Tertawa adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Beberapa orang bahkan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk bisa tertawa. Menonton bioskop bergenre komedi atau menghandiri pertunjukkan stand up comedy. Semuanya dilakukan demi menghadirkan tawa dalam diri manusia.

Menurut penelitian Yale Scientific, otak akan melepaskan neurotransmitter yakni dopamin ketika seseorang tersenyum. Dopamin itu dapat memberikan efek rasa bahagia yang berkepanjangan.

Seperti dikutip dari Medical Daily, tersenyum pun baik untuk kesehatan paru-paru, otot, jantung, dan sistem kekebalan tubuh. Saat tersenyum, tubuh seseorang biasanya akan lebih rileks dan hal itu dipercaya dapat menurunkan tekanan darah.

Begitu pula dengan efek tertawa yang dapat meningkatkan serotonin dan endorfin di otak sehingga mengurangi hormon stres dalam tubuh. Endorfin dikenal sebagai obat alami penghilang rasa nyeri di tubuh. Itulah mengapa pengobatan pada penyakit kronis akan lebih efektif pada pasien yang suasana hatinya bahagia dibanding pasien yang dilanda stres.

Lalu bagaimana Islam memandang aktivitas ini?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak banyak tertawa, beliau bersabda :

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.”

Kenapa kita diingatkan Nabi yang mulia untuk tidak banyak tertawa? Imam Al-Mawardi pernah mengatakan dalam adabuddunya waddin:

Adapun tertawa, apabila seseorang membiasakannya dan terlalu banyak tertawa, maka hal itu akan melalaikan dan melupakannya dari melihat hal-hal yang penting. Dan orang yang banyak melakukannya, tidak akan memiliki wibawa dan kehormatan. Dan orang yang terkenal dengan hal itu tidak akan memiliki kedudukan dan martabat.

Jadi apakah kita dilarang tertawa? Tidak. Nabi pun bercanda dan tertawa. Bukan tertawanya yang dilarang, tapi hendaknya kita tidak membiasakan tertawa hingga melupakan kehidupan akhirat dimana banyak orang akan menyesal dan berharap dikembalikan lagi ke dunia untuk lebih banyak beramal sholeh. Wallahuta’ala‘alam.

KOMENTAR