ini anakku ya Allah, meski hamba seperti ini tapi engkau masih memberikan anak yang sholeh seperti dia, ujar dr. Evy S. ketika bercerita tentang titik balik kehidupannya kepada gohijrah.

 

Waktu menjelang sore saat gohijrah berkunjung ke dr Evy. Begitu sampai di tempat praktek sekaligus rumah pribadinya tersebut, terlihat beberapa orang sudah mulai mengantri masuk. Meski terletak di kawasan padat penduduk di sekitar Semampir Surabaya, tidak sulit mencari praktek dr gigi Evy. Selain karena plang besi di depan jalan masuk rumahnya, warga sekitar sudah mengenal dr Evy dengan baik. Wajar, selain dokter, ia adalah mantan Ning Surabaya tahun 1990an.

Begitu tahu gohijrah yang datang, asistennya kemudian mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. maaf bu dokter masih ada pasien. Mohon ditunggu sebentar, ujarnya sambil menyuguhkan beberapa buah dan air kemasan.

dr gigi Evy S (kiri) bersama asistennya

Sekitar 15 menit kami menunggu, asisten dr Evy manggil kami untuk masuk ke ruangan prakteknya. sudah di tunggu bu dokter di dalam, ujarnya. Hawa dingin AC dan bau khas rumah sakit langsung menyeruak begitu memasuki ruang praktek. Assalamualaikum, sapa dr Evy begitu bertemu kami. Setelah berbicang ringan sebentar, dr Evy kemudian menceritakan awal mula hijrahnya kepada gohijrah.com

Menurut Evy, sebenarnya dirinya berasal dari keluarg yang agamis. Ayahnya seorang ustadz dan ibunya seorang dai perempuan. Sebagai anak tunggal, orang tua Evy cenderung protektif, hingga ia merasa sedikit terkekang dalam kehidupan pribadinya. apalagi saat itu saya lagi sma. Abah protektif sekali, terangnya.

Suatu ketika, Evy mendapat telpon dari temannya sekolah di SMA. Laki-laki. Mengetahui hal tersebut,ayah Evy marah besar hingga rambunya di cukur habis. plontos tidak bersisa, ujarnya sambil tertawa. Masalah kemudian muncul ketika ia harus pergi ke sekolah. Pasalnya, sekolah negeri saat itu melarang siswinya untuk berjilbab. saya harus fight. Minta ke guru agar diperbolehkan berjilbab, imbuhnya.

Kejadian itu sangat mempengaruhi perasaan Evy, akhirnya menyibukkan diri dengan kegiatan extra kurikuler. Dari sinilah, kehidupan malam Evy Syagran dimulai. Saat acara pentas seni di go skate Jl Embong Malang Surabaya, Evy yang saat itu diminta menjadi MC, tiba-tiba ditawari untuk siaran di salah satu radio Surabaya. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Bagi Evy ini adalah kesempatan untuk lepas dari kungkungan keluarga.

Sebagai penyiar radio, dunia malam mulai terbuka bagi Evy. Apalagi saat itu kebijakan radio tempat ia bekerja mengharuskan setiap penyiarnya untuk menjadi DJ. saya akhirnya hampir tiap malam nge-DJ. Padahal saya masih SMA, tutur Evy. Lingkungan yang buruk menjadikan ia terpengaruh teman-temannya. Tawaran menjadi DJ tambah sering ia terima. Hingga akhirnya ia mendapat tawaran untuk menjadi DJ di salah satu kafe besar di Bali dua kali dalam satu bulan.

Selain DJ, ia juga mendapat tawaran untuk menjadi Ning Surabaya tahun 1991. jadi dunia saya memang dekat dengan hiburan dan dunia malam, ujarnya mengenang. Lepas dari SMA, Evy melanjutkan kuliar di kedokteran hingga akhirnya menikah tahun 1999. Tetapi dunia malam masih belum lepas dari kehidupannya. Tidak menutup aurat dan hura-hura.

Hidayah Allah mulai datang ketika anaknya yang pertama duduk dibangku kelas 2 SMP. Ketika itu ia berlibur bersama keluarga di pantai. Tiba-tiba anaknya tidak mau diajak jalan-jalan ke pantai. Ketika ditanya alasannya, anaknya tersebut mengungkapkan dirinya malu jalan-jalan dengan ibu yang tidak berjilbab. tapi saya waktu itu masih tetap cuek, ujarnya mengenang. Hingga anaknya duduk di kelas 3 SMA, anak pertama Evy tidak mau menyapanya sama sekali. Evy pun penasaran dan bertanya kepada anaknya. Kemudian anaknya menjawab, Ma kalau Haqi masuk surga, jangan tarik Haqi ke dalam neraka ya Ma. Gara2 rambut Mama tidak tertutup jilbab. Haqi sudah mengingatkan Mama. Tolong ya Ma. Di dunia Mama sebagai Ibu. Tapi di akhirat Haqi malu sama Allah. Itu jleb awarness bagi saya, tutur Evy berkaca-kaca.

Evy pun sadar. Meskipun dirinya begitu kotor, tetapi Allah masih sayang kepada dirinya, dengan menitipkan anak yang sholeh. Dari sinilah hidayah Allah sampai dan iapun akhirnya memutuskan untuk berhijrah. Diawali dengan umrah bersama keluarga, Evy pun kini berusaha menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah.

dr gigi Evy S ketika mengisi salah satu acara

Tapi ternyata jalan hijrah Evy juga tidak mulus. Suatu ketika ia bahkan merasa mentok untuk berhijrah dan berbuat baik. Gara-garanya cukup sepele. Saat itu ia sedang bekerja di sebuah perusahaan yang banyak diisi oleh orang-orang yang mengaku sudah hijrah. Akan tetapi kehidupan mereka, sifat mereka dan tingkah laku mereka tidak mencerminkan orang yang berhijrah. orang hijrah kok kaya gini. Ya mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi, terang Evy. Hingga akhirnya anaknya mengingatkan bahwa orang hijrah itu juga manusia. Masih berproses hingga Allah menentukan jalan hijrahnya apa lebih panjang dari dosanya.

Sebelum mengakhir pembicaran Evy berpesan kepada gohijrah.com agar merangkul lebih banyak orang yang belum berhijrah. Karena Evy percaya, orang yang belum berhijrah sejatinya juga ada rasa ingin bertaubat dan memperbaiki diri. jangan jauhi dia, peluk dia. Kalau mereka merasa nyaman. Tidak merasa sedang dihakimi. Semoga dengan itu hatinya mau terbuka dan menerima hidayah dari Allah, ujar Evy menutup pembicaraan. Kini selain menjadi dokter gigi, perempuan yang pernah menjadi presenter di TV ini pun menjadi motivator dan kegiatan pelatihan parenting. Doakan sahabat, hijrah dokter gigi Evy istiqomah hingga ia bertemu dengan Rabbnya.

KOMENTAR