Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الإسْلامِ شَيْئًا إلا أعْطَاهُ. قَالَ: فَجَاءَه رَجُلٌ (وفي رواية : سأل النبي صلى الله عليه وسلم غنما بين جبلين) فَأعْطَاهُ غَنمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَاقَوْمِ، أسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لا يَخْشَى الْفَاقَةَ

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diminta sesuatu –demi untuk masuk Islam- kecuali Rasulullah berikan. Maka datang seseorang (dalam riwayat yang lain : Orang ini meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kambing sepenuh lembah diantara dua gunung) maka Nabi memberikan kepadanya kambing sepenuh lembah, lalu iapun kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad memberi pemberian tanpa takut kemiskinan sama sekali” (HR Muslim no 2312)

 

Pertama kali kami bersinggungan dengan komunitas mualaf Surabaya ketika Hanny Kristianto, pengurus mualaf Jakarta, berkunjung ke Surabaya. Qadarullah, karena kesibukannya, kami tidak bisa bertemu secara langsung dengan beliau. Akhirnya Ko Hanny memberikan kontak ketua Rumah Singgah Mualaf (RSM) di Surabaya, Angga Wibisono.

Kami pun berusaha menghubungin Angga. Sayang setelah beberapa hari, pesan singkat kami tidak dijawab. Ternyata di kemudian hari, kami baru tahu kalau Angga barusan sembuh dari sakit. Hingga akhirnya kami diberikan alamat rumah singgah tersebut beserta nomor humas RSM  Surabaya, Mami Tesa.

Alhamdulillah, hari Sabtu, 9 Desember kemarin, kami berkesempatan berkunjung ke RSM yang berlokasi di Pandugo Timur tersebut. Memasuki komplek perumahan, seorang petugas keamanan langsung menanyakan maksud kedatangan kami. “mau ke rumah singgah mualaf pak,” ujar kami menjawab pertanyaan petugas tersebut. “oh langsung aja, belok kanan, terus ke kiri hingga hampir mentok. Nanti rumahnya di sebelah kiri,” ujarnya ramah. Rupanya RSM sudah cukup familiar di Pandugo mengingat baru saja diresmikan awal bulan Desember kemarin.

Rumah yang ditempati untuk RMS terlihat sedikit “berbeda” dengan rumah sekitarnya. Maklum, rumah bercat hijau tersebut masih kelihatan asli dan belum direnovasi. Tidak ada papan nama hanya ada banner berisi foto kegiatan mualaf. “Dari gohijrah ya,” ujar Mami Tesa selaku humas RSM sambil mempersilahkan kami masuk. “ya begini ini kondisinya. Maklum barusan aja kita pindahan,” ujar perempuan yang sudah 5 tahun menjadi muslim tersebut.

Sambil mempersilahkan kami menikmati suguhan yang disajikan, Mami Tesa kemudian menceritakan kisah dibalik terbentuknya RSM. Menurut pemilik nama asli Maria Theresia ini, RSM itu berawal dari para mualaf yang dibina oleh Nurul Hayat (NH). Oleh NH mereka diberikan kesempatan untuk menggunakan fasilitas NH jika ingin mengadakan kegiatan. Tetapi para mualaf tersebut rupanya ingin berusaha mandiri dan memiliki aturan rumah tangga sendiri. Karena itu mereka kemudian berinisiatif untuk membentuk komunitas sendiri. “dengan RSM para mualaf juga memiliki tempat singgah kapanpun yang mereka butuhkan, “ ujar perempuan berdarah Cina, Jerman dan Ambon ini.

Tesa menambahkan biasanya setelah para mualaf mengungkapkan ke-Islamannya, mereka sering mengalami cobaan dan tekanan yang luar biasa, terutama dari pihak keluarga. Banyak dari mereka yang diusir dari keluarganya, ditekan dan dipaksa untuk kembali murtad. Karena itu menurut Tesa, pembinaan mualaf harus dilakukan seumur hidup. “selama ini hanya 3 bulan. setelah itu kami tidak tahu mau kemana, ” ujar Tesa. Tidak cukup hanya dibina, Tesa mengatakan bahwa para mualaf juga perlu didampingi. Karena banyak kasus para mualaf yang kesepian dan terusir dari lingkungan sekitarnya.

Nah kondisi itu yang banyak dimanfaatkan para misionaris untuk mengajak para mualaf kembali murtad. “biasanya saat baca syahadat semua mengharu biru. Semua tepuk tangan. Tapi setelah itu kami dilupakan,” ujar Tesa. Karena itu Tesa menuturkan, RSM berusaha menjadi tempat para mualaf untuk berkumpul, belajar agama, dan saling menguatkan. Masya Allah.

Mendengar penuturan Mami Tesa, kami bersyukur dilahirkan dengan iman Islam. Dari keluarga Islam. Bagi kami, hijrah yang paling berat adalah hijrah berpindah keyakinan. Dari kafir menjadi muslim. Bayangkan, berpuluh tahun mereka didoktrin dengan dogma yang keliru, tiba-tiba mereka harus meninggalkan itu semua. Jika bukan karena hidayah Allah maka mustahil semua itu bisa terjadi. Pertanyaannya adalah, jika Nabi dengan ikhlas memberikan kambing sepenuh lembah kepada orang badui yang baru masuk Islam, lalu apa yang bisa kita berikan kepada mereka?

KOMENTAR