banguna yang dijaga oleh beratus atau beribu pengawal, tidak seorang punyang mampu luput darinya.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan mendapati kamu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh.” (An-Nisa`: 78)

Tidak ada yang mampu berlari darinya. Meski dia berlari ke ujung duia. Menghidar sejauh-jauhnya, kematian tetap akan datang.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Jumu’ah: 8).

Kita tentu melihat daun-daun layu yang gugur terbawa angin. Begitulah kematian, jika memang tiba masanya, dia akan datang, tidak bisa dimajukan, atau ditunda walau hanya sedetik.

Tua-muda, kaya-miskin, hitam-putih, tinggi-pendek, tampan-cantik, buruk rupa; semunya pasti akan meregang nyawa. Kematiantidak pilih-pilih. Kematian tidak melihat jabatan, tahta, status sosial, atau apa pun yang semacamnya. Tetap saja, nafas akan terlerai dari jasad oleh sang pencabut nyawa.

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)

Kita tentu memahami hakikat kematian. Kita tak bisa menentukan kapan, tapi kiat yakin dia pasti tiba. Kita tak tahu di mana aakan mengakhiri kehidupan dunia, tapik kita percaya itu pasti terjadi. Ajal pasti akan menyambangi. Cepat atau lambata, kita hanya mampu menunggu. Namun satu hal yang kita pahami; satu hembusan nafas adalah satu langkah menuju kematian.

 

Semoga kita menjadi orang-orang yang cerdas; mengingat kematian lalu mempersiapkannya. Wallhu musta’an.

KOMENTAR