Dunia malam tidak terlepas dari aktifitas anak muda. Berkumpul, bercanda bersama sudah menjadikan indentitas mereka. Keluar masuk diskotik, club malam dan kafe sudah menjadi kebiasaannya. Suara dentuman musik, sudah menjadi teman hidupnya. Kebiasan dugem inilah yang sulit untuk ditinggalkan seorang Tutus Wahyu Widagdo.

Kepada gohijrah Tutus mengawali ceritanya, sejak lulus SMA sudah malang-melintang di dunia malam. Dilanjutkan sampai masuk perkuliahan. Menjadi seorang dancer tidak terlepas dari dunia malam. Pertama kali hanya coba-coba di acara kecil-kecilan. Namun seiring waktu dan pertemanan, akhirnya pentas dan performent langsung di diskotik dan club-club malam semakin padat. Jadwal manggung pun semakin hari semakin banyak. Hampir tidak punya waktu untuk istirahat.

Minuman keras sudah menjadikan teman keseharian seorang Tutus. Hingga puncaknya rasa kebosanan itu menghantuinya. Meskipun gemerlap malam sudah mendarah daging pada diri Tutus. Namun dia mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut.

Tepat tahun 2011 cobaan demi cobaan datang silih berganti. Ayahnya yang tiba-tiba masuk rumah sakit. Biaya kuliah amburadul. Pekerjaan dancer ditinggalkan begitu saja. Sehingga membuatnya menjadi putus asa. Keadaan inilah yang akhirnya membawa Tutus mencari ketenangan jiwa. Perlahan-lahan dia mencoba meninggalkan pekerjaan dunia malam. Lalu mencari kegiatan- kegiatan positif diluar dunia malam.

Dia mencoba mengikuti kegiatan keagamaan di kampusnya. Pertama merasa ragu, namun berkat bimbingan teman-teman, akhirnya jadi kebiasaan. Selain belajar ngaji Tutus juga belajar sholat. Perlahan tapi pasti, ketenangan hati seorang Tutus mulai terasa. Namun cobaan dari Allah masih berjalan. Tepat 12 juli 2012 Ayahnya meninggal dunia, disaat dia akan dilantik menjadi ketua kerohanian islam kampusnya. Perasaan sedih pun tak tertahankan.

Namun tidak berapa lama, adiknya masuk penjara dalam kasus kecelakaan. Karena sang adik menabrak orang hingga meninggal dunia. Perpisahan orang tuanya, menjadikan pelajaran bagi hidupnya. Setiap hari bersama nenek dan kakeknya. Hanya mereka berdua yang dia punya. Namun hal itu tidak membuat Tutus larut dalam kesedihan. Teman-teman kampusnya banyak yang mendorong semangatnya. Agar selalu tenang dalam menghadapi ujian dari Allah itu.

Yang pada akhirnya mencoba pekerjaan baru, yaitu sebagai penyiar radio islam di Surabaya sambil membantu teman di wedding organizer syar'i. Kegiatan itu dijalani dengan telaten sekitar tahun 2013. Sambil terus belajar memperdalam agama islam. Tepatnya di Masjid Baiturrozaq kawasan surabaya barat.

Tepat tahun 2015, dia menikah, melalui proses ta'aruf. Namun dalam proses ta'aruf, nenek dan kakeknya meninggal dunia. Sedih memang, keduanya tidak bisa melihat hari pernikahannya.Dengan kesabaran dan keteguhan hati, akhirnya pertolongan Allah mulai nampak dirasakan. Waktu masih belajar agama, kemana-mana selalu memakai sepeda motor pinjaman. Dan selalu berganti-ganti. Sampai pada akhirnya mencoba mengajar ngaji pertama kali. Padahal dia belum merasa mampu. Atas dorongan teman-teman dia mencobanya. Muridnya yang pertama adalah seorang bapak-bapak didaerah JambanganSurabaya.

Karena tidak mempunyai sepeda motor, maka bapak tersebut menawarkan sepeda motor honda barunya untuk dibawanya pulang. " kamu beli cicil motor ini 10jt, kapan pun terserah kamu cicilnya?" kata orang tsb. Namun tak berapa lama sudah dianggap lunas. Padahal perasaannya belum genap 10jt. Hanya ucapan syukur alhamdulillah yang mampu diucapkan seorang Tutus. Atas semua kebaikan Allah melalui orang tsb.

Dengan hadirnya seorang anak perempuan membuatnya bertambah semangat dalam hidupnya. Berkah anugerah pun selalu datang dari Yang Maha Kuasa. Dimana dia dulu pernah membantu temannya dalam mengelola wedding organizer syar'i, malah sekarang disuruh mengelolanya langsung. Yakni namanya afada muslim yang dikelola bersama istrinya. Serta di bantu karyawan freelance sebanyak 15 orang.

Dalam wedding organizer ini nilai-nilai syar'i yang ditekankan. Semua diatur sesuai syariat agama. Disaat ada even pernikahan, pakaian jilbab mempelai wanita tidak boleh ketat, tidak mencukur alis, ada pemisahan antara mempelai pria dan wanita. Wudlunya harus tetap dijaga. Jika waktunya sholat, meskipun ada resepsi, tetap melakukan sholat dahulu. Semua resepsi pernikahan diatur sesuai syar'i. Tidak ada foto preweding, yang ada post wedding. Karena kedua mempelai sudah halal. Lalu Diberikan buku panduan menikah. Yang berisi tentang Menjaga komunikasi antara istri dan suami dengan baik.

Dengan adanya wedding syar'i ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam menikahkan anaknya. Serta menjadi pilihan syiar dakwah dalam menikahkan anaknya. Agar semua mampu menjaga kesucian masing-masing mempelai pria dan wanita. Ini pun salah satu perjuangan di jalan Allah.

Agar menjadi Harapan kita semua untuk terus berjuang dan istiqomah dijalan Allah. Sebagai pemuda sudah sepatutnya untuk memakmurkan masjid. Karena sebagai tabungan pahala. Hidup ini harus mempunyai bermanfaat bagi sesama. Mampu menjadi inspirasi semua orang. Agar menjadikan hijrah ini sebagai nilai dakwah yang baik.

KOMENTAR