Seringkali kita mendengar khotbah nikah atau khotbah sholat jumat mengenai sebuah hadist tentang pernikahan yang menyatakan bahwa dengan menikah kita akan kaya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Berikut bunyi hadisnya,

اِلْتَمِسُوْا الغِنَى فِي النِّكَاحِ

“Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.” Umar bin Al-Khattab juga mengatakan semisal itu. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5:533)

Akan tetapi ada yang sudah menikah lama masih belum kaya? Syaikh Musthafa Al-‘Adawi memberi beberapa penjelasan :

  1. Kecukupan itu mutlak hak yang dimiliki Allah tabaraka wa ta’ala. Sebagaimana dalam firmannya :

وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ

“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki.” (QS. At-Taubah: 28)

  1. Apabila orang menikah dengan menikahnya dengan niat ingin menjaga kesucian diri, itulah yang membuat Allah akan memberi kecukupan sesuai dengan hadist yang diriwatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya,

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3220, Tirmidzi, no. 1655. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)

  1. Kecukupan itu diperoleh bagi yang bertakwa pada Allah dan mencari sebab yang syar’i untuk mendapatkan rezeki , Allah Ta’ala berfirman :

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (At-talaq: 3)

  1. Kaya yang dimaksud juga dapat diartikan ghina (cukup atau kaya) di sini adalah kaya hati atau hati yang selalu merasa cukup (alias: qana’ah).
  2. Kaya juga dapat diartikan bahwa Allah beri kecukupan dengan karunia-Nya dengan yang halal sehingga ia terjaga dari zina.
  3. Kekayaan itu diperoleh karena jatah rezeki untuk suami bergabung dengan rezeki istri.

Demikian, semoga Allah beri kecukupan dan kekayaan setelah menikah. Wallahu waliyyut taufiq.

KOMENTAR