Setiap orang sudah ditentukan rizkinya. Yang penting rasa dan pelayanan kepada pelanggan, ujar Inarta Bagus Triguna, pemilik Pelangi Bakery

Sekilas rumah di Jalan Bratang Gede VI E itu tidak berbeda dengan rumah-rumah sekitarnya. Tidak ada papan nama dan juga tanda apapun yang menerangkan rumah tersebut merupakan pabrik roti. Calon pembeli yang pertama kali datang pun harus bertanya ke tetangga sekitar untuk bisa sampai ke Pelangi Bakery.

Begitu memasuki halaman rumah barulah orang sadar, rumah tersebut merupakan pabrik roti. Peti kayu tempat telur tersusun rapi. Bahan-bahan dasar kue seperti terigu, gula dan sejenisnya terlihat disusun disalah satu sudut ruangan. Oven berukuran sedang juga terlihat menyala tanda kegiatan pembuatan roti sudah beroperasi. Dan yang paling membuat yakin rumah tersebut pabrik roti, adalah bau wangi roti yang sedang dipanggang. Hmmmm. Harum.

Berdiri sejak tahun 1993 hingga kini usaha roti rumahan ini telah mempekerjakan 11 orang pegawai. 7 orang sebagai karyawan produksi. Sedangkan 4 orang sebagai tenaga pemasaran. pemasarannya masih tradisionalsih, ujar Bagus tertawa.

Bagus kemudian mengisahkan sejarah usaha roti milik keluarganya tersebut. Saat itu kakeknya telah memasuki masa pensiun. Sedangkan tantenya masih belum bekerja setelah lulus kuliah di jurusan tata boga. Alih-alih mencari kerja di tempat lain, kakeknya menawari tantenya untuk membuka usaha sendiri. dari uang pesangon itu kakek memberi modal usaha, ujarnya.

Jumlah roti dan kue yang diproduksi pada masa awal berdirinya usaha ini tidak begitu banyak. Berkisaran puluhan saja. Penjualannya pun juga hanya difokuskan ke tetangga sekitar dan dititipkan ke beberapa tempat. Lambat laun, usaha bakery semakin membesar. Karena itu, saudara tantenya mulai ikut membantu untuk proses produksi.

Setelah dirasa cukup, keluarganya mulai mempekerjakan beberapa karyawan bagian produksi dan pemasaran. pemasarannya juga masih menggunakan rombong, tutur mahasiswa Universitas Ciputra ini.Kini setiap harinya perusahan roti yang terkenal dengan corn mayo dan kue lapisnya ini menghabiskan 50 kg terigu dan 50 kg telur dengan kapasitas produksi hingga 1000 buah per hari.

Pernah Ditipu dan Masih Andalkan Word of Mouth Marketing

Seperti kisah-kisah rintisan usaha lainnya. Pelangi bakery juga pernah mengalami masa-masa sulit dalam usahanya. Salah satu pengalaman pahit yang masih membekas adalah ditipu salah satu pemesannya. Bagus menuturkan ketika itu Pelangi Bakery menerima pesanan roti dalam jumlah besar. Sebagai unit usaha baru, tentu pihaknya merasa senang. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyanggupi dan langsung memproduksi pesanan tersebut. Ternyata begitu dikirim, alamatnya tidak ada dan ketika coba dihubungi pun tidak bisa, ujarnya tersenyum. Karena itu kini Bagus menerapkan uang muka 50 persen ketika seseorang memesan dalam jumlah banyak.

Selain kisah duka, banyak juga kisah suka yang dialami Bagus. ya seperti pesanan banyak dalam waktu singkat, tuturnya. Bagus kemudian menceritakan, saat itu ia pernah mendapatkan pesanan 4000 buah roti dalam tiga hari. Jumlah yang banyak membuat ia, keluarga dan karyawannya untuk lembur. tidur hanya 2-3 jam sehari, katanya sambil tertawa. Meskipun melelahkan tapi pengalaman tersebut bagi Bagus merupakan pengalaman yang manis dan menyenangkan.

Bagus juga menuturkan, hingga saat ini pemasaran usahanya masih dilakukan secara tradisional, word of mouth atau dari mulut ke mulut. Area pemarannya pun juga masih banyak di pasar-pasar tradisional. kita memang punya toko. Tapi masih satu di daerah PP Legi Sidoarjo, imbuhnya. Karena itu ia berharap dengan ilmu bisnis yang ia dapat dari kampusnya, ia bisa mengaplikasikan dalam bisnis keluarganya tersebut hingga lebih modern baik dalam produksi dan pemasaranya.

KOMENTAR