Postur tubuhnya tinggi besar. Kulit sawo matang. Berkopyah. Sedikit senyum. Bicaranya santai. Dia adalah Firdaus Maulana Rangga Azkia. Salah seorang mahasiswa Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Meski berasal dari keluarga mampu, Firdaus tidak malu berjualan roti bakar di daerah dia tinggal.

Sebelumnya kami telah buat janjian melalaui WA. Janjian untuk ketemuan ba'da isya di kampus UC Surabaya. Karena malam itu suasana agak mendung, maka saya putuskan untuk menemui Firdaus lebih awal. Daripada keburu hujan.

Dan syukur Alhamdulillah perkiraan saya tepat, ternyata kawasan Surabaya Barat sudah hujan duluan, termasuk di kawasan kampus UC. Sesampai saya disana, sudah reda hujannya. Waktu sudah sampai di kampus UC saya mencoba untuk menghubungi firdaus lewat WA. Namun belum sampai WA terkirim, firdaus sudah muncul di lokasi parkiran sepeda motor. Langsung saya sapa," Assalamu'alaikum Mas Firdaus?" " Wa'alaikumsalam," jawabnya.

Sangat kebetulan sekali malam itu bisa ketemuan langsung dengan Firdaus. Pemuda asli Kabupaten Ponorogo ini langsung mengajak saya ke kafenya yang terletak di kawasan Kampung Made Selatan. Tidak berapa lama, kami berdua sudah sampai di kafe roti bakar. Namanya kafe roti bakar Kaisar. Dengan ditemani es teh dan roti bakar, firdaus mulai membuka obrolannya. " Gimana mas, apa yang bisa bantu," ujarnya. "Kita ngobrol biasa aja mas. Santai-santai saja,"jawabku.

Dengan wajah sejuk dan penampilan yang biasa, membuat kami berdua tambah akrab. Dimana sebelumnya, agak canggung waktu pertama kali ketemu. Firdaus adalah anak nomer satu dari dua bersaudara. Orang tuannya tinggal dan menetap di Kab. Ponorogo. Bapaknya asli Kab. Ponorogo dan Ibunya dari Kota Solo Jawa Tengah.

Menurutnya, kalau ibunya itu seorang Guru PNS dan Bapaknya wirausaha murni. Artinya usaha apapun sudah dijalani orang tuanya sebelum mempunyai bisnis radio. Mulai merantau ke Jakarta, Jadi Transmigrasi ke pulau Sumatera, menjadi penjual susu, Agen PJTKI, dan semuanya mengalami kegagalan. Lalu mencoba peruntungan di bisnis radio. "alhamdulillah kok cocok mas!" katanya dengan tersenyum.

Bisnis radio ini dimulai sejak tahun 2007. Dengan modal awal 100 juta. Namanya Radio Yasmaga FM. Titik jangkau siarannya mulai Kab. Ngawi, Kab. Magetan, Karesidenan Madiun, dan Kab. Sarangan. Radio Yasmaga FM juga mempunyai cabang di Kab. Trenggalek dan Kab. Pacitan.

Siarannya umum. Mulai musik dangdut, musik campur sari, siaran agama dan siaran pengobatan. Karena Radio Yasmaga FM juga menjadi distributor jamu tetes. Radio Yasmaga juga sering mengadakan even dipasar, untuk mempromosikan jamu tetesnya. Sejak berdiri sampai sekarang Radio Yasmaga FM mempunyai 10 karyawan. Usaha Radio ini adalah sebuah bisnis family yang langsung dikelola orang tua Firdaus sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang Radio Yasmaga FM mampu berkembang dengan baik.

Sementara bisnis pribadi Firdaus adalah kafe roti bakar kaisar. Yang terletak dikawasan Kampung Made Selatan. Dengan dekorasi khas anak muda. Diterangi lampu temaram dan tatanan meja yang rapi, membuat kafe ini beda dengan kafe lain di sekitar kampung Made Selatan. "kalau di UC itu, sejak semester awal sudah diajari untuk berbisnis," kata Firdaus dengan santai. Namun kafe roti bakar ini bukan usaha pertama yang dijalani Firdaus. Karena sebelumnya, saat semester dua sudah menjalani usaha warung kopi. Yang kopinya didatangkan langsung dari Papua. Karena salah satu teman usahanya adalah orang papua. Namun sayang usaha warung kopi itu sudah tutup sekarang. Saat ini semester lima, ganti kafe roti bakar.

Menurut Firdaus yang lahir 2. April 1997 ini, mencoba berbisnis ini belajar dan praktek langsung dari orang tuanya. Jadi sebelum di UC sudah melakukan bisnis. Di UC sebagai pengembangan jaringan baru dalam berbisnis. Karena bisa kenal dengan berbagai teman. Agar kenal orang dan bisa belajar dari orang lain.

Kafe roti bakar kaisar ini, berdiri th 2016. Usaha bersama empat orang teman satu kampus. Dengan modal awal 15 juta. Itupun perorangan tidak boleh modalnya lebih 5 juta. Kalau lebih, harus ada ijin orang tua. Agar bisnisnya sehat dan menghindari persaingan yang kurang baik. Menurut Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Marketing Komunikasi ini mempunyai harapan besar, jika lulus nanti.

Mimpinya ke depan adalah memgembangkan usaha orang tuanya. Agar bisa berkembang. Yang selama ini sudah menjadi bisnis keluarga. Yang penting dalam usaha itu sudah berani praktek dan menjalani langsung. Meskipun belum ada profit. "Dalam doa saya, semoga sebelum usia 25 tahun, saya sudah sukses dan menikah." ujarnya dalam menutup pembicaraan dengan gohijrah.

KOMENTAR