وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqon: 27-29)

Itu adalah cuplikan ayat tentang keadaan orang-orang zhalim pada hari kiamat nanti. Penyesalan mereka karena salah dalam mengambil pilihan. Salah dalam memilih pergaulan. Salah dalam memilih teman.

Dalam tafsir Jalalain, disebutkan bahwa asbabun nuzul ayat ini tentang Uqbah bin Mu’ith yang murtad dari Islam demi seorang Ubay bin Khalaf. Namun merujuk pada tafsir Ibnu Katsir, ayat ini bersifat umum bukan hanya ditujukan untuk Uqbah bin Mu’ith saja. Ini mencakup orang zhalim secara keseluruhan.

Ekspresi mereka menggigit kedua tangannya dan berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”, Adalah bentuk penyesalan yang teramat sangat. Namun semua telah terlambat. Pena telah diangkat dan tinta telah kering, hari itu adalah hari pengadilan, dan penyesalan tidaklah bermanfaat lagi berguna.

Hal ini juga senada dengan firman Allah,

 

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. (Al-Ahzab: 66)

Maka seyogyanya kita mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah Uqbah bin Mu’ith ini. Jangan sampai kita salah memilih pergaulan, jangan sampai kita salah dalam memilih teman hidup atau teman seperjuangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi permisalan bagaimana dampak seorang teman,

 

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Alangkah baiknya jika kita berteman dengan orang-orang shaleh. Berteman dengan penuntut ilmu, berteman dengan orang yang memiliki akhlak mulia. Berteman dengan orang yang baik tuturnya juga ibadahnya.

Setidaknya, walau kita tak mampu sampai di tingkatan mereka, tapi kita masih terciprat kebaikan dari mereka.

Dan sebaliknya, jika kita berteman dengan orang yang buruk perangainya, buruk akhlaknya, kotor ucapannya, juga jauh dari agama, walau kita tak berperilaku seperti kelakuan mereka tapi kita pasti akan terkena dampaknya.

Sesungguhnya teman bisa menjadi syafaat di hari kiamat kelak sebagaiman dalam cuplikan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Demi Allah Yang jiwaku ada di tanganNya. Tidak ada seorang pun diantara kamu yang lebih bersemangat di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran, dibandingkan dengan kaum Mu’minin ketika memohonkan permohonannya kepada Allah pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mu’minin yang berada di dalam Neraka. Mereka berkata : “Wahai Rabb kami, mereka dahulu berpuasa, shalat dan berhaji bersama-sama kami.”

Maka dikatakan (oleh Allah) kepada mereka : “Keluarkanlah oleh kalian (dari Neraka) orang-orang yang kalian tahu!” Maka bentuk-bentuk fisik merekapun diharamkan bagi Neraka (untuk membakarnya). Kemudian orang-orang Mu’min ini mengeluarkan sejumlah banyak orang yang dibakar oleh Neraka sampai pada pertengahan betis dan lututnya… dst hadits (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini pula bisa menjadi patokan dan pengingat bagi kita, betapa pentingnya mencari dan memiliki teman yang shaleh lagi beriman. Karena mereka bukan saja akan selalu mengingatkan kita pada kebaikan tapi juga bisa menjadi pemberi syafaat di hari kiamat nanti.

Sekiranya kita masuk ke dalam neraka (wal iyadzubillah) kita masih bisa berharap teman shaleh  itu mencari kita di neraka dan memberikan syafaatnya.

Berkatan Hasan Al- Bashri,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Pilihlah teman-teman yang bisa membawa ke surga. Pilihlah teman yang bisa mengingatkan pada kebaikan. Pilihlah teman yang bisa menjauhkan dari kemungkaran. Kelak, teman shaleh lagi beriman itu akan menjadi syafaat di hari kiamat. Wallahu musta’an.

KOMENTAR