Mungkin sebelum kita hijrah, banyak keburukan yang sudah kita lakukan. Mengkonsumsi barang haram atau kemaksiatan-kemaksiatan lainnya. Nah salah satu hal yang dianggap sepele tapi dampaknya besar adalah hutang. Kenapa? Karena soal hutang tidak cukup memohon ampun kepada Allah. Ini berkaitan dengan hak orang lain. Selama orang tersebut tidak ikhlas, beban hutang menjadi tanggung jawab kita. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

Salah satu hutang yang mungkin lupa kita ingat adalah hutang di kantin sekolah. Pesan makan atau ambil gorengan bilangnya hutang, dibayar besok. Tapi keesokannya tidak bayar. Entah sengaja atau lupa. Namanya juga anak sekolah. Masih nakal, masih belum tahu urusan agama secara mendalam.   Meskipun demikian, hal itu tidak menghilangkan status hutang kita. Nah ketika sudah terlanjur dewasa, sudah lulus, sudah berkeluarga dan sudah hijrah, bagaiama kita melunasi hutang-hutang tersebut.

Pertama, kita bisa mendatangi kantin tempat kita sekolah dahulu. Langsung membayar dan meminta keikhlasannya. Tapi itu sudah puluhan tahun lalu? Bisa jadi pemilik kantin sudah diganti orang lain, pindah ke luar kota atau bahkan sudah meninggal.

Yang kedua kita bisa mencari ahli warisnya. Tidak mudah memang, tapi itu harus kita lakukan demi menebus kesalahan yang dahulu pernah kita lakukan. Resiko kita. Lalu bagaimana jika sudah sekuat tenanga kita cari tapi belum ketemu pemilik kantin tersebut atau ahli warisnya?

Yang ketiga kita bisa sedekahkan dengan niat untuk pemilik kantin.

Dalil mengenai hal ini adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Bahwa beliau pernah membeli budak. Ketika beliau masuk rumah untuk menghitung uang pembayarannya, ternyata si penjual budak pergi. Beliau lalu menunggunya, hingga Ibnu Mas’ud putus asa dia akan kembali. Akhirnya Ibnu Mas’ud mensedekahkan uang pembayaran budak itu, dan beliau mengatakan,

اللهم هذا عن رب الجارية، فإن رضي فالأجر له، وإن أتى فالأجر لي وله من حسناتي بقدره

Ya Allah, ini atas nama tuannya si budak. Jika dia ridha, maka dia mendapatkan pahalanya. Namun jika dia datang, pahala itu untukku dan dia berhak mendapat pahalaku senilai sedekah itu. (Madarijus Salikin, 1/388).

Akan tetapi jika setelah kita sedekahkan ternyata kita ketemu dengan pemilik kantin tersebut, ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama meminta keikhlasan pemilik kantin atas hutang yang sudah kita sedekahkan. Kedua jika pemilik kantin tetap meminta hutang tersebut, kita harus tetap melunasinya. Hal ini sesuai dengan Fatawa al-Muamalat Syakh Dr. Ali Salman, ketika beliau ditanya tentang orang yang mau membayar utang, namun kesulitan menemukan pemiliknya.

KOMENTAR