Pernahkah kita berpikir tentang kondisi orang-orang di neraka. Mereka hidup penuh penyesalan dan dalam keputusasaan. Mendapat azab dan siksa setiap waktu. Dalam kondisi terpuruk semacam itu mereka memiliki empat permintaan,

Yang pertama,

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ

Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim”. (Al-Mu’minun: 107)

Mereka meminta kepada Allah agar dikeluarkan dari neraka, mereka ingin kembali ke dunia agar bisa berbuat kebaikan. Agar bisa mengulang waktu yang telah mereka sia-siakan, mereka ingin hidup kembali agar tidak menyesal setelah datang kematian. Lalu apa jawaban Allah?

قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

Allah berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. (Al-Mu’minun: 108)

Selesai. Allah menyuruh mereka tinggal di neraka. Dan melarang mereka berbicara pada-Nya. Lalu apa yang diharapkan jika Sang Penguasa Semesta mencampakkan mereka? Sekali-kali tidak ada seorang pun yang mampu menolong mereka. Hal ini menyadarkan mereka betapa pedihnya siksaan neraka.

Lalu mereka memiliki permintaan yang kedua,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ .لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”. Sesungguhnya Kami benar-benar telah memhawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu. (Az-Zukhruf: 77-78)

Mereka meminta kepada Malik, penjaga neraka, agar menyuruh Allah mematikan mereka. Sayangnya, permintaan itu tak pernah terkabul. Mereka akan tetap tinggal di dalam neraka sebab benci kepada kebenaran yang telah datang semasa mereka hidup di duia.

Yang ketiga,

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ

Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari”. (Al-Mu’min: 49)

Mereka meminta kepada penjaga neraka lain agar memohonkan kepada Allah untuk diringankan azab walau hanya sehari saja. Tapi apa yang mereka dapat?

قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۚ قَالُوا فَادْعُوا ۗ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Penjaga Jahannam berkata: “Dan apakah belum datang kepada kamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab: “Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam berkata: “Berdoalah kamu”. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (Al-Mu’min: 50)

Karena saking dahsyat dan pedihnya azab yang mereka dapat, mereka akhirnya meninta keringanan. Namun itu hanyalah khayalan mereka belaka. Mereka akan terus diazab tanpa henti.

Diambang keputusasaan itu mereka memiliki permintaan yang ke empat?

Kepada siapa mereka meminta?

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu”.

Lalu apa yang mereka terima?

قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. (Al-A’raf: 50).

Allah haramkan makanan dan minuman itu untuk orang kafir, mereka tidak berhak mendapatkan makanan walau hanya secuil, tidak berhak meneguk air walau hanya setetes. Betapa mengerikannya azab yang mereka terima

Selain orang-orang Yahudi dan Nashrani, siapa lagi yang masuk ke dalam kategori kafir dalam ayat di atas?

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَٰذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُون

(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (Al-A’raf: 51)

Dalam ayat ini ada  dua kriteria yang Allah sebutkan, pertama orang yang mejadikan agamanya mainan dan senda gutau. Serta yang kedua adalah mereka yang terlalu cinta kepada dunia. Hingga tertipu olehnya.

 

KOMENTAR