Berdagang atau berbisnis merupakan suatu pekerjaan yang mulia. Berdagang atau berbisnis dalam arti luas bisa bermacam-macam, bisa berdagang dalam bentuk barang maupun jasa. Dalam perjalanan suatu bidang usaha yang mulai berkembang tentunya tidak luput dari bantuan kinerja pegawai atau karyawan yang kita miliki.

Dalam pandangan Islam hendaknya para pengusaha tidak mengakhirkan membayar upahnya dari waktu yang telah disepakati, namun apabila diakhirkan tanpa ada udzur yang syari maka yang demikian termasuk kedzoliman.

Allah Taala berfirman mengenai anak yang disusukan oleh istri yang telah diceraikan,Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya. (QS. Ath Tholaq: 6).

Dalam ayat ini dikatakan bahwa pemberian upah itu segera setelah selesainya pekerjaan.Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga memerintahkan memberikan upah sebelum keringat pekerja kering.

Dari Abdullah bin Umar, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering. (HR. Ibnu Majah, shahih).

Dari hadist tersebut dapat diartikan bahwa segeralah untuk menunaikan pembayarah hak dari para pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaannya atau segera bayarlah jika ada kesepakatan sebelumnya mengenai waktu pembayarannya pada setiap waktunya baik harian, mingguan, maupun bulanan.

Seorang ulama bernama Al Munawi berkata, Diharamkan menunda pemberian gaji padahal mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering. (Faidhul Qodir, 1: 718)

Menunda pembayaran upah pada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman. Sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)

Bahkan orang seperti ini halal kehormatannya dan layak mendapatkan hukuman, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman (HR. Abu Daud no. 3628, An Nasa-i no. 4689, Ibnu Majah no. 2427, hasan). Maksud halal kehormatannya, boleh saja kita katakan pada orang lain bahwa majikan ini biasa menunda kewajiban menunaikan gaji dan zholim. Pantas mendapatkan hukuman adalah ia bisa saja ditahan karena kejahatannya tersebut.

Ulama Saudi yang berada di Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia) pernah ditanya mengenai upah para pekerja yaitu Ada seorang majikan yang tidak memberikan upah kepada para pekerjanya dan baru memberinya ketika mereka akan safar ke negeri mereka, yaitu setelah setahun atau dua tahun. Para pekerja pun ridho akan hal tersebut karena mereka memang tidak terlalu sangat butuh pada gaji mereka (setiap bulan).

Jawab ulama Al Lajnah Ad Daimah, Yang wajib adalah majikan memberikan gaji di akhir bulan sebagaimana yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi jika ada kesepakatan dan sudah saling ridho bahwa gaji akan diserahkan terakhir setelah satu atau dua tahun, maka seperti itu tidaklah mengapa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Kaum muslimin wajib mematuhi persyaratan yang telah mereka sepakati. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 14: 390).

Wallahuta'ala 'Alam

KOMENTAR