Perkara iman bukanlah perkara sepele. Karena imanlah seorang muslim masih menjadi hamba yang taat. Karena imanlah para sahabat rela berhijrah meninggalkan anak, istri, dan harta benda mereka. Karena iman pula lah, Bilal bin Rabbah berkata, “Ahad … ahad,” meski ia dijemur dan ditindih batu dadanya di teriknya sinar matahari

Sungguh, iman adalah perkara yang agung. Perkara yang tidak bisa ditawar. Iman adalah sesuatu yang harus dimiliki seorang muslim. Tak cukup dengan keyakinan di dalam hati, tapi diikrarkan oleh lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Al imaanu tashdiqu bil qolbi, wa taqriiru bil lisan, wa ‘amalu bil arkan.

Iman itu dibenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan.

Tentu saja, seorang muslim akan menjalani ujian untuk membuktikan keimanan mereka. Tidak ada seorang pun yang luput dari ujian. Semua pasti akan mendapatinya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ .وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut: 2-3)

Maka ada empat ciri untuk mengetahui apakah iman kita kuat atau tidak.

  1. Ay yudabbirol umuro dunya bil qonaah

Pertama, tanda kuatnya iman seorang muslim ialah, apabila dalam perkara dunia dia qonaah. Maksud di sini bukan berarti seorang muslim harus hidup dalam keadaan miskin, fakir, menutup diri atau menjauhi pernak pernik dunia. Justru sebaliknya, muslim itu harus kaya, memiliki kehidupan yang cukup agar mampu menjadi penopang dalam dakwah islam. Yang ditekankan di sini adalah, seseorang yang telah melakukan usaha maksimal, lalu dia ridho denganpemberian Allah padanya. Itulah makna qonaah di sini.

Maka sungguh pas syair yang mengatakan,

Fa in tardho bi maqsuumin ‘isyta muna’aman, wa illam takun tardho ‘isyta fii hazan

Jika engkau ridho dengan pemberian Allah maka engkau akan hidup dalam kenikmatan, tapi jika engkau tidak ridho maka engkau hidup dalam kesedihan (kesempitan).

  1. Ay yudabbirol umurol akhiroh bil hirshi

Dalam perkara akhirat dia antusias atau bersemangat. Inilah ciri kedua kuatnya iman seorang muslim. Senantiasa bersemangat dalam urusan akhirat. Antusias untuk beribadah kepada Allah. Selalu berusaha dalam ketaatan. Bersegara dalam kebaikan. Bergegas dalam beramal shalih.

Memiliki hati yang selalu ingimn dekat dengan Allah. Dan sangat mengutamakan perkara-perkara akhirat.

  1. Ay yudabbiro fii diini bil ‘ilmi

Dalam perkara agama dia menggunakan ilmu. Maksudnya ialah seseorang yang melakukan peribadatan kepada Allah ta’ala, selalu memiliki dasar ilmu. Selalu berpatokan dengan Al-Qur’an dan sunnah nabi. Dia tahu benar, bahwa perkara-perkara yang dilkukan tanpa dasar ilmu maka akan tertolak.

عن أم المؤمنين أم عبد الله عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ” رواه البخاري ومسلمز وفي رواية لمسلم: ” من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ” .

Dari Ummul mukminin Ummu Abdullah Aisyah Rodhiyallahu anha ia berkata: ” Rosulullahi Shollallahu alaihi wa sallam bersabda: ” Barangsiapa yang mengada ada suatu dalam urusan [agama] kami yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak. ” HR Al-Bukhori dan Muslim dan dalam riwayat Muslim: ” Barangsiapa yang mengerjakan perbuatan yang tidak dari [agama] kami, ia tertolak.”

Dan begitu pula dalam sebuah syair,

Kullu man bighoiri ilmin ya’malu, a’malu mardudan la tuqbalu

Setiap yang melakukan amal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tertolak dan tak diterima

  1. Ay yudabbiro fil kholqi bin nasiihah

Dalam urusan makhluk (bermasyarakat) dia memakai nasihat (berlemah lembut dan berkasih sayang). Inilah perkara terakhir ciri kuat dan teguhnya iman seorang muslim. Hubungan dengan manusia didasari dengan lemah lembut dan kasih sayang.

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang (HR At-Thobrooni dalam al-Mu’jam al-Kabiir, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih Al-Jaami’ no 2377)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yagn ada di langit” (HR Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah no 925)

Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki keteguhan iman di dalam hati. Dan Allah karuniakan kekuatan untuk senantiasa menjaganya hingga akhir hayat. Wallahu musta’an.

KOMENTAR