Sering kali kita mengantar saudara kita ke pemakaman bahkan kita sendiri ke makam untuk berziarah atau membersihkan makam kerabat kita yang sudah meninggal dunia, namun tahu kah kita bahwa masuk area pemakaman juga ada aturan atau adabnya. Bahasan ini pernah disinggung oleh Imam Nawawi dalam Al Majmu yang merupakan kitab Syarh dari Al Muhaddzab karya Asy Syairozi. Masalah ini berkaitan erat dengan orang yang ingin ziarah kubur atau memasuki kubur atau areal pemakaman.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

Yang masyhur dalam madhzab kami (madzhab Syafii) yaitu tidaklah makruh memakai sandal atau khuf (sepatu) ketika memasuki area pemakaman. Yang menegaskan seperti ini adalah Imam Al Khottobi dari ulama Syafiiyah, juga disampaikan oleh Al Abdari dan ulama Syafii lainnya. Hal ini dinukil oleh Al Abdari dari pendapat Syafiiyah dan mayoritas atau kebanyakan ulama. Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa memakai sandal ketika itu dimakruhkan. Penulis kitab Al Hawi mengatakan bahwa sandal mesti dilepas ketika masuk areal makam mengingat hadits dari Basyir bin Mabad -sahabat yang telah maruf dengan nama Ibnul Khososiyah-, ia berkata, Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau melihat orang yang berjalan di areal pemakaman dalam keadaan memakai sandal, maka beliau menegurnya, Wahai orang yang memakai sandal, celaka engkau, lepaskan sandalmu! Orang tersebut lantas melongok dan ketika ia tahu bahwa yang menegur adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia mencopot sandalnya. Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An Nasai dengan sanad yang hasan.

Sedangkan dalil bolehnya dari madzhab Syafii adalah hadits dari Anas radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Jika seseorang dimasukkan dalam liang kubur, lalu ia ditinggalkan dan keluarga yang menziarahinya pergi, maka ia akan mendengar hentakan sandalnya lalu dua malaikat akan mendatanginya dan akan duduk di sampingnya. Kemudian disebutkan hingga akhir hadits, diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim.

Ulama Syafiiyah untuk menyikapi hadits yang melarang yaitu hadits yang pertama memberikan dua jawaban:

1- Al Khotobi mengatakan bahwa itu cuma tidak disukai oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena sandal tersebut disamak dan sandal seperti itu digunakan oleh orang yang biasa bergaya dengan nikmat yang diberi. Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarangnya karena dalamnya ada sifat sombong. Sedangkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat suka jika seseorang memasuki areal kubur dengan sikap tawadhu dan khusyu.

2- Boleh jadi di sandal tersebut terdapat najis. Dipahami demikian karena kompromi antara dua hadits yang ada. (Al Majmu, 5: 205).

Sehingga kesimpulan berdasarkan kompromi dua dalil dan inilah yang jadi pegangan madzhab Syafii dan mayoritas ulama, memasuki areal pemakaman dengan sandal (sendal) tidaklah terlarang. Namun melepas sandal atau alas kaki ketika memasuki areal pemakaman lebih selamat dari perselisihan ulama. Wallahu alam.

KOMENTAR