Beruntunglah orang-orang yang diberikan nikmat iman Islam. Kenapa? karena Islam adalah agama yang sempurna. Semua kegiatan, adab dan tata cara diatur dalam Islam. Mulai buang air hingga politik kenegaraan pun diatur dalam Islam. Salah satu ada yang diatur dalam islam adalah adab dalam menerima tamu.

Rasul yang mulia Muhammad mengajarkan adab mengenai tamu dan cara memuliakannya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari Rasul menyebutkan Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari)

Begitu pentingnya posisi tamu dihadapan rasul hingga beliau menggandengkan berimannya seseorang kepada Allah dengan memuliakan tamu.

Salah satu cara memuliakan tamu adalah memberikan suguhan kepada tamu. Di dalam Ihya Ulum Ad-Diin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan Janganlah seseorang mengatakan pada tamunya, Mau tidak saya menyajikan engkau makanan? Akan tetapi yang tepat, tuan rumah pokoknya menyajikan apa yang ia punya.

Imam Sufyan Ats-Tsauri juga menyebutkan, Jika saudaramu mengunjungimu, maka jangan bertanya padanya, Apakah engkau mau makan? Atau bertanya, Apakah aku boleh sajikan makan untukmu? Akan tetapi yang baik, jika ia mau makan apa yang disajikan, syukurlah. Jika tidak mau menikmatinya, tinggal dibereskan sajian tersebut. (Ihya Ulum Ad-Diin, terbitan Darul Marifah, 2: 12, penomoran Maktabah Syamilah)

Karena itu sebaiknya jika kita menerima tamu, suguhkan yang terbaik yang kita punya. Jangan memberikan tawaran kepada tamu tersebut. Terkadang jika kita menawari sesuatu kepada tamu tersebut, ia menolak secara halus karena sungkan atau malu. Padahal menyuguhkan sesuatu kepada tamu itu tergolong sedekah dan insya Allah mendapatkan pahala sedekah.

Kisah sahabat Syaban perlu menjadi pelajaran bagi kita semua. Saat mendekati sakaratul maut, Syaban ra melihat suatu adegan. Dalam adegan itu beliau diperlihatkan potongan pengalamannya saat hendak sarapan dengan roti. Ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Syaban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudian memperlihatkan Syaban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Syaban ra teriak lagi Aduh kenapa tidak semua!! Syaban ra menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Syaban bukan menyesali perbuatannya melainkan menyesali mengapa tidak optimal. Jadi mulailah kita sekarang optimal saat melakukan amal kebaikan. Bisa jadi amal itulah yang menjadi pemberat di akhirat kelak.

KOMENTAR