Adalah sebuah kewajaran saat seseorang menyukai wanita, anak, harta benda; baik itu berupa emas dan perak, maupun berupa kendaraan atau perkebunan.

Hal ini sungguh telah Allah tegaskan dalam kitab-Nya,

 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Sungguh itulah yang banyak menjadi tujuan manusia. Ingin memiliki tambatan hati dan penyejuk mata, juga mengantongi harta-harta dunia. Jika itu terpenuhi, maka sempurnalah hidup. Begitu pemikiran orang yang telah dicekoki hedonisme.

Memang itu fitrahnya manusia. Wajar-wajar saja selama tidak menjadikan nya prioritas dalam kehidupan yang fana ini. Karena di ayat selanjutnya, Allah mengabarkan ada yang lebih baik dari yang demikian,

 

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

 

Di sini Allah kabarkan bahwa ada yang lebih baik lagi. Yaitu orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Bagi mereka surga yang mengalirkan sungai-sungai. Dan kekak di dalamnya. Di karuniai pula para isteri-isteri yang suci.

Suci dari najis, kotoran, haidh ataupun nifas, begitulah kata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Kemudian, di ayat berikutnya, Allah rincikan bagaimana kriteria-kriteria orang yang bertakwa.

Pertama,

 

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”

 

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

Kedua, orang-orang yang sabar. Ketiga, orang-orang yang benar (jujur). Keempat, orang-orang yang taat. Kelima, orang-orang berinfaq. Dan terakhir, orang-orang meminta ampun di waktu sahur, atau sepertiga malam terakhir.

Setidaknya, ada tujuh kriteria yang harus kita penuhi untuk menjadi orang yang bertakwa di hadapan Allah ta’ala. Semoga kita bisa menjadi demikian. Aamiin. Wallahu musta’an.

KOMENTAR