Pengusaha muslim di Surabaya tidak terhitung jumlahnya. Tapi mungkin hanya segelintir pengusaha muslim yang mampu menerapkan nilai nilai Islam dalam perusahaanya. Tidak ada mark up, suap dan tepat waktu. Nah, Vido Garmen bisa jadi yang termasuk perusahaan yang segelintir itu. Bahkan karena pendiriannya itu (anti mark up, red) Vido Garmen pernah kehilangan kesempatan order beromzet ratusan juta rupiah.

Mengenakan baju berwarna putih, Andhito terlihat santai saat menemui gohijrah.com di workshop sekaligus kantor Vido Garmen. Bangunan dua lantai di jalan Pucang Adi no 35 itu sekilas tidak berbeda jauh dengan bangunan di sekitarnya. Bahkan orang yang melintas pun tidak akan sadar, bahwa itu adalah bangunan perusahaan garmen. Memasuki pelataran barulah terasa aura perusahaan garmen. Deretan kemeja, kaos, dan rompi untuk contoh tergantung rapi. Logo Vido Garmen dengan warna dasar merah menyala, menyapa setiap tamu yang masuk. Warna itu terlihat kontras dengan sekitarnya.

Assalamualaikum, ucap gohijrah.com saat bertemu dengan Andhito, pemilik Vido Garmen. Setelah menjawab salam kami, Andhito pun dengan ramah mempersilahkan kami duduk di ruang tamu. Tidak sulit kan mencari alamatnya, kata pria berkacamata ini.

Membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan singkat, Andhito pun bercerita mengenai usaha yang dirintisnya itu. Menurut Andhito, memang sejak di bangku kuliah, dia sudah tertarik untuk menggeluti bisnis garmen. Pada waktu itu, menurut Andhito di Surabaya masih belum ada kaos yang berciri khas Surabaya. Kalau di Bali sudah ada Joger, di Jogja ada Dagadu, di Surabaya juga sudah ada. Akhirnya saya berfikir, kenapa tidak membuat kaos yang berciri khas anak Unair, kata Andhito yang alumni Manajemen Unair angkatan 2008 ini. Akhirnya dia berusaha mendesain kaos dan memesannya di sebuh perusahaan sablon. Kaos yang sudah jadi tersebut, ia jual ke teman kuliahnya. Alhamdulillah hasilnya positif, imbuhnya. Meski kaos produksinya laku di kalangan teman temannya, tetapi untuk membuat sebuah perusahaan garmen seperti sekarang, masih belum terpikirkan oleh Andhito. Malahan hasil dari penjualan kaos tersebut, ia gunakan untuk membuka warung penyetan. Saat itu, bisnis warung penyetanlah yang mungkin bisa saya lakukan, ujarnya tersenyum.

Membuka warung penyet, tidak membuat bisnis kaos ia tinggalkan. Malah semakin banyak order ia terima. Akan tetapi, alih-alih meneruskan kaos berciri kampusnya, ia malah menarget pasar perusahaan.Pesanan kaos yang semakin banyak, membuat ia berfikir untuk mendirikan perusahan garmen yang memproduksi kaos dan kemeja sendiri. Dengan pertolongan Allah, ia dipertemukan dengan rekannya sesama pembuat kaos. teman saya awalnya membuat kaos dengan target anak muda. Alhamdulillah, dua konsep itu bisa disatukan, terangnya. Nama Vido diambil dari dua pemiliknya, yaitu Vian dan Ado. Di awal berdirinya, Vido Garmen menggunakan embel embel syariah di belakang nama perusahaannya sebagai pembeda dengan perusahaan garmen lainnya. Dengan embel embel syariah, Vido Garmen berusaha menjaga batasan syar'i dalam menerima pesanan dan lebih selektif dalam menerima perusahaan yang akan mengorder. Akan tetapi karena tagline syariah itu dianggap terlalu berat, akhirnya Andhito menghapus embel embel syariah di belakang nama perusahaannya. "yang jelas, kami tidak menerima pesanan dari perusahaan bir atau rokok," terangnya.

Yang menarik Vido Garmen tidak mau ada transaksi mark up di dalamnya. Yang dimaksud transaksi mark up bagaimana? tanya gohijrah.com. Andhito kemudian menerangkan, biasanya transaksi yang melibatkan perusahaan, ia diminta uang jasa untuk oknum pemesannya. Oknum tersebut biasanya meminta bagian dari total omzet yang dikerjakan. misal total biaya 10 juta, ia minta ditulis 15 juta, terangnya. Suatu ketika, ia diminta oleh oknum pemesan Rp 1000 rupiah per pasang kaos. Memang terlihat kecil awalnya, tetapi saat melihat jumlah pesanannya yang banyak, nilai itu terlihat besar. pesannya 100 ribu kaos, ujarnya tersenyum. Karena menolak memberikan fee tersebut, akhirnya oknum pemesan tadi membatalkan pesanannya. Memang sayang. Tapi ini nilai yang saya pegang, ujarnya. Karena itu, Andhito lebih senang menerima pesanan dari perorangan. Bukan tidak mau. Tapi lebih selektif dan tidak ada mark up , terangnya.

Selain keengganannya soalmark up dalam bisnis, yang diutamakan dalam perusahaannya adalah pelayanan ramah dan tepat waktu.Menutup pembicaraan dengan gohijrah.com, Andhito memberikan tips untuk memilih kain yang nyaman untuk dipakai. Busana yang baik jika dipakai tidak terasa panas, lembut, halus dan tidak luntur, ujarnya menutup pembicaraan. Bagi yang berminat dengan Vido Garmen, sahabat hijrah bisa datang ke Pucang Adi 35 atau ke http://vidogarment.com (muhammad haqy/danny zulfikri)

KOMENTAR