Mengupil. Siapa yang tidak pernah melakukannya? Hampir semua orang pernah melakukan. Hal ini pada dasarnya boleh-boleh saja. Mengingat aktivitas ini juga berfungsi untuk membersihkan hidung dari kotoroan. Karena itu di setiap wudhu kita disunnahkan untuk melakukan istinsyaq yaitu memasukkan air kedalam dua lubang hidung dan mengeluarkannya lagi.

Kalau mengupil itu boleh, lalu bagaimana jika mengupil di depan orang lain atau di khalayak ramai? Karena bisa jadi hal itu akan membuat orang lain jijik dan merasa tidak nyaman. Ternyata hukumnya berbeda jika mengupil sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Karena jika itu membuat orang lain merasa jijik maka mengupil tergolong dalam tu’afih al-anfus (menjijikkan) dan menjadi makruh.

Beberapa hadis menerangkan larangan melakukan tindakan yang dapat menyebabkan jijik. Diantaranya, hadis tentang larangan buang air kecil di air yang menggenang. Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

لا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لا يَجْرِي , ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ

Janganlah seseorang dari kalian kencing di air yang menggenang; yang tidak mengalir, lalu dia mandi menggunakan air tersebut. (HR. Bukhori)

Penulis Kifayatul Akhyar, mengutip pernyataan Imam Ar-Rafi’i –rahimahumallah– yang menjelaskan alasan larangan ini,

وهذا المنع يشمل القليل والكثير لما فيه من الاستقذار, والنهي في القليل أشد لما فيه من التنجس الماء..

Larangan ini mencakup air menggenang sedikit maupun banyak. Karena tindakan tersebut dapat menimbulkan rasa jijik. Pada air yang sedikit, larangan lebih ditekankan, karena dapat menyebabkan air menjadi najis. (Kifayatul Akhyar, hal.25)

Imam Tabrani meriwayatkan sebuah hadis dari sahabat Ibnu Umar –radhiyallahu’anhuma-, yang menerangkan larangan buang hajat di bawah pohon yang berbuah. Meskipun para ulama hadis menilai sanad hadis ini dho’if, namun secara makna, benar.

Kemudian Imam Abu Bakr bin Muhammad Al-Husaini –rahimahullah– (penulis Kifayatul Akhyar) menjelaskan alasannya,

والحكمة في ذلك حتى لا تتنجس الثمرة فتفسد, أو تعافها الأنفس..

Hikmah larangan tersebut adalah, supaya buah yang jatuh tidak terkena najis, sehingga menyebabkannya rusak, atau menyebabkan jiwa merasa jijik. (Kifayatul Akhyar, hal. 25)

Dari sini, kemudian para ulama menyimpulkan sebuah kaidah fikih,

ما يعاف في العادات يكره في العبادات

Segala tindakan yang menjijikan secara adat, maka dimakruhkan secara ibadah.

(Lihat : Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Baina Al-Isholah wa At-Taujih, hal. 161)

Dari keterangan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa mengupil hukumnya bisa menjadi makruh jika dilakukan di depan orang lain atau di depan umum hingga menyebabkan orang tersebut merasa jijik. Dan kita semua tahu hukum makruh jika ditinggalkan akan mendapat pahala insya Allah, dan jika dikerjakan tidak berdosa.

Selain itu kita bisa juga menyimpulkan bahwa agama Islam yang sempurna ini adalah agama yang indah dan menjunjung tinggi kebersihan dan mengajarkan untuk menjaga perasaan orang lain. Segala tindakan yang menjiikkan seharusnya sudah mulai ditinggalkan. Jadi masih mau mengupil di depan umum?

KOMENTAR