Dalam kehidupan manusia sebagai mahluk sosial terkadang tidak lepas dari hutang atau pinjaman kepada orang lain untuk mecukupi sebuah hajat, namun timbul sebuah pertanyaan bagaimana cara kita membayar atau melunasi hutang apabila yang memberi piutang sudah tiada atau tidak diketahui keberadaanya?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan apabila dalam kondisi demikian tetap harus dibayarkan haknya meskipun si pemberi hutang sudah meninggal dunia, yakni diserahkan kepada ahli warisnya. Apabila penerima hutang hendak melunasi tanggungannya namun tidak mengetahui keberadaan ahli warisnya ataupun keberadaan pemberi hutang, maka utang tersebut dapat disedekahkan atas namanya dengan ikhlas. Dan Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui hal ini dan akan menunaikan pada orang tersebut.” (Syarh Riyadhis Sholihin, Bab Taubat, 1/47)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah meriwayatkan bahwa beliau pernah membeli budak dari seseorang, namun ketika ditinggal sejenak ke dalam rumah untuk mengambil uang, si penjual budak tersebut pergi tanpa pamitan. Hingga Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkeyakinan bahwa laki-laki tersebut tidak akan kembali lagi, akhirnya beliau menyedekahkan uang tadi seraya berucap “Ya Allah, uang ini adalah milik tuan budak tadi. Jika dia ridho, maka balasan untuknya. Namun jika dia enggan, maka balasan untukku dan baginya kebaikanku sesuai dengan kadarnya.” (Tazkiyatun Nufus pada Bab At Taubah yang dikumpulkan dari tulisan Ibnu Rojab, Ibnul Qoyyim, dan Imam Al Ghozali oleh Dr. Ahmad Farid)

Oleh sebab itu jangan kita remehkan hutang walaupun itu sedikit, karena sejatinya tidak ada hutang yang tidak terbayarkan, jika tidak bisa dilunasi di dunia, ia akan menjadi penghambat kelak sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi.

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya (II/440, 475, 508); Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1078-1079); Imam ad-Darimi dalam Sunan-nya (II/262); Imam Ibnu Mâjah dalam Sunan-nya (no. 2413); Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2147).

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 6779).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menshalatkan jenazah seorang Muslim yang masih memiliki tanggungan hutang dua dinar sampai hutang itu dilunasi.

Seorang yang meninggal dunia maka yang pertama kali diurus adalah membayarkan utang-utangnya meskipun itu menghabiskan seluruh hartanya dan tidak meninggalkan warisan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“…Setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya…” [an-Nisâ’/4:11]

 “…Setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allâh…” [an-Nisâ’/4:12]

KOMENTAR