Kajian X-Bank oleh Ustadz Fadlan Fahamsyah, LC, Mhi dan diringkas oleh Isfanz Rozyn

Hal apa yang paling membuat Allah bergembira terhadap hambaNya? Abu Hamzah Anas bin Malik al-Anshari, berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian ketika menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang luas.(HR. Bukhari dan Muslim).

Kisah pezina yang bertaubat :

Dari Abu Nujaid Imran bin Al Hushain Al Khuzai, ia berkata, "Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullahshallallahualaihi wa sallamsedangkania dalam keadaan hamilkarenazina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam, Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapati hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman had atas diriku. Nabishallallahu alaihi wa sallamlantas memanggil wali wanita tersebut lalu beliau berkata pada walinya, Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).

Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil dan diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -red). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Setelah matinya wanita tersebut, beliau menyolatkannya. Umar pun mengatakan pada Nabishallallahu alaihi wa sallam, Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina? Beliau bersabda, Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapatitaubatyang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena AllahTaala? (HR. Muslim no. 1696).

# Kisah pembunuh yang bertaubat :

Abu Said Saad bin Malik bin Sinaan Al Khudriradhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabishalallahu alaihi wa sallambersabda, Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima? Rahib pun menjawabnya, Orang seperti itu tidak diterima taubatnya. Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya.

Kemudian ia kembali lagi bertanya tentang keberadaan orang yang paling alim di muka bumi. Ia pun ditunjuki kepada seorang alim. Lantas ia bertanya pada alim tersebut, Jika seseorang telah membunuh 100 jiwa, apakah taubatnya masih diterima? Orang alim itu pun menjawab, Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Beranjaklah dari tempat ini dan ke tempat yang jauh di sana karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Taala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu(yang dulu) karena tempat tersebut adalah tempat yang amat jelek.

Laki-laki ini pun pergi (menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut). Ketika sampai di tengah perjalanan, maut pun menjemputnya. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata, Orang ini datang dalam keadaan bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah. Namun malaikat adzab berkata, Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai pemutus perselisihan mereka. Malaikat ini berkata, Ukurlah jarak kedua tempat tersebut (jarak antara tempat jelek yang dia tinggalkan dengan tempat yang baik yang ia tuju -pen). Jika jaraknya dekat, maka ia yang berhak atas orang ini. Lalu mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan mereka dapatkan bahwa orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju. Akhirnya, ruhnya pun dicabut oleh malaikat rahmat. (HR. Bukhari & Muslim no. 2766).

Rukun dalam kalimat tauhid "Laailaha illallah" ada 2 :

  1. Meniadakan segala bentuk penyembahan, selain Allah.
  2. ?Menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan tempat bergantung.
Rukun dalam kalimat tauhid "Muhammad Rasulullah" ada 4 :
  1. Membenarkan berita dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam
  2. ?Menjalankan perintah Nabi shallallahu'alaihi wasallam
  3. ?Menjauhi larangan Nabi shallallahu'alaihi wasallam
  4. ?Beribadah hanya dengan syariat yang dibawa Nabi shallallahu'alaihi wasallam
Syarat harta halalan wa thayyiban :
  1. Zatnya baik
  2. ?Cara mendapatkannya baik
  3. ?Cara menggunakannya baik
# Seorang hamba / makhluk tidak akan dimatikan sampai habis rezekinya :

Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah di dalam mencari (rezeki), karena sesungguhnya setiap yang yang bernyawa tidak akan pernah mati sampai dia menyempurnakan rezekinya, meskipun kadang terlambat datang untuknya, maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah dalam mencari (rezeki), (yaitu) ambillah apa yang telah dihalalkan tinggalkanlah apa yang telah diharamkan. (HR. Ibnu Majah).

# Barangsiapa yang lari dari rezekinya, maka rezekinya akan lari menghampirinya, sebagaimana ajal menjemputnya :

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya." (HR Ibnu Hibban).

Marilah kita bermuhasabah terhadap diri kita masing-masing, apakah syahadat kita sudah memenuhi rukun-rukun seperti tersebut diatas ?

Wallahu ta'ala a'lam.

KOMENTAR