Kalau kita bertanya kepada setiap muslim apakah mereka percaya dengan al-Quran? Pasti jawabannya, ya. Kemudian kita coba bertanya lagi, apakah mereka berani berperang melawan Allah dan Rasul? Jawabannya pasti tidak. Jika mereka percaya al-Quran dan tidak berani melawan Allah dan Rasulnya-nya, kenapa mereka masih melakukan praktek riba. Pasti mereka menjawab, kami tidak menjadi rentenir kok.

Ternyata kebanyakan dari kita masih belum memahami apa itu riba dan bagaimana prakteknya. Selama ini yang di dalam benak orang awam, riba identik dengan rentenir. Sedangkan bank, leasing, dan asuransi bukan riba. Padahal lembaga-lembaga tersebut adalah institusi ribawi. Kok bisa? Karena dalam prakteknya mereka memberlakukan bunga atau tambahan dalam setiap transaksinya. Menabung dapat bunga, cicilan motor ada bunga dan sebagainya.

Majelis ulama indonesia dalam fatwanya sudah menerangkan, menjelaskan dan menegaskan melalui forum rapat kerja nasional dan ijtima ulama se Indonesia, tepat pada tanggal 16 Desember 2003 telah mengeluarkan maklumat tentang haramnya “bunga”

Fatwa tersebut menerangkan bahwa bunga yang ada pada perbankkan, finance company, dan lembaga keuangan lainnya telah memenuhi seluruh kriteria riba.Riba tegas dinyatakan haram, sebagaimana firman Allah SWT:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS al-Baqarah [2]: 275).

Sedangkan pelaku riba diancam oleh Allah akan diperangi seperti dalam al-Quran

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279)

Jadi masihkah kita mau memakan bunga dari lembaga ribawi? Wal iyya dzubillah.

KOMENTAR