Berbagai aliran ajaran islam tumbuh dan berkembang di indonesia. Semua mencari pembenaran bagi kelompoknya masing-masing. Mencari kesempurnaan ajaran yang mereka yakini. Bahwa inilah yang paling benar!

Namun yang menjadi pertanyaan dan harus kita renungkan, "Sudah sejauh manakah kita telah memahami dan mengamalkan ajaran itu?Pertanyaan inilah yang paling penting yang harus direnungkan dan dijawab? Karena, jawaban dan pertanyaan inilah yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketakwaan seseorang.

Alloh berfirman,Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(Al Ashr: 1-3)

Alloh berfirman,Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.(Al Hujurot: 13)

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaranislamini adalah ajaran yang paling sempurna. Karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan kemanusiaan sampai urusan negara. Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Alloh berfirman,Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.(Al-Maidah: 3)

Semua ini menunjukkan sempurnaanya agama Islam. Yang sangat luas maknanya. Baik itu secara teori demokrasi, filsafat atau lainnya, yang sesuai di ucapan oleh Plato, dan Aristoteles.

Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam, pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baroah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para Nabi dan Rosul yang diutus oleh Alloh kepada ummat manusia. Maka barangsiapa yang tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi.

Kita senantiasa berdoa pada Allah dalam shalat kita minimal 17 kali dalam sehari, yaitu saat membaca surat Al-Fatihah. Kita senantiasa meminta pada Allah,

?Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan yang diminta dalam ayat di atas adalah hidayah al-irsyad wa at-taufiq, yaitu hidayah untuk bisa menerima kebenaran dan mengamalkannya. Bukan sekedar hidayah untuk dapat ilmu.

Jadi maksudnya kata beliau, kita minta pada Allah, tunjukkankah kita pada jalan yang lurus. Adapun makna shirathal mustaqim, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dengan menukil perkataan dari Imam Abu Jafar bin Jarir bahwa para ulama sepakat bahwa shirathal mustaqim yang dimaksud adalah jalan yang jelas yang tidak bengkok.

Jalan yang engkau beri nikmat pada mereka.

Adh-Dhahak berkata dari Ibnu Abbas bahwa jalan tersebut adalah jalan yang diberi nikmat dengan melakukan ketaatan dan ibadah pada Allah. Jalan tersebut telah ditempuh oleh para malaikat, para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Allah,

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih.

KOMENTAR