Bulan Syawal adalah bulan yang istimewa. Selain terdapat puasa sunnah yang sangat ditekankan, juga bulan Syawal terkenal dengan sebutan bulan pernikahan. Yah, ini sudah ma’ruf dan masyhur di Indonesia. Apalagi di kalangan para aktivis-aktivis dakwah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

 

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku pada bulan Syawwal dan berkumpul denganku pada bulan Syawwal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim no. 2551)

Ini adalah dalil bahwa menikah di bulan Syawal merupakan hal yang dianjurkan. Jadi, bagi kalian yang ingin mengikuti salah satu anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menikah alangkah baiknya itu di bulan Syawal.

Jika kita menelusuri asbabul wurud dari hadits ini, menurut kepercayaan orang Arab bahwa bulan Syawal adalah bulan sial jika melakukan pernikahan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pernikahan di bulan Syawal untuk meruntuhkan keyakinan tersebut.

Karena anggapan itu termasuk ke dalam thiyarah atau anggapan merasa sial. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang itu dalam sabdanya,

 

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakkal” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 429).

Semoga kita terhindar dari hal-hal tersebut. Dan semoga Allah melindungi kita dari hal demikian.

KOMENTAR