Testimoni Kajian Arek Hijrah Capo Ipung

Capo Ipul penampilannya bergaya ala anak muda. Topi dibalik ke belakang, berkaos oblong, celana jeans kumal dan bertatto di lengan. Dia menjadi pendukung setia bonek sejak usia 10thn. Kalau sudah berbicara tentang bonek mania sangat mahir. Karena sudah menjadi hobinya sejak kecil. Dimana bonek sendiri adalah kumpulan suporter anak remaja yang hobi akan sepak bola. Berkumpul jadi satu menjadikan komunitas bonek mania. Dimana pun kesebelasan yang mereka dukung selalu diikuti dengan senang hati. Meskipun tanpa modal. Hanya bondo nekat. Yang penting bisa melihat kesebalasannya bertanding.

Menurut Capo, saat melihat kesebelasannya berlaga, bisa berinteraksi sesama bonek menjadi kebanggaan tersendiri. Karena ada ikatan emosional batin yang sangat kental diantara mereka. Sehingga menghasilkan generasi yang kental akan solidaritas tinggi. Bernyali sudah menjadi harga mati. Apapun ditabrak demi harga diri. Namun masih menjaga nilai positifnya. Serta menjunjung tinggi nilai gotong royong sesama bonek.

Kebiasan yang sudah dijalani seorang Capo, tiba-tiba berubah sedikit demi sedikit. Dimana yang selalu euforia bersama teman bonek, sekarang sudah agak berbeda. Meskipun awal pertama kali sangat berat untuk meninggalkannya! Apalagi meninggalkan miras oplosan dan narkoba! Yang sudah dijalani sejak remaja! Suporter bonek begitu keras. Karena banyak anak bonek kena musibah, kecelakaan atau kematian.

Rasa kepedulian terhadap nasib sesama muslim di negara Palestina? Meskipun kita jauh, namun rasa persaudaraan sesama muslim sangat mengetuk hatinya. Lalu timbul keinginan untuk berbuat lebih baik kepada sesama. Inilah yang melatar belakangi hijrahnya seorang Copa bonek mania. Lebih santun dan taat beribadah. Pertama-tama sangat berat pergi ke masjid. Namun karena suka dengan tausiahnya Ust. Hanan Attaki, maka memotivasi untuk terus belajar agama.

Menurut Capo, meskipun setiap orang tidak terlepas dari problematika permasalahan hidup. Kalau mempunyai keyakinan kuat apapun bisa kita lakukan. Siapa yang akan menolong kita, kalau bukan kita sendiri!

Semoga kedepan Allah memberi jalan kebaikan. Agar setiap waktu sholat, selalu menjalankan sholat. Karena kewajiban yang amanah bagi kita. Saya sadar akan waktu. Untuk selalu berbuat baik demi teman-teman bonek. Memberi contoh kepada bonek adalah dakwah yang paling simple. Menularkan kebaikan itu membutuhkan kesabaran. Mengajak kebaikan itu tidak semudah membalik tangan. Butuh sosialisasi dan edukasi terus menerus. Dengan cara mengajak teman-teman untuk sedikit demi sedikit berubah. Melalui upload di sosmed, baik fb atau instagram.

Memberi pemahaman yang santun. Seperti, ayolah jangan ngebut dll. Hal kecil ini bisa mengetuk hati saya. Karena mereka masih mempunyai orang tua. Sementara bagaimana menjaga teman-teman yang belum hijrah? Butuh pemahaman. Selalu menjaga mental akhlak untuk tetap terkontrol. Yang membedakan akhlak dan fikiran diantara kita.

"Siapa pun yang menilai, tapi gak paham, ya sama saja?" ujarnya. Capo menambahkan, dikomunitas bonek, tidak ada kaderisasi, yang ada hanya edukasi kebaikan. Awalnya memberi tip, cara minum yang benar. Caranya cari hangat-hangat dulu. artinya minum hanya sedikit. Perubahan itu harus bertahap. Dari minum banyak ke sedikit. Hingga harapannya perubahan itu akan meninggalkan khamr selamanya.

KOMENTAR