Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Maukah aku beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, Baiklah, ya Rasulullah, bersabda Nabi. Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong. Maka Nabi selalu megulangi, Dan persaksian palsu, sehingga kami berkata, semoga Nabi diam (Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87)

Dari hadis diatas kita bisa mengetahui, bahwa durhaka kepada orang tua termasuk tingkatan tertinggi dalam dosa, setelah dosa syirik kepada Allah. Kenapa? Karena jasa orang tua kepada anak, tidak akan tergantikan meskipun anak menggendong orang tuanya dari Surabaya ke Jakarta. Masih ingat peribahasa kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah? Ini menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua, terutama ibu sampai kapan pun tidak akan hilang. Lalu tindakan apa yang bisa dianggap sebagai berbuat durhaka kepada orang tua?

  • Mengucapkan perkataan yang menunjukkan tidak suka, seperti ah atau semacamnya, dan demikian juga membentak dan bersuara keras kepada orang tua.
Allh Azza wa Jalla berfirman :

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kepada selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. [al-Isr`/17:23]

Ketika mengucapkan ah kepada orang tua saja sudah dilarang, apalagi mengucapkan kata-kata yang lebih kasar dari itu atau memperlakukan mereka dengan buruk, maka lebih terlarang.

  • Mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua bersedih hati, apalagi sampai menangis.
  • Bermuka masam dan cemberut kepada orang tua.
Sebagian orang didapati sebagai orang yang pandai bergaul, suka tersenyum, dan berwajah ceria bersama kawan-kawannya. Namun ketika masuk ke dalam rumahnya, bertemu dengan orang tuanya, dia berbalik menjadi orang yang kaku dan keras, berwajah masam dan berbicara kasar. Alangkah celakanya orang yang seperti ini. Padahal seharusnya orang yang dekat itu lebih berhak terhadap kebaikannya.
  • Mencela orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dari Abdullh bin Amr bin al-Ash, bahwa Raslullh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Termasuk dosa besar, (yaitu) seseorang mencela dua orang tuanya, mereka bertanya, Wahai Raslullh, adakah orang yang mencela dua orang tuanya ? Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Ya, seseorang mencela bapak orang lain, lalu orang lain itu mencela bapaknya. Seseorang mencela ibu orang lain, lalu orang lain itu mencela ibunya. [HR al-Bukhri, no. 5 628; Muslim, no. 90. Lafazh hadits ini milik Imam Muslim]
  • Memandang sinis kepada orang tua.
  • Malu menyebut mereka sebagai orang tuanya.
Sebagian anak diberi kemudahan oleh Allh Azza wa Jalla dalam masalah duniawi, sehingga ia menjadi orang terpandang di hadapan masyarakat. Namun sebagian mereka kemudian merasa malu mengakui keadaan orang tuanya yang terbelakang di dalam tingkat sosial atau ekonominya.
  • Memerintah orang tua.
Seperti memerintah ibu untuk menyapu rumah, mencuci baju, menyiapkan makanan. Tindakan ini tidak layak, apalagi jika ibu dalam keadaan lemah, sakit, atau sudah tua. Namun jika sang ibu melakukan dengan sukarela dan senang hati, dalam keadaan sehat dan kuat, maka tidak mengapa.
  • Memberatkan orang tua dengan banyak permintaan.
Sebagian orang banyak menuntut orang tuanya dengan berbagai permintaan, padahal orang tuanya dalam keadaan tidak mampu. Ada anak yang meminta dibelikan baju-baju model baru, handphone baru, sepeda motor, atau lainnya. Bahkan ada seseorang sudah menikah, kemudian meminta orang tuanya untuk dibelikan mobil, atau dibuatkan rumah, atau meminta uang yang banyak, dan semacamnya.
  • Lebih mementingkan isteri daripada orang tua.
Sebagian orang lebih mentaati isterinya daripada mentaati kedua orang tuanya. Sebagian orang berlebihan dalam menampakkan kecintaan kepada isterinya di hadapan orang tua, tetapi pada waktu yang sama ia bersikap kasar kepada orang tuanya.
  • Meninggalkan orang tua ketika masa tua atau saat orang tua membutuhkan anaknya.
Sebagian anak ketika menginjak dewasa memiliki pekerjaan yang mengharuskannya untuk meninggalkan orang tuanya, lalu ia sibuk dengan urusannya sendiri. Sehingga sama sekali tidak melakukan kebaikan untuk orang tuanya, baik dengan doa, bantuan uang, tenaga, maupun lainnya.

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan seperti di atas dan semoga Allah memberikan orang tua kita kemuliaan dan memasukkan mereka kedalam surga bersama kita.

KOMENTAR